Figur

    Muhammad Rusli Baraq Noor, Dermawan yang Ikut Menjaga Napas Pendidikan Muhammadiyah di Samarinda

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    25 September 2026 pukul 22:21 WITA

    Potret Alm. Muhammad Rusli Baraq Noor. (Dok: istimewa)

    Samarinda – Sosok H Muhammad Rusli Baraq Noor meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan pendidikan Muhammadiyah di Samarinda. Lahir pada 1953, almarhum wafat pada Rabu (23/9/2026) dalam usia 73 tahun.

    Semasa hidupnya, Muhammad Rusli dikenal keluarga sebagai salah satu sosok yang ikut menopang keberlanjutan pendidikan Muhammadiyah, khususnya SD Muhammadiyah 3 Samarinda. Dukungan itu diberikan melalui pendanaan, zakat, bantuan pembangunan hingga wakaf tanah.

    Bukan sebagai pendiri maupun kepala sekolah, kiprah almarhum justru terlihat dari perannya membantu sekolah bertahan dan berkembang, terutama ketika kebutuhan operasional masih sangat bergantung pada dukungan keluarga.

    Cerita tentang kiprah almarhum itu disampaikan H Rustam Baraq Noor, salah satu keluarga almarhum.

    Menurut Rustam, peran Muhammad Rusli cukup besar, terutama pada masa awal sekolah masih membutuhkan sokongan untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan operasional.

    SD Muhammadiyah 3 Samarinda sendiri berdiri sejak 1979. Sekolah tersebut didirikan oleh Udi Baraq Noor, sementara keluarga besar H Baraq menjadi bagian yang menopang pembiayaannya.

    Dalam perjalanan tersebut, Muhammad Rusli menjadi motor usaha perdagangan keluarga. Sebagian hasil usaha kemudian digunakan untuk membantu keberlangsungan sekolah, termasuk menopang gaji para guru.

    “Beliau tidak mendirikan sekolah. Beliau mendukung keberlangsungan sekolah. Karena orang bisa membangun, tetapi tiba-tiba tutup karena tidak bisa melanjutkan,” ujar Rustam, Jumat (25/9/2026).

    Selain membantu pembayaran gaji guru, dukungan almarhum juga diwujudkan melalui zakat. Zakat keluarga disalurkan untuk membantu operasional sekolah, termasuk diberikan kepada guru dan perangkat sekolah menjelang Lebaran.

    Perhatian almarhum tidak hanya tertuju pada sekolah. Hingga saat ini, dukungan terhadap operasional Masjid Al-Manshur juga masih diberikan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan listrik masjid.

    Jejak yang paling dikenang keluarga kemudian hadir dalam pengembangan pendidikan tingkat SMP.

    Sebagian tanah yang digunakan untuk pembangunan SMP Muhammadiyah 4 Samarinda diwakafkan oleh Muhammad Rusli. Sebagian lahan lainnya diperoleh melalui pembelian. Namun, bagi keluarga, keputusan almarhum mewakafkan tanah menjadi salah satu bentuk kepedulian yang paling membekas.

    “Yang paling berkesan adalah ketika SMP, beliau yang mewakafkan tanahnya,” kata Rustam.

    Tak hanya melalui pendanaan operasional, jejak dukungan Muhammad Rusli juga terlihat dalam pembangunan dan rehabilitasi gedung sekolah. Dalam sejumlah kegiatan rehab, almarhum beberapa kali memberikan bantuan dana dalam jumlah besar untuk memperbaiki fasilitas sekolah.

    Dukungan tersebut diarahkan untuk mempercepat proses pembangunan sekaligus menghadirkan ruang belajar yang lebih layak dan nyaman bagi siswa.

    Dukungan itu perlahan membantu sekolah berkembang hingga mampu lebih mandiri. Jika pada masa awal almarhum menjadi salah satu penopang utama pembiayaan, kini bantuan keluarga lebih bersifat tambahan.

    Bantuan rutin setiap bulan masih diberikan. Begitu pula zakat menjelang lebaran. Namun, dukungan tersebut tidak lagi menjadi sumber utama pembayaran gaji guru.

    “Kalau dulu bagian utama, kalau sekarang itu hanya suplemen, penambah. Tidak lagi karena sekolah alhamdulillah sudah bisa membangun dirinya sendiri,” jelas Rustam.

    Perkembangan sekolah juga tidak lepas dari dukungan pemerintah. Dua bangunan baru di lingkungan SD Muhammadiyah 3 disebut mendapat bantuan pemerintah melalui program revitalisasi.

    Saat ini jumlah siswa SD tersebut telah mencapai sekitar 600 orang. Pihak sekolah bahkan memiliki cita-cita mengembangkan kapasitas hingga 1.000 siswa.

    Namun, pengembangan fasilitas masih menghadapi tantangan. Lokasi sekolah yang berada di kawasan tepian sungai membuat kondisi tanah menjadi salah satu pertimbangan dalam pembangunan. Biaya konstruksi pun dinilai lebih besar dibandingkan lokasi dengan kondisi tanah yang lebih kuat.

    Ke depan, keluarga dan pihak sekolah juga memiliki keinginan mengembangkan jenjang pendidikan hingga SMA. Meski begitu, rencana tersebut masih membutuhkan persiapan, mulai dari bangunan, sumber daya manusia hingga pengelolaan operasional.

    Bagi keluarga, perjalanan Muhammad Rusli dalam mendukung pendidikan bukan tentang mendirikan sebuah sekolah. Jejaknya justru terlihat dari bagaimana ia membantu sekolah yang telah berdiri agar mampu bertahan, berkembang dan akhirnya membangun kemandiriannya.

