Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Figur
Aulia Furqon pemuda inspiratif dan Aktivis lingkungan. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Di tengah gencarnya isu lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, nama Aulia Furqon muncul sebagai salah satu pemuda inspiratif yang gigih memperjuangkan kelestarian alam.
Berawal dari ketertarikannya pada dunia kehutanan, perjalanan Furqon membawanya hingga ke forum internasional Conference of the Parties (COP) 29 di Baku, Azerbaijan.
Aulia Furqon asal Samarinda kini telah melanglang buana memiliki titik awal dalam memulai perjuangannya terhadap lingkungan.
Pertama kali menemukan ketertarikannya pada isu lingkungan sejak duduk di bangku SMA. Saat itu, ia masih bingung menentukan jurusan kuliah. Atas saran guru BK-nya, ia memilih bidang kehutanan karena kecenderungannya yang kuat di pelajaran sains, terutama biologi.
Keputusan ini membawanya lebih dalam mengenal permasalahan lingkungan yang nyata di sekitarnya. Saat menempuh pendidikan S1 Fakultas Kehutanan di Universitas Mulawarman (Unmul), Furqon semakin aktif dalam berbagai penelitian dan gerakan lingkungan, termasuk menuntaskan skripsinya yang berkaitan dengan lingkungan sekitarnya.
Adapun skripsinya yang berfokus pada analisis dampak banjir di sub-DAS Mugirejo, Samarinda, lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan di daerah tersebut.
Tak berhenti di situ, ia pun melanjutkan studinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam program magister kehutanan untuk memperdalam ilmu pengelolaan hutan. Perjalanan aktivisme Furqon semakin berkembang ketika ia bergabung dengan berbagai organisasi sejak kuliah di Unmul.
Bahkan dengan semua pengalaman dan tekad yang dimiliki, membuat teman seperjuangannya memercayai Furqon menjadi Ketua LEM Sylva Mulawarman, sebuah organisasi mahasiswa kehutanan yang aktif mengadvokasi isu lingkungan.
Furqon bersama timnya kerap menyoroti permasalahan deforestasi dan pertambangan di Kalimantan Timur. "Kita banyak melihat pertambangan, dan itu kita suarakan di sylva Indonesia. Itu menjadi leading isu, karena waktu itu organisasi mahasiswa belum banyak yang berbicara masalah tambang di Kaltim. Program ini juga kita dorong di BEM KM," jelas pria kelahiran 4 September 1998 ini.
Tak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan pengabdiannya menjadi Wakil Presiden BEM KM Unmul pada 2019, ia bersama rekan kabinetnya menggagas program "Kawal Tambang" yang bertujuan mengawal isu pertambangan di daerah sekitar.
Salah satu keberhasilan besar dari program ini adalah mitigasi desa Bensamar, yang kemudian mendapat hibah bina desa dari Kementerian Pendidikan dan lolos ke tingkat nasional.
Unmul semakin eksis dikancah nasional, terutama BEM KM Unmul kala itu menjadi Koordinator Isu Lingkungan di BEM Seluruh Indonesia. Furqon ikut terlibat dalam penyerahan kajian lingkungan "Piagam Mahakam" kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar.
Kajian ini menyoroti dampak deforestasi dan ketimpangan kepemilikan lahan di Kalimantan Timur. Aulia yakin bahwa kebijakan pengelolaan hutan yang tepat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Puncak perjuangan Furqon dalam isu lingkungan membawanya ke COP29 di Baku, Azerbaijan dan hadir sebagai perwakilan dari organisasi pemuda Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) setelah mendapatkan undangan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Di COP29, Furqon berperan sebagai PIC dalam diskusi panel yang diselenggarakan oleh International Tropical Peatlands Center (ITPC).
Dalam diskusi ini, ia menekankan pentingnya implementasi hasil penelitian secara teknis agar dapat diterapkan oleh masyarakat.
Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai sesi diskusi, termasuk yang membahas peran pemuda dan komunitas adat dalam melawan krisis iklim.
Salah satu momen penting bagi Furqon di COP29 adalah ketika ia menghadiri diskusi bertema "The Trusted Messenger Climate Storytelling."
Dalam forum ini, ia mengajak peserta untuk menjadikan nilai-nilai kepercayaan dan agama sebagai landasan dalam kampanye lingkungan.
Menurutnya, ajaran Islam yang menekankan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi dapat menjadi dorongan kuat bagi pemuda untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Di COP29, Furqon juga turut serta dalam kampanye global yang menyoroti hubungan antara perubahan iklim dan ketidakadilan sosial.
Bersama para aktivis lingkungan dari berbagai negara, ia menyuarakan pesan kuat untuk menghentikan eksploitasi lingkungan yang semakin memperburuk kehidupan masyarakat di daerah konflik, termasuk Palestina.
Melalui forum ini, Furqon semakin menyadari bahwa perjuangan lingkungan tidak hanya tentang menjaga alam, tetapi juga mencakup keadilan sosial bagi seluruh manusia.
Ia berharap agar Indonesia lebih aktif dalam mengambil peran di forum internasional, terutama dalam kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Perjalanan Furqon adalah bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa membawa seseorang hingga ke panggung dunia.
Dengan semangat dan dedikasinya, ia terus menginspirasi generasi muda untuk ikut serta dalam menjaga keberlanjutan bumi. Ia menitipkan pesan untuk generasi muda untuk terus menjadi penggerak perubahan.
"Pemuda adalah motor penggerak perubahan, dan kita harus bisa menjadi bagian dari solusi untuk menyelamatkan bumi," tegasnya.
(Sf/By)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Figur

Aulia Furqon pemuda inspiratif dan Aktivis lingkungan. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Di tengah gencarnya isu lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, nama Aulia Furqon muncul sebagai salah satu pemuda inspiratif yang gigih memperjuangkan kelestarian alam.
Berawal dari ketertarikannya pada dunia kehutanan, perjalanan Furqon membawanya hingga ke forum internasional Conference of the Parties (COP) 29 di Baku, Azerbaijan.
Aulia Furqon asal Samarinda kini telah melanglang buana memiliki titik awal dalam memulai perjuangannya terhadap lingkungan.
Pertama kali menemukan ketertarikannya pada isu lingkungan sejak duduk di bangku SMA. Saat itu, ia masih bingung menentukan jurusan kuliah. Atas saran guru BK-nya, ia memilih bidang kehutanan karena kecenderungannya yang kuat di pelajaran sains, terutama biologi.
Keputusan ini membawanya lebih dalam mengenal permasalahan lingkungan yang nyata di sekitarnya. Saat menempuh pendidikan S1 Fakultas Kehutanan di Universitas Mulawarman (Unmul), Furqon semakin aktif dalam berbagai penelitian dan gerakan lingkungan, termasuk menuntaskan skripsinya yang berkaitan dengan lingkungan sekitarnya.
Adapun skripsinya yang berfokus pada analisis dampak banjir di sub-DAS Mugirejo, Samarinda, lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan di daerah tersebut.
Tak berhenti di situ, ia pun melanjutkan studinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam program magister kehutanan untuk memperdalam ilmu pengelolaan hutan. Perjalanan aktivisme Furqon semakin berkembang ketika ia bergabung dengan berbagai organisasi sejak kuliah di Unmul.
Bahkan dengan semua pengalaman dan tekad yang dimiliki, membuat teman seperjuangannya memercayai Furqon menjadi Ketua LEM Sylva Mulawarman, sebuah organisasi mahasiswa kehutanan yang aktif mengadvokasi isu lingkungan.
Furqon bersama timnya kerap menyoroti permasalahan deforestasi dan pertambangan di Kalimantan Timur. "Kita banyak melihat pertambangan, dan itu kita suarakan di sylva Indonesia. Itu menjadi leading isu, karena waktu itu organisasi mahasiswa belum banyak yang berbicara masalah tambang di Kaltim. Program ini juga kita dorong di BEM KM," jelas pria kelahiran 4 September 1998 ini.
Tak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan pengabdiannya menjadi Wakil Presiden BEM KM Unmul pada 2019, ia bersama rekan kabinetnya menggagas program "Kawal Tambang" yang bertujuan mengawal isu pertambangan di daerah sekitar.
Salah satu keberhasilan besar dari program ini adalah mitigasi desa Bensamar, yang kemudian mendapat hibah bina desa dari Kementerian Pendidikan dan lolos ke tingkat nasional.
Unmul semakin eksis dikancah nasional, terutama BEM KM Unmul kala itu menjadi Koordinator Isu Lingkungan di BEM Seluruh Indonesia. Furqon ikut terlibat dalam penyerahan kajian lingkungan "Piagam Mahakam" kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar.
Kajian ini menyoroti dampak deforestasi dan ketimpangan kepemilikan lahan di Kalimantan Timur. Aulia yakin bahwa kebijakan pengelolaan hutan yang tepat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Puncak perjuangan Furqon dalam isu lingkungan membawanya ke COP29 di Baku, Azerbaijan dan hadir sebagai perwakilan dari organisasi pemuda Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) setelah mendapatkan undangan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Di COP29, Furqon berperan sebagai PIC dalam diskusi panel yang diselenggarakan oleh International Tropical Peatlands Center (ITPC).
Dalam diskusi ini, ia menekankan pentingnya implementasi hasil penelitian secara teknis agar dapat diterapkan oleh masyarakat.
Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai sesi diskusi, termasuk yang membahas peran pemuda dan komunitas adat dalam melawan krisis iklim.
Salah satu momen penting bagi Furqon di COP29 adalah ketika ia menghadiri diskusi bertema "The Trusted Messenger Climate Storytelling."
Dalam forum ini, ia mengajak peserta untuk menjadikan nilai-nilai kepercayaan dan agama sebagai landasan dalam kampanye lingkungan.
Menurutnya, ajaran Islam yang menekankan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi dapat menjadi dorongan kuat bagi pemuda untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Di COP29, Furqon juga turut serta dalam kampanye global yang menyoroti hubungan antara perubahan iklim dan ketidakadilan sosial.
Bersama para aktivis lingkungan dari berbagai negara, ia menyuarakan pesan kuat untuk menghentikan eksploitasi lingkungan yang semakin memperburuk kehidupan masyarakat di daerah konflik, termasuk Palestina.
Melalui forum ini, Furqon semakin menyadari bahwa perjuangan lingkungan tidak hanya tentang menjaga alam, tetapi juga mencakup keadilan sosial bagi seluruh manusia.
Ia berharap agar Indonesia lebih aktif dalam mengambil peran di forum internasional, terutama dalam kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Perjalanan Furqon adalah bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa membawa seseorang hingga ke panggung dunia.
Dengan semangat dan dedikasinya, ia terus menginspirasi generasi muda untuk ikut serta dalam menjaga keberlanjutan bumi. Ia menitipkan pesan untuk generasi muda untuk terus menjadi penggerak perubahan.
"Pemuda adalah motor penggerak perubahan, dan kita harus bisa menjadi bagian dari solusi untuk menyelamatkan bumi," tegasnya.
(Sf/By)