Cari disini...
Figur
Rahmat Putra GOM, siswa SMAN 1 Bontang sekaligus Komandan Kelompok dalam upacara HUT RI ke-81 di Lapangan Bessai Berinta. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Rahmat Putra Gom, siswa SMA Negeri 1 Bontang, menjadi salah satu pelajar yang dipercaya menjalankan tugas penting dalam upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia (RI) di Kota Bontang, Senin (17/8/2026).
Dalam formasi utama pengibaran bendera di Lapangan Bessai Berinta, Rahmat bertugas sebagai Komandan Kelompok (Danpok). Ia memimpin formasi pengibaran Sang Merah Putih bersama dua siswa SMA Negeri 2 Bontang.
Tugas pengibaran Merah Putih dijalankan oleh Muhammad Alvian Syah Pratama sebagai Pembentang Bendera dan Muhammad Avian Akbar Ramadhan sebagai Pengerek Bendera.
Bagi Rahmat, kepercayaan tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan. Terlebih, untuk sampai berada dalam formasi utama, ia harus melewati rangkaian seleksi dan latihan yang cukup panjang.
“Yang pertama pasti senang karena bisa terpilih, terutama di Pasukan 8. Kami sangat senang karena sudah melewati banyak seleksi yang sangat berat,” ujar Rahmat.
Pelajar kelahiran Bontang, 18 November 2009, tersebut mengatakan proses seleksi Paskibraka telah dimulai sejak bulan Ramadan. Dari rangkaian seleksi itu, ia akhirnya dipercaya menjadi bagian dari formasi utama pengibaran bendera pada peringatan HUT ke-81 RI.
Ketertarikan Rahmat terhadap Paskib juga tidak lepas dari sosok sang ayah, Hoksan. Ayahnya pernah menjadi pelatih Paskib pada 2015–2016 dan kini bertugas sebagai Babinsa Santan Tengah dengan pangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda).
“Kalau motivasi sebenarnya karena dari dulu bapak selalu melatih Paskib, jadi kami termotivasi untuk Paskib,” tuturnya.
Selama duduk di bangku SMA Rahmat aktif dalam organisasi OSIS di sekolah. Ia juga telah memiliki pengalaman dalam kegiatan Paskib dan baris-berbaris sejak duduk di bangku SMP.
Dukungan dari sekolah turut menjadi bagian penting dalam perjalanan Rahmat hingga terpilih sebagai Paskibraka. Ia menyebut pihak sekolah memberikan dukungan besar selama menjalani rangkaian seleksi hingga latihan.
Bagi Rahmat, menjadi bagian dari Paskibraka bukan hanya tentang menjalankan tugas pada upacara kemerdekaan. Ia berharap pengalaman tersebut dapat membentuk karakter dan kedisiplinannya untuk menghadapi masa depan.
“Semoga ke depannya saya bisa menjadi karakter yang lebih baik, terus bisa melanjutkan cita-cita saya,” katanya.
Rahmat merupakan anak ketiga sekaligus anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya merupakan perempuan dan telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Sementara ibunya, Jumiati, merupakan ibu rumah tangga.
Setelah lulus SMA, Rahmat berencana mengejar cita-citanya menjadi anggota TNI. Pengalaman menjadi bagian dari formasi utama pengibaran bendera diharapkannya menjadi salah satu bekal dalam membentuk kedisiplinan dan mental.
Pada akhirnya, tugas Rahmat sebagai Danpok bersama Alvian dan Avian menjadi bagian penting dalam prosesi pengibaran Merah Putih di Lapangan Bessai Berinta.
Bagi mereka, kesempatan tersebut bukan sekadar tugas seremonial, melainkan pengalaman yang akan menjadi bagian dari perjalanan masa muda dan pengabdian kepada bangsa.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Figur

Rahmat Putra GOM, siswa SMAN 1 Bontang sekaligus Komandan Kelompok dalam upacara HUT RI ke-81 di Lapangan Bessai Berinta. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Rahmat Putra Gom, siswa SMA Negeri 1 Bontang, menjadi salah satu pelajar yang dipercaya menjalankan tugas penting dalam upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia (RI) di Kota Bontang, Senin (17/8/2026).
Dalam formasi utama pengibaran bendera di Lapangan Bessai Berinta, Rahmat bertugas sebagai Komandan Kelompok (Danpok). Ia memimpin formasi pengibaran Sang Merah Putih bersama dua siswa SMA Negeri 2 Bontang.
Tugas pengibaran Merah Putih dijalankan oleh Muhammad Alvian Syah Pratama sebagai Pembentang Bendera dan Muhammad Avian Akbar Ramadhan sebagai Pengerek Bendera.
Bagi Rahmat, kepercayaan tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan. Terlebih, untuk sampai berada dalam formasi utama, ia harus melewati rangkaian seleksi dan latihan yang cukup panjang.
“Yang pertama pasti senang karena bisa terpilih, terutama di Pasukan 8. Kami sangat senang karena sudah melewati banyak seleksi yang sangat berat,” ujar Rahmat.
Pelajar kelahiran Bontang, 18 November 2009, tersebut mengatakan proses seleksi Paskibraka telah dimulai sejak bulan Ramadan. Dari rangkaian seleksi itu, ia akhirnya dipercaya menjadi bagian dari formasi utama pengibaran bendera pada peringatan HUT ke-81 RI.
Ketertarikan Rahmat terhadap Paskib juga tidak lepas dari sosok sang ayah, Hoksan. Ayahnya pernah menjadi pelatih Paskib pada 2015–2016 dan kini bertugas sebagai Babinsa Santan Tengah dengan pangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda).
“Kalau motivasi sebenarnya karena dari dulu bapak selalu melatih Paskib, jadi kami termotivasi untuk Paskib,” tuturnya.
Selama duduk di bangku SMA Rahmat aktif dalam organisasi OSIS di sekolah. Ia juga telah memiliki pengalaman dalam kegiatan Paskib dan baris-berbaris sejak duduk di bangku SMP.
Dukungan dari sekolah turut menjadi bagian penting dalam perjalanan Rahmat hingga terpilih sebagai Paskibraka. Ia menyebut pihak sekolah memberikan dukungan besar selama menjalani rangkaian seleksi hingga latihan.
Bagi Rahmat, menjadi bagian dari Paskibraka bukan hanya tentang menjalankan tugas pada upacara kemerdekaan. Ia berharap pengalaman tersebut dapat membentuk karakter dan kedisiplinannya untuk menghadapi masa depan.
“Semoga ke depannya saya bisa menjadi karakter yang lebih baik, terus bisa melanjutkan cita-cita saya,” katanya.
Rahmat merupakan anak ketiga sekaligus anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya merupakan perempuan dan telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Sementara ibunya, Jumiati, merupakan ibu rumah tangga.
Setelah lulus SMA, Rahmat berencana mengejar cita-citanya menjadi anggota TNI. Pengalaman menjadi bagian dari formasi utama pengibaran bendera diharapkannya menjadi salah satu bekal dalam membentuk kedisiplinan dan mental.
Pada akhirnya, tugas Rahmat sebagai Danpok bersama Alvian dan Avian menjadi bagian penting dalam prosesi pengibaran Merah Putih di Lapangan Bessai Berinta.
Bagi mereka, kesempatan tersebut bukan sekadar tugas seremonial, melainkan pengalaman yang akan menjadi bagian dari perjalanan masa muda dan pengabdian kepada bangsa.
(Sf/Lo)