    (Sf/Lo)

    Figur

    Muhammad Rusli Baraq Noor, Dermawan yang Ikut Menjaga Napas Pendidikan Muhammadiyah di Samarinda

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    25 September 2026 pukul 22:21 WITA

    Potret Alm. Muhammad Rusli Baraq Noor. (Dok: istimewa)

    Samarinda – Sosok H Muhammad Rusli Baraq Noor meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan pendidikan Muhammadiyah di Samarinda. Lahir pada 1953, almarhum wafat pada Rabu (23/9/2026) dalam usia 73 tahun.

    Semasa hidupnya, Muhammad Rusli dikenal keluarga sebagai salah satu sosok yang ikut menopang keberlanjutan pendidikan Muhammadiyah, khususnya SD Muhammadiyah 3 Samarinda. Dukungan itu diberikan melalui pendanaan, zakat, bantuan pembangunan hingga wakaf tanah.

    Bukan sebagai pendiri maupun kepala sekolah, kiprah almarhum justru terlihat dari perannya membantu sekolah bertahan dan berkembang, terutama ketika kebutuhan operasional masih sangat bergantung pada dukungan keluarga.

    Cerita tentang kiprah almarhum itu disampaikan H Rustam Baraq Noor, salah satu keluarga almarhum.

    Menurut Rustam, peran Muhammad Rusli cukup besar, terutama pada masa awal sekolah masih membutuhkan sokongan untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan operasional.

    SD Muhammadiyah 3 Samarinda sendiri berdiri sejak 1979. Sekolah tersebut didirikan oleh Udi Baraq Noor, sementara keluarga besar H Baraq menjadi bagian yang menopang pembiayaannya.

    Dalam perjalanan tersebut, Muhammad Rusli menjadi motor usaha perdagangan keluarga. Sebagian hasil usaha kemudian digunakan untuk membantu keberlangsungan sekolah, termasuk menopang gaji para guru.

    “Beliau tidak mendirikan sekolah. Beliau mendukung keberlangsungan sekolah. Karena orang bisa membangun, tetapi tiba-tiba tutup karena tidak bisa melanjutkan,” ujar Rustam, Jumat (25/9/2026).

    Selain membantu pembayaran gaji guru, dukungan almarhum juga diwujudkan melalui zakat. Zakat keluarga disalurkan untuk membantu operasional sekolah, termasuk diberikan kepada guru dan perangkat sekolah menjelang Lebaran.

    Perhatian almarhum tidak hanya tertuju pada sekolah. Hingga saat ini, dukungan terhadap operasional Masjid Al-Manshur juga masih diberikan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan listrik masjid.

    Jejak yang paling dikenang keluarga kemudian hadir dalam pengembangan pendidikan tingkat SMP.

    Sebagian tanah yang digunakan untuk pembangunan SMP Muhammadiyah 4 Samarinda diwakafkan oleh Muhammad Rusli. Sebagian lahan lainnya diperoleh melalui pembelian. Namun, bagi keluarga, keputusan almarhum mewakafkan tanah menjadi salah satu bentuk kepedulian yang paling membekas.

    “Yang paling berkesan adalah ketika SMP, beliau yang mewakafkan tanahnya,” kata Rustam.

    Tak hanya melalui pendanaan operasional, jejak dukungan Muhammad Rusli juga terlihat dalam pembangunan dan rehabilitasi gedung sekolah. Dalam sejumlah kegiatan rehab, almarhum beberapa kali memberikan bantuan dana dalam jumlah besar untuk memperbaiki fasilitas sekolah.

    Dukungan tersebut diarahkan untuk mempercepat proses pembangunan sekaligus menghadirkan ruang belajar yang lebih layak dan nyaman bagi siswa.

    Dukungan itu perlahan membantu sekolah berkembang hingga mampu lebih mandiri. Jika pada masa awal almarhum menjadi salah satu penopang utama pembiayaan, kini bantuan keluarga lebih bersifat tambahan.

    Bantuan rutin setiap bulan masih diberikan. Begitu pula zakat menjelang lebaran. Namun, dukungan tersebut tidak lagi menjadi sumber utama pembayaran gaji guru.

    “Kalau dulu bagian utama, kalau sekarang itu hanya suplemen, penambah. Tidak lagi karena sekolah alhamdulillah sudah bisa membangun dirinya sendiri,” jelas Rustam.

    Perkembangan sekolah juga tidak lepas dari dukungan pemerintah. Dua bangunan baru di lingkungan SD Muhammadiyah 3 disebut mendapat bantuan pemerintah melalui program revitalisasi.

    Saat ini jumlah siswa SD tersebut telah mencapai sekitar 600 orang. Pihak sekolah bahkan memiliki cita-cita mengembangkan kapasitas hingga 1.000 siswa.

    Namun, pengembangan fasilitas masih menghadapi tantangan. Lokasi sekolah yang berada di kawasan tepian sungai membuat kondisi tanah menjadi salah satu pertimbangan dalam pembangunan. Biaya konstruksi pun dinilai lebih besar dibandingkan lokasi dengan kondisi tanah yang lebih kuat.

    Ke depan, keluarga dan pihak sekolah juga memiliki keinginan mengembangkan jenjang pendidikan hingga SMA. Meski begitu, rencana tersebut masih membutuhkan persiapan, mulai dari bangunan, sumber daya manusia hingga pengelolaan operasional.

    Bagi keluarga, perjalanan Muhammad Rusli dalam mendukung pendidikan bukan tentang mendirikan sebuah sekolah. Jejaknya justru terlihat dari bagaimana ia membantu sekolah yang telah berdiri agar mampu bertahan, berkembang dan akhirnya membangun kemandiriannya.

    (Sf/Lo)