Mengenal Sosok Bripka Taufik Polisi  Pemerhati Lingkungan

    Seputarfakta.com - Maya Sari -

    Figur

    17 Maret 2024 05:06 WIB

    Bripka Taufik Ismail saat menerima penghargaan dari wali kota Balikpapan sebagai warga peduli lingkungan kategoru kesehatan lingkungan dan pengelolaan sampah. (Foto: Taufik/Seputarfakta.com)

    Bagi para pemerhati lingkungan di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), nama anggota Ditpolairud Polda Kaltim Bripka Taufik Ismail,  sudah tidak asing lagi didengar. 

    Pasalnya, pria kelahiran Temanggung tahun 1979 ini tidak hanya menekuni profesinya sebagai anggota Polri, namun juga seorang pemerhati lingkungan, khususnya di area pesisir dan mangrove.

    Taufik mengakui, kebersihan sudah menjadi budaya yang menancap di dadanya sejak duduk di bangku SMA.

    "Saya itu sekolah di SMA Muhammadiyah Magelang dan saya juga bagian dari pesantrennya. Kebiasaan bersih-bersih sudah tumbuh sejak saya berada disana (pesantren, red)," ucap Taufik saat berbincang santai.

    Kemauan untuk bersih-bersih ini dilakukan karena pesantrennya sering kedatangan tamu, sehingga tempat itu harus selalu terlihat bersih. Baginya, jika tidak bersih maka akan malu sendiri.

    "Kalau nggak bersihkan kami malu karena kami yang tertua, jadi kami yang membersihkan. Akhirnya terbiasa sampai sekarang," jelasnya.

    Berkeinginan menjadi Polri merupakan cita-citanya sejak masih berada di pesantren. Bahkan di saat memasuki akhir masa pesantrennya, dia sudah memantapkan diri untuk mendaftar. Meski ia sempat diminta kyainya untuk menjadi penerus di pesantren, karena tekad yang kuat ia pun nekat untuk terus mengejar cita-citanya.

    Ditanya faktor yang mendorong dia bersikukuh masuk sebagai anggota militer, Taufik menjawab, kakeknya yang menjadi alasan dia harus bergabung.

    Kakeknya Taufik hilang di masa-masa perebutan Papua Barat. Ketegangan konflik membenamkan kakeknya. Tak ada kejelasan atau kabar hingga hari ini.

    "Dari situ saya pengin melihat bagaimana sih daerah konflik di Indonesia, kok sampai sebegitunya," imbuhnya.

    Namun dalam perjalanannya, Taufik berubah haluan. Semula ingin mendaftar TNI AD, namun kemudian tertarik menjadi personel Brimob. ia pun mendaftar di Semarang dan diterima.

    "Dan dulu kebetulan saya atlet lari, jadi pas lari juara terus. Dari situ mungkin nilainya terkatrol tinggi, akhirnya diterima. Dan saya pendidikan di Jakarta," kenangnya.

    Sayangnya nasib tak berpihak dengannya. Tepat 22 tahun silam, ia menyelesaikan pendidikan namun rupanya harus ditempatkan di Balikpapan sebagai bagian dari Ditpolairud Polda Kaltim.

    "Saya dari tahun 2000. Penempatan pertama langsung di Balikpapan, selesai dari Jakarta. Dulu masih Satpolair Polda Kaltim," terangnya.

    Hingga sekarang, Ditpolairud Polda Kaltim bagi Taufik sudah seperti rumah. Tempat bernaung sekaligus mengabdi. Dalam perjalanannya, dia bahkan sudah mengantongi sertifikat penyelam.

    Puluhan tahun mengabdi, membuatnya sedikit banyak menempatkan diri untuk konsen terhadap kebersihan pesisir dan perkembangbiakan mangrove.

    Dengan bermodal biaya sendiri, sedikit demi sedikit ia mulai kerap menanam bibit mangrove. Sesekali urunan dengan petani mangrove.

    Kegigihan itu membawanya mendapatkan berbagai penghargaan dari tingkat kabupaten/kota hingga tingkat nasional. Mulai dari Kabaharkam, Polda Kaltim, Pemerintah Provinsi Kaltim hingga Pemkot Balikpapan menganugerahinya penghargaan sebagai Warga Peduli Lingkungan dari Pengelolaan Sampah dan Mangrove.

    "Kenapa saya konsen pada lingkungan, karena saya yakin bahwa kondisi geografis pesisir Kaltim rawan terhadap abrasi," terangnya.

    Taufik berkesimpulan, jika abrasi tak dilakukan pencegahan sedari dini, berpotensi memicu bencana yang justru membahayakan masyarakat, terutama yang tinggal di pesisir.

    Hal tersebut ia lakukan sebagai warga biasa yang kebetulan memang memiliki fungsi di perairan sebagai anggota Ditpolairud Polda Kaltim.

    Hingga kini, Taufik dikenal sebagai sosok pemerhati mangrove. Ditanya rencana ke depan, ia mengaku ingin membentuk tim yang bisa mengedukasi masyarakat dari setingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sarjana.

    "Untuk mengenalkan mangrove ini. Supaya mereka tertarik dan mau bergabung untuk mengikuti kegiatan saya," ucapnya.

    Kabar baiknya, kata dia, rencana itu bagaikan bersambut gayung. Beberapa sekolah dan perguruan tinggi mulai melayangkan undangan untuk melakukan edukasi terkait mangrove.

    "Alhamdulillah sudah banyak sekolah yang minta. Beberapa waktu lalu, saya jadi narasumber di Uniba terkait pesisir dan mangrove," tuturnya.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Mengenal Sosok Bripka Taufik Polisi  Pemerhati Lingkungan

    Seputarfakta.com - Maya Sari -

    Figur

    17 Maret 2024 05:06 WIB

    Bripka Taufik Ismail saat menerima penghargaan dari wali kota Balikpapan sebagai warga peduli lingkungan kategoru kesehatan lingkungan dan pengelolaan sampah. (Foto: Taufik/Seputarfakta.com)

    Bagi para pemerhati lingkungan di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), nama anggota Ditpolairud Polda Kaltim Bripka Taufik Ismail,  sudah tidak asing lagi didengar. 

    Pasalnya, pria kelahiran Temanggung tahun 1979 ini tidak hanya menekuni profesinya sebagai anggota Polri, namun juga seorang pemerhati lingkungan, khususnya di area pesisir dan mangrove.

    Taufik mengakui, kebersihan sudah menjadi budaya yang menancap di dadanya sejak duduk di bangku SMA.

    "Saya itu sekolah di SMA Muhammadiyah Magelang dan saya juga bagian dari pesantrennya. Kebiasaan bersih-bersih sudah tumbuh sejak saya berada disana (pesantren, red)," ucap Taufik saat berbincang santai.

    Kemauan untuk bersih-bersih ini dilakukan karena pesantrennya sering kedatangan tamu, sehingga tempat itu harus selalu terlihat bersih. Baginya, jika tidak bersih maka akan malu sendiri.

    "Kalau nggak bersihkan kami malu karena kami yang tertua, jadi kami yang membersihkan. Akhirnya terbiasa sampai sekarang," jelasnya.

    Berkeinginan menjadi Polri merupakan cita-citanya sejak masih berada di pesantren. Bahkan di saat memasuki akhir masa pesantrennya, dia sudah memantapkan diri untuk mendaftar. Meski ia sempat diminta kyainya untuk menjadi penerus di pesantren, karena tekad yang kuat ia pun nekat untuk terus mengejar cita-citanya.

    Ditanya faktor yang mendorong dia bersikukuh masuk sebagai anggota militer, Taufik menjawab, kakeknya yang menjadi alasan dia harus bergabung.

    Kakeknya Taufik hilang di masa-masa perebutan Papua Barat. Ketegangan konflik membenamkan kakeknya. Tak ada kejelasan atau kabar hingga hari ini.

    "Dari situ saya pengin melihat bagaimana sih daerah konflik di Indonesia, kok sampai sebegitunya," imbuhnya.

    Namun dalam perjalanannya, Taufik berubah haluan. Semula ingin mendaftar TNI AD, namun kemudian tertarik menjadi personel Brimob. ia pun mendaftar di Semarang dan diterima.

    "Dan dulu kebetulan saya atlet lari, jadi pas lari juara terus. Dari situ mungkin nilainya terkatrol tinggi, akhirnya diterima. Dan saya pendidikan di Jakarta," kenangnya.

    Sayangnya nasib tak berpihak dengannya. Tepat 22 tahun silam, ia menyelesaikan pendidikan namun rupanya harus ditempatkan di Balikpapan sebagai bagian dari Ditpolairud Polda Kaltim.

    "Saya dari tahun 2000. Penempatan pertama langsung di Balikpapan, selesai dari Jakarta. Dulu masih Satpolair Polda Kaltim," terangnya.

    Hingga sekarang, Ditpolairud Polda Kaltim bagi Taufik sudah seperti rumah. Tempat bernaung sekaligus mengabdi. Dalam perjalanannya, dia bahkan sudah mengantongi sertifikat penyelam.

    Puluhan tahun mengabdi, membuatnya sedikit banyak menempatkan diri untuk konsen terhadap kebersihan pesisir dan perkembangbiakan mangrove.

    Dengan bermodal biaya sendiri, sedikit demi sedikit ia mulai kerap menanam bibit mangrove. Sesekali urunan dengan petani mangrove.

    Kegigihan itu membawanya mendapatkan berbagai penghargaan dari tingkat kabupaten/kota hingga tingkat nasional. Mulai dari Kabaharkam, Polda Kaltim, Pemerintah Provinsi Kaltim hingga Pemkot Balikpapan menganugerahinya penghargaan sebagai Warga Peduli Lingkungan dari Pengelolaan Sampah dan Mangrove.

    "Kenapa saya konsen pada lingkungan, karena saya yakin bahwa kondisi geografis pesisir Kaltim rawan terhadap abrasi," terangnya.

    Taufik berkesimpulan, jika abrasi tak dilakukan pencegahan sedari dini, berpotensi memicu bencana yang justru membahayakan masyarakat, terutama yang tinggal di pesisir.

    Hal tersebut ia lakukan sebagai warga biasa yang kebetulan memang memiliki fungsi di perairan sebagai anggota Ditpolairud Polda Kaltim.

    Hingga kini, Taufik dikenal sebagai sosok pemerhati mangrove. Ditanya rencana ke depan, ia mengaku ingin membentuk tim yang bisa mengedukasi masyarakat dari setingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sarjana.

    "Untuk mengenalkan mangrove ini. Supaya mereka tertarik dan mau bergabung untuk mengikuti kegiatan saya," ucapnya.

    Kabar baiknya, kata dia, rencana itu bagaikan bersambut gayung. Beberapa sekolah dan perguruan tinggi mulai melayangkan undangan untuk melakukan edukasi terkait mangrove.

    "Alhamdulillah sudah banyak sekolah yang minta. Beberapa waktu lalu, saya jadi narasumber di Uniba terkait pesisir dan mangrove," tuturnya.

    (Sf/Rs)