Cari disini...
Figur
Norma Pinustika, owner Omah Selada Tenggarong. (Foto: Aan/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Di tengah terik matahari Tenggarong yang kerap menyengat kulit, Kelurahan Maluhu menawarkan pemandangan berbeda. Di sana, di atas meja-meja instalasi sederhana, ribuan selada tumbuh subur hijau, segar, dan menjanjikan kehidupan.
Bagi sebagian besar anak muda kelahiran akhir 90-an, pertanian mungkin bukan pilihan karier yang seksi. Bayangan tentang lumpur, panas, dan ketidakpastian panen seringkali membuat profesi ini dikesampingkan demi mengejar pekerjaan kantoran. Namun, stigma itu tidak berlaku bagi Norma Pinustika.
Perempuan kelahiran 1997 ini memilih jalan sunyi yang jarang dilirik teman sebayanya. Tanpa latar belakang pendidikan pertanian yang mentereng, Norma membuktikan bahwa ketekunan adalah "ijazah" paling berharga di ladang kehidupan.
Bermula dari Modal Setengah Juta
Kisah ini bermula pada 2023. Saat itu, di RT 12, Jalan Long Bagun, Norma memberanikan diri memulai segalanya dari titik nol.
Tidak ada investor besar di belakangnya. Modalnya kala itu hanya Rp500 ribu, jumlah yang bagi sebagian orang mungkin habis dalam sekali belanja baju atau nongkrong di kafe. Namun di tangan Norma, uang itu berubah menjadi benih, nutrisi, dan harapan.
Ia memanfaatkan lahan miliknya yang berukuran 10x24 meter. Di sana, 12 meja tanam hidroponik didirikan. Norma paham betul, pertanian hidroponik bukan sekadar menaruh benih di atas air. Ada kesabaran yang diuji di sana.
Selama tujuh pekan, ia merawat selada-selada itu layaknya merawat bayi. Memastikan nutrisi cukup, menjaga pH air, dan menghalau hama. Proses panjang ini mengajarkannya satu hal: alam tidak bisa diburu-buru.
Cuan Mengalir Deras
Kerja keras yang dilakukan dalam diam itu akhirnya “pecah” juga. Dari lahan yang tak seberapa luas itu, Norma kini mampu memanen sekitar 370 bungkus selada dalam satu siklus.
Hitungan ekonominya pun menggiurkan. Dengan harga jual Rp8 ribu per bungkus atau Rp40 ribu per kilogram, selada Norma menjadi primadona baru. Pasaranya jelas: pedagang pasar tradisional hingga 13 pelaku UMKM di Kecamatan Tenggarong yang kini menjadi pelanggan setianya.
Tak puas hanya bertahan, Norma berekspansi. Ia menambah lahan baru berukuran 8x7 meter. Baginya, permintaan pasar adalah tantangan yang harus dijawab dengan kapasitas produksi.
Hasilnya tidak mengkhianati usaha. Omzet bulanannya kini menyentuh angka Rp7 hingga Rp10 juta. Angka yang cukup fantastis untuk usaha rumahan yang dikelola mandiri.
“Alhamdulillah, dengan hasil yang diperoleh saat ini sudah bisa mendirikan rumah, menambah lahan hidroponik, dan kebutuhan lainnya,” ujar Norma, Minggu (30/11/2025).
Tentu saja, perjalanan Norma bukan jalan tol yang bebas hambatan. Sebagai petani, ia harus berkawan akrab dengan ketidakpastian. Fluktuasi harga pasar yang kerap terjun bebas dan anomali cuaca adalah musuh yang nyata. Namun, alih-alih menyerah, Norma memilih beradaptasi.
Ia punya mimpi yang jauh lebih besar dari sekadar menjadi penyuplai lokal. “Saya ingin dapat menyuplai produk ke tingkat nasional di masa depan,” unkap Norma.
Kisah Norma adalah antitesis dari anggapan bahwa sukses harus melalui jalur formal yang kaku. Ia menampar gengsi anak muda yang seringkali malu untuk memulai usaha dari bawah.
Bagi Norma, kuncinya sederhana: buang rasa malu.
“Jangan malu, nikmati saja prosesnya,” pesannya menutup perbincangan.
Di Maluhu, selada-selada itu masih terus tumbuh, sama seperti mimpi Norma yang kian hari kian meninggi.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Figur

Norma Pinustika, owner Omah Selada Tenggarong. (Foto: Aan/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Di tengah terik matahari Tenggarong yang kerap menyengat kulit, Kelurahan Maluhu menawarkan pemandangan berbeda. Di sana, di atas meja-meja instalasi sederhana, ribuan selada tumbuh subur hijau, segar, dan menjanjikan kehidupan.
Bagi sebagian besar anak muda kelahiran akhir 90-an, pertanian mungkin bukan pilihan karier yang seksi. Bayangan tentang lumpur, panas, dan ketidakpastian panen seringkali membuat profesi ini dikesampingkan demi mengejar pekerjaan kantoran. Namun, stigma itu tidak berlaku bagi Norma Pinustika.
Perempuan kelahiran 1997 ini memilih jalan sunyi yang jarang dilirik teman sebayanya. Tanpa latar belakang pendidikan pertanian yang mentereng, Norma membuktikan bahwa ketekunan adalah "ijazah" paling berharga di ladang kehidupan.
Bermula dari Modal Setengah Juta
Kisah ini bermula pada 2023. Saat itu, di RT 12, Jalan Long Bagun, Norma memberanikan diri memulai segalanya dari titik nol.
Tidak ada investor besar di belakangnya. Modalnya kala itu hanya Rp500 ribu, jumlah yang bagi sebagian orang mungkin habis dalam sekali belanja baju atau nongkrong di kafe. Namun di tangan Norma, uang itu berubah menjadi benih, nutrisi, dan harapan.
Ia memanfaatkan lahan miliknya yang berukuran 10x24 meter. Di sana, 12 meja tanam hidroponik didirikan. Norma paham betul, pertanian hidroponik bukan sekadar menaruh benih di atas air. Ada kesabaran yang diuji di sana.
Selama tujuh pekan, ia merawat selada-selada itu layaknya merawat bayi. Memastikan nutrisi cukup, menjaga pH air, dan menghalau hama. Proses panjang ini mengajarkannya satu hal: alam tidak bisa diburu-buru.
Cuan Mengalir Deras
Kerja keras yang dilakukan dalam diam itu akhirnya “pecah” juga. Dari lahan yang tak seberapa luas itu, Norma kini mampu memanen sekitar 370 bungkus selada dalam satu siklus.
Hitungan ekonominya pun menggiurkan. Dengan harga jual Rp8 ribu per bungkus atau Rp40 ribu per kilogram, selada Norma menjadi primadona baru. Pasaranya jelas: pedagang pasar tradisional hingga 13 pelaku UMKM di Kecamatan Tenggarong yang kini menjadi pelanggan setianya.
Tak puas hanya bertahan, Norma berekspansi. Ia menambah lahan baru berukuran 8x7 meter. Baginya, permintaan pasar adalah tantangan yang harus dijawab dengan kapasitas produksi.
Hasilnya tidak mengkhianati usaha. Omzet bulanannya kini menyentuh angka Rp7 hingga Rp10 juta. Angka yang cukup fantastis untuk usaha rumahan yang dikelola mandiri.
“Alhamdulillah, dengan hasil yang diperoleh saat ini sudah bisa mendirikan rumah, menambah lahan hidroponik, dan kebutuhan lainnya,” ujar Norma, Minggu (30/11/2025).
Tentu saja, perjalanan Norma bukan jalan tol yang bebas hambatan. Sebagai petani, ia harus berkawan akrab dengan ketidakpastian. Fluktuasi harga pasar yang kerap terjun bebas dan anomali cuaca adalah musuh yang nyata. Namun, alih-alih menyerah, Norma memilih beradaptasi.
Ia punya mimpi yang jauh lebih besar dari sekadar menjadi penyuplai lokal. “Saya ingin dapat menyuplai produk ke tingkat nasional di masa depan,” unkap Norma.
Kisah Norma adalah antitesis dari anggapan bahwa sukses harus melalui jalur formal yang kaku. Ia menampar gengsi anak muda yang seringkali malu untuk memulai usaha dari bawah.
Bagi Norma, kuncinya sederhana: buang rasa malu.
“Jangan malu, nikmati saja prosesnya,” pesannya menutup perbincangan.
Di Maluhu, selada-selada itu masih terus tumbuh, sama seperti mimpi Norma yang kian hari kian meninggi.
(Sf/Rs)