Cari disini...
Figur
Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kutai Kartanegara (Kukar), Tengku Firdaus. (Foto: M.anshori/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Tengku Firdaus, pria kelahiran 1975 yang kini menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kutai Kartanegara (Kukar), memiliki perjalanan hidup yang menarik untuk disimak.
Di usianya yang ke-50, ia menyimpan banyak pengalaman hingga cerita inspiratif yang membentuk dirinya hingga sekarang.
Tengku Firdaus merupakan anak ketiga dari enam bersaudara, mempunyai dua orang anak hasil dari pernikahan dengan sang istri. Sejak kecil hingga kuliah, Tengku menempuh pendidikan sekolah di Pekanbaru. S1 di Universitas Islam Riau, lalu melanjutkan S2 di Universitas Surabaya.
Lahir dari keluarga sederhana dan tidak memiliki latar belakang ilmu hukum, Ayah dan Ibunya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Riau. Dia memberanikan diri mengambil keputusan untuk menempuh dan menyelesaikan studi hukum pada 2001.
“Saat itu ada kesempatan pembukaan penerimaan di institusi kejaksaan, motivasi masuk kerja ke kejaksaan itu sesuai disiplin ilmu saya. Basic saya sarjana hukum dan kebetulan pas selesai kuliah ada pembukaan kejaksaan, jadi saya putuskan ikut dan diterima,” ucapnya.
Sejak itu perjalanan panjang kariernya dimulai. Ia pertama kali bertugas di Indrapura, kemudian berpindah-pindah penempatan di berbagai daerah seperti Riau, Jawa Timur, Tanjung Perak, Batam, Lampung, Kalimantan Barat, Jombang, hingga akhirnya mendapat amanah sebagai Kajari Kukar. "Kukar jadi tempat ke-14 saya," tambahnya.
Perjalanan karir Tengku Firdaus tak lepas dari sosok seseorang yang sangat menginspirasi hidupnya, yakni Presiden ketiga Indonesia, BJ Habibie. Menurutnya, Habibie adalah figur yang luar biasa, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia.
BJ Habibie merupakan tokoh bangsa yang luar biasa, humble, cerdas, nasionalis. Tidak ada sosok yang bisa menggantikan BJ Habibie, ia memiliki pemahaman agama yang bagus, karirnya melonjak tinggi dan antikorupsi. Bahkan sampai pendidikan anak-anaknya pun bagus. Itu yang membuat Tengku mengidolakannya.
Tidak hanya sekadar mengagumi, Tengku juga rajin menonton film-film tentang Habibie dan mengoleksi buku mengenai sang tokoh. Kekaguman itu bukan hanya karena prestasi intelektual Habibie, melainkan karena integritasnya yang tetap terjaga hingga akhir hayat.
Meski baru dua bulan menjabat sebagai Kajari Kukar, Tengku Firdaus sudah merasa betah. Menurutnya Kukar mempunyai suasana yang ramah dan menyenangkan, membuatnya seolah-olah kembali ke kampung halaman.
“Saya cocok dengan suasana di sini. Kota ini mirip dengan Sanggau, tapi jauh lebih besar,” ujarnya.
Kesamaan budaya dan kuliner membuatnya semakin nyaman, sebagai orang Melayu, ia merasa dekat dengan masakan khas Kukar.
“Masakannya banyak yang mirip. Ada ikan baung, patin dan cocok semua dengan selera saya. Persis seperti di kampung. Masyarakatnya juga bersahabat, tenang dan nyaman,” tambahnya.
Tengku Firdaus merupakan sosok yang menjunjung tinggi integritas, kerja keras dan kesederhanaan. Dengan menginspirasikan sosok seorang BJ Habibie, ia menekankan pentingnya menjaga kejujuran dan menghindari korupsi.
Sebagai jaksa, tentu mempunyai banyak tantangan yang harus dihadapinya, apalagi saat menjabat sebagai pimpinan di sebuah wilayah besar seperti Kukar yang kaya sumber daya. Kepercayaan publik menjadi taruhannya, ia berkomitmen menjalankan tugas dengan amanah.
Perjalanan hidup Tengku Firdaus adalah kisah tentang kerja keras, dedikasi dan komitmen terhadap integritas. Ia berusaha menjadikan dirinya sebagai jaksa yang tegas, pribadi yang sederhan dan penuh semangat dalam bekerja.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Figur

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kutai Kartanegara (Kukar), Tengku Firdaus. (Foto: M.anshori/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Tengku Firdaus, pria kelahiran 1975 yang kini menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kutai Kartanegara (Kukar), memiliki perjalanan hidup yang menarik untuk disimak.
Di usianya yang ke-50, ia menyimpan banyak pengalaman hingga cerita inspiratif yang membentuk dirinya hingga sekarang.
Tengku Firdaus merupakan anak ketiga dari enam bersaudara, mempunyai dua orang anak hasil dari pernikahan dengan sang istri. Sejak kecil hingga kuliah, Tengku menempuh pendidikan sekolah di Pekanbaru. S1 di Universitas Islam Riau, lalu melanjutkan S2 di Universitas Surabaya.
Lahir dari keluarga sederhana dan tidak memiliki latar belakang ilmu hukum, Ayah dan Ibunya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Riau. Dia memberanikan diri mengambil keputusan untuk menempuh dan menyelesaikan studi hukum pada 2001.
“Saat itu ada kesempatan pembukaan penerimaan di institusi kejaksaan, motivasi masuk kerja ke kejaksaan itu sesuai disiplin ilmu saya. Basic saya sarjana hukum dan kebetulan pas selesai kuliah ada pembukaan kejaksaan, jadi saya putuskan ikut dan diterima,” ucapnya.
Sejak itu perjalanan panjang kariernya dimulai. Ia pertama kali bertugas di Indrapura, kemudian berpindah-pindah penempatan di berbagai daerah seperti Riau, Jawa Timur, Tanjung Perak, Batam, Lampung, Kalimantan Barat, Jombang, hingga akhirnya mendapat amanah sebagai Kajari Kukar. "Kukar jadi tempat ke-14 saya," tambahnya.
Perjalanan karir Tengku Firdaus tak lepas dari sosok seseorang yang sangat menginspirasi hidupnya, yakni Presiden ketiga Indonesia, BJ Habibie. Menurutnya, Habibie adalah figur yang luar biasa, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia.
BJ Habibie merupakan tokoh bangsa yang luar biasa, humble, cerdas, nasionalis. Tidak ada sosok yang bisa menggantikan BJ Habibie, ia memiliki pemahaman agama yang bagus, karirnya melonjak tinggi dan antikorupsi. Bahkan sampai pendidikan anak-anaknya pun bagus. Itu yang membuat Tengku mengidolakannya.
Tidak hanya sekadar mengagumi, Tengku juga rajin menonton film-film tentang Habibie dan mengoleksi buku mengenai sang tokoh. Kekaguman itu bukan hanya karena prestasi intelektual Habibie, melainkan karena integritasnya yang tetap terjaga hingga akhir hayat.
Meski baru dua bulan menjabat sebagai Kajari Kukar, Tengku Firdaus sudah merasa betah. Menurutnya Kukar mempunyai suasana yang ramah dan menyenangkan, membuatnya seolah-olah kembali ke kampung halaman.
“Saya cocok dengan suasana di sini. Kota ini mirip dengan Sanggau, tapi jauh lebih besar,” ujarnya.
Kesamaan budaya dan kuliner membuatnya semakin nyaman, sebagai orang Melayu, ia merasa dekat dengan masakan khas Kukar.
“Masakannya banyak yang mirip. Ada ikan baung, patin dan cocok semua dengan selera saya. Persis seperti di kampung. Masyarakatnya juga bersahabat, tenang dan nyaman,” tambahnya.
Tengku Firdaus merupakan sosok yang menjunjung tinggi integritas, kerja keras dan kesederhanaan. Dengan menginspirasikan sosok seorang BJ Habibie, ia menekankan pentingnya menjaga kejujuran dan menghindari korupsi.
Sebagai jaksa, tentu mempunyai banyak tantangan yang harus dihadapinya, apalagi saat menjabat sebagai pimpinan di sebuah wilayah besar seperti Kukar yang kaya sumber daya. Kepercayaan publik menjadi taruhannya, ia berkomitmen menjalankan tugas dengan amanah.
Perjalanan hidup Tengku Firdaus adalah kisah tentang kerja keras, dedikasi dan komitmen terhadap integritas. Ia berusaha menjadikan dirinya sebagai jaksa yang tegas, pribadi yang sederhan dan penuh semangat dalam bekerja.
(Sf/Lo)