Cari disini...
Figur
May Shirley Handoko saat sedang mengajar anak-anak lesnya. (Foto: Dokumentasi pribadi May Shirley/Seputarfakta.com)
May Shirley Handoko, seorang wanita keturunan Tionghoa yang tumbuh di Jakarta, adalah sosok yang penuh inspirasi. Pada 1 September 2024, ia merayakan enam tahun sejak memulai perjalanan barunya di di Kota Samarinda.
Walaupun tidak terlalu terbuka tentang dirinya, orang-orang di sekitar May mengenalnya sebagai sosok yang bersemangat dan berkomitmen pada pendidikan.
Sebelum pindah ke Samarinda, May bekerja di industri pertelevisian, termasuk di DAAI TV dan Metro TV, di mana ia terlibat dalam program dokumenter dan kemudian dipindahkan ke program anak-anak.
Meskipun ia tidak memiliki latar belakang pendidikan formal dalam bidang tersebut, pengalamannya di dunia perfilman, penyiaran, dan jurnalisme memberinya banyak wawasan. Namun, karena ketidaksesuaian dengan minatnya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan beralih ke bidang pendidikan, yang ternyata menjadi panggilan sejatinya.
Setelah pindah ke Samarinda, May merasakan dorongan kuat untuk kembali ke dunia pendidikan, di mana ia merasa bisa membuat perbedaan yang nyata.
Sebagai seorang Nasrani, May telah lama terlibat dalam pelayanan sosial, termasuk mengajar dan memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak di daerah terpencil seperti Papua. Baginya, hidup adalah tentang melayani, dan melalui pendidikan, ia melihat kesempatan untuk memberikan kontribusi nyata.
Pada 2018, May merintis pendirian lembaga pendidikan yang berfokus pada kemampuan membaca menulis dan berhitung (calistung) untuk anak-anak dari usia prasekolah, hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Kini, May punya total 3 tempat les yang diberi nama Pondok Ilmu Padi yang ada Kelurahan Sindang Sari, Kecamatan Sambutan Kota Samarinda, Desa Sungai Meriam, Kecamatan Anggana, serta Kelurahan Anggana, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Tempat les itu, saat ini tidak sepenuhnya gratis. Namun ia bertekad suatu hari nanti bisa memberikan pendidikan gratis kepada mereka yang membutuhkan.
Pengalaman sebagai reporter dan pekerja di bidang produksi televisi memberinya pandangan yang luas tentang dunia, dan sekarang ia menerapkan prinsip-prinsip yang sama dalam pekerjaannya di bidang pendidikan.
“Saya merekrut pengajar dari anak-anak yang ada di sini, tidak mesti lulusan sarjana,” kata May saat ditemui Seputar Fakta belum lama ini.
May terinspirasi oleh sosok-sosok seperti Mother Teresa, Kick Andy, dan Rob Sinke seorang pemilik Weda Reef and Rainforest Resort di Kobe, Halmahera, Maluku Utara, Indonesia.
Rob Sinke, yang menggunakan resort-nya untuk memberdayakan warga lokal, menjadi inspirasi utama bagi May dalam misinya untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan.
"Hidup itu melayani," kata May, menirukan ucapan Rob Sinke, sebuah prinsip yang May coba terapkan dalam kehidupannya sehari-hari.
Selain mengajar, May juga aktif membantu teman-temannya dalam menulis naskah dan terlibat dalam kegiatan olahraga seperti paddling.
Ia percaya bahwa pendidikan bukan hanya soal sekolah, tetapi juga soal belajar sepanjang hidup. Ia menganggap belajar dan berkarya sebagai cara untuk mendatangkan berkah dalam hidup.
"Kita tidak boleh berhenti belajar," tegasnya.
Ke depan, May memiliki impian besar untuk membangun sekolah dan membantu pendidikan anak-anak di daerah pedalaman.
Ia berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah untuk lebih memperhatikan kondisi pendidikan di daerah-daerah terpencil, sehingga tidak ada anak yang tertinggal.
Dengan semangat dan dedikasinya, perempuan yang akrab disapa Bu Mey ini terus berupaya membawa perubahan positif melalui pendidikan, memberikan inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Figur

May Shirley Handoko saat sedang mengajar anak-anak lesnya. (Foto: Dokumentasi pribadi May Shirley/Seputarfakta.com)
May Shirley Handoko, seorang wanita keturunan Tionghoa yang tumbuh di Jakarta, adalah sosok yang penuh inspirasi. Pada 1 September 2024, ia merayakan enam tahun sejak memulai perjalanan barunya di di Kota Samarinda.
Walaupun tidak terlalu terbuka tentang dirinya, orang-orang di sekitar May mengenalnya sebagai sosok yang bersemangat dan berkomitmen pada pendidikan.
Sebelum pindah ke Samarinda, May bekerja di industri pertelevisian, termasuk di DAAI TV dan Metro TV, di mana ia terlibat dalam program dokumenter dan kemudian dipindahkan ke program anak-anak.
Meskipun ia tidak memiliki latar belakang pendidikan formal dalam bidang tersebut, pengalamannya di dunia perfilman, penyiaran, dan jurnalisme memberinya banyak wawasan. Namun, karena ketidaksesuaian dengan minatnya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan beralih ke bidang pendidikan, yang ternyata menjadi panggilan sejatinya.
Setelah pindah ke Samarinda, May merasakan dorongan kuat untuk kembali ke dