Figur
M. Daud tetap memilih berada di garis depan untuk membantu memadamkan kebakaran di Kota Balikpapan. (Foto: Daud/seputarfakta.com)
Balikpapan - Menjadi relawan kebakaran bukan pekerjaan yang mudah. Tanpa gaji, dengan peralatan seadanya, serta harus menghadapi panas dan asap, M Daud tetap memilih berada di garis depan untuk membantu memadamkan kebakaran di Kota Balikpapan.
“Orang banyak bertanya, enakkah menjadi relawan? Tidak digaji, panas-panasan. Saya jawab, tidak enak, tetapi mulia,” ujar Daud saat dihubungi media seputarfakta.com, Selasa (27/10/2026).
Bagi Daud, kebakaran bisa terjadi kapan saja. Tidak jarang, sirene berbunyi saat tengah malam atau ketika ia sedang makan. Begitu mendapat panggilan, ia bersama rekan-rekannya segera bersiap menuju lokasi kebakaran.
Sebagai relawan, mereka harus bekerja dengan keterbatasan peralatan dan tenaga. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk membantu masyarakat yang terdampak kebakaran.
“Saya M Daud. Saya bukan pahlawan. Saya hanya relawan yang tidak bisa diam saat kota saya terbakar,” tegasnya.
Pengalaman menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu tantangan berat bagi Daud. Ia mengaku pernah merasakan langsung panas api yang menyengat wajah, sementara asap membuatnya batuk sepanjang hari.
Menurut Daud, penanganan karhutla memiliki tantangan berbeda dibandingkan kebakaran rumah. Api tidak hanya terlihat di permukaan, tetapi juga dapat merambat melalui akar dan ilalang kering. Angin pun dapat membuat api kembali menyala di lokasi yang sebelumnya telah dipadamkan.
“Kami padamkan di sini, tetapi 10 meter dari sana bisa menyala lagi karena angin. Mata perih, jarak pandang hanya dua sampai tiga meter dan napas sesak meskipun sudah memakai masker,” akunya.
Selain panas dan asap, keterbatasan pasokan air menjadi kendala dalam pemadaman. Lokasi karhutla yang jauh dari hidran membuat relawan harus mengangkut air secara bergantian menggunakan mobil pikap bertangki. Dalam kondisi tertentu, mereka juga harus mengambil air dari parit.
Pemadaman pun tidak cukup dilakukan dengan menyiram api di permukaan. Bara yang masih tertinggal di dalam tanah harus dipastikan benar-benar padam agar api tidak kembali muncul.
“Kalau tidak kami bongkar menggunakan cangkul dan sekop, besok pagi bisa menyala lagi,” ujarnya.
Tantangan lainnya adalah kondisi medan. Sejumlah lokasi kebakaran berada di lahan bekas tambang dan kawasan yang dipenuhi semak belukar, dengan akses berupa jalan tanah yang sulit dilalui kendaraan besar.
Akibatnya, relawan harus berjalan kaki sambil membawa selang dan jetshooter, alat penyemprot air yang digendong di punggung dengan kapasitas sekitar 15 liter.
Beban peralatan, suhu panas dan asap menjadi tantangan yang harus dihadapi selama proses pemadaman berlangsung.
Daud mengakui rasa takut tetap ada, terutama ketika menghadapi kemungkinan terkepung api atau mengalami sesak napas akibat asap. Namun saat berada di lokasi, ia berusaha tetap fokus pada upaya mencegah api menjalar ke permukiman warga.
“Jujur, takut itu ada. Takut terkepung api, takut pingsan karena asap. Tetapi saat di lapangan, yang ada di pikiran hanya satu: jangan sampai api masuk ke permukiman,” ungkapnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Menurut Daud, sejumlah lahan yang terbakar di Balikpapan berada tidak jauh dari rumah warga. Jika api meluas, dampaknya dapat mengancam banyak keluarga dalam satu kawasan permukiman.
Untuk mencegah hal tersebut, relawan berupaya menahan pergerakan api dengan membuat sekat bakar dan menyiram area di sekitar titik kebakaran.
“Proses pemadaman dilanjutkan hingga api dan bara dipastikan tidak lagi menyala,” lanjutnya.
Setelah berjibaku di lokasi kebakaran, kelelahan biasanya baru terasa ketika ia dan rekan-rekannya kembali ke posko. Seragam yang dikenakan menghitam akibat abu, pakaian basah oleh keringat dan air, sementara tubuh masih menyimpan lelah setelah berjam-jam bekerja.
Mereka tidak menerima gaji atas pengabdian tersebut. Namun, bagi Daud, ada kepuasan tersendiri ketika kebakaran berhasil dikendalikan dan warga terhindar dari ancaman api.
“Capeknya baru terasa saat sudah di posko. Duduk, buka helm, lalu minum air putih. Baju sudah hitam semua kena abu. Tetapi ada rasa lega karena hari itu Balikpapan bisa bernapas lagi,” paparnya.
Baginya, menjadi relawan bukan tentang mendapatkan imbalan, melainkan tentang keberanian untuk membantu ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Di tengah keterbatasan peralatan dan beratnya medan, ia bersama rekan-rekannya terus berupaya memadamkan api demi melindungi permukiman dan keselamatan warga Balikpapan.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Figur

M. Daud tetap memilih berada di garis depan untuk membantu memadamkan kebakaran di Kota Balikpapan. (Foto: Daud/seputarfakta.com)
Balikpapan - Menjadi relawan kebakaran bukan pekerjaan yang mudah. Tanpa gaji, dengan peralatan seadanya, serta harus menghadapi panas dan asap, M Daud tetap memilih berada di garis depan untuk membantu memadamkan kebakaran di Kota Balikpapan.
“Orang banyak bertanya, enakkah menjadi relawan? Tidak digaji, panas-panasan. Saya jawab, tidak enak, tetapi mulia,” ujar Daud saat dihubungi media seputarfakta.com, Selasa (27/10/2026).
Bagi Daud, kebakaran bisa terjadi kapan saja. Tidak jarang, sirene berbunyi saat tengah malam atau ketika ia sedang makan. Begitu mendapat panggilan, ia bersama rekan-rekannya segera bersiap menuju lokasi kebakaran.
Sebagai relawan, mereka harus bekerja dengan keterbatasan peralatan dan tenaga. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk membantu masyarakat yang terdampak kebakaran.
“Saya M Daud. Saya bukan pahlawan. Saya hanya relawan yang tidak bisa diam saat kota saya terbakar,” tegasnya.
Pengalaman menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu tantangan berat bagi Daud. Ia mengaku pernah merasakan langsung panas api yang menyengat wajah, sementara asap membuatnya batuk sepanjang hari.
Menurut Daud, penanganan karhutla memiliki tantangan berbeda dibandingkan kebakaran rumah. Api tidak hanya terlihat di permukaan, tetapi juga dapat merambat melalui akar dan ilalang kering. Angin pun dapat membuat api kembali menyala di lokasi yang sebelumnya telah dipadamkan.
“Kami padamkan di sini, tetapi 10 meter dari sana bisa menyala lagi karena angin. Mata perih, jarak pandang hanya dua sampai tiga meter dan napas sesak meskipun sudah memakai masker,” akunya.
Selain panas dan asap, keterbatasan pasokan air menjadi kendala dalam pemadaman. Lokasi karhutla yang jauh dari hidran membuat relawan harus mengangkut air secara bergantian menggunakan mobil pikap bertangki. Dalam kondisi tertentu, mereka juga harus mengambil air dari parit.
Pemadaman pun tidak cukup dilakukan dengan menyiram api di permukaan. Bara yang masih tertinggal di dalam tanah harus dipastikan benar-benar padam agar api tidak kembali muncul.
“Kalau tidak kami bongkar menggunakan cangkul dan sekop, besok pagi bisa menyala lagi,” ujarnya.
Tantangan lainnya adalah kondisi medan. Sejumlah lokasi kebakaran berada di lahan bekas tambang dan kawasan yang dipenuhi semak belukar, dengan akses berupa jalan tanah yang sulit dilalui kendaraan besar.
Akibatnya, relawan harus berjalan kaki sambil membawa selang dan jetshooter, alat penyemprot air yang digendong di punggung dengan kapasitas sekitar 15 liter.
Beban peralatan, suhu panas dan asap menjadi tantangan yang harus dihadapi selama proses pemadaman berlangsung.
Daud mengakui rasa takut tetap ada, terutama ketika menghadapi kemungkinan terkepung api atau mengalami sesak napas akibat asap. Namun saat berada di lokasi, ia berusaha tetap fokus pada upaya mencegah api menjalar ke permukiman warga.
“Jujur, takut itu ada. Takut terkepung api, takut pingsan karena asap. Tetapi saat di lapangan, yang ada di pikiran hanya satu: jangan sampai api masuk ke permukiman,” ungkapnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Menurut Daud, sejumlah lahan yang terbakar di Balikpapan berada tidak jauh dari rumah warga. Jika api meluas, dampaknya dapat mengancam banyak keluarga dalam satu kawasan permukiman.
Untuk mencegah hal tersebut, relawan berupaya menahan pergerakan api dengan membuat sekat bakar dan menyiram area di sekitar titik kebakaran.
“Proses pemadaman dilanjutkan hingga api dan bara dipastikan tidak lagi menyala,” lanjutnya.
Setelah berjibaku di lokasi kebakaran, kelelahan biasanya baru terasa ketika ia dan rekan-rekannya kembali ke posko. Seragam yang dikenakan menghitam akibat abu, pakaian basah oleh keringat dan air, sementara tubuh masih menyimpan lelah setelah berjam-jam bekerja.
Mereka tidak menerima gaji atas pengabdian tersebut. Namun, bagi Daud, ada kepuasan tersendiri ketika kebakaran berhasil dikendalikan dan warga terhindar dari ancaman api.
“Capeknya baru terasa saat sudah di posko. Duduk, buka helm, lalu minum air putih. Baju sudah hitam semua kena abu. Tetapi ada rasa lega karena hari itu Balikpapan bisa bernapas lagi,” paparnya.
Baginya, menjadi relawan bukan tentang mendapatkan imbalan, melainkan tentang keberanian untuk membantu ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Di tengah keterbatasan peralatan dan beratnya medan, ia bersama rekan-rekannya terus berupaya memadamkan api demi melindungi permukiman dan keselamatan warga Balikpapan.
(Sf/Lo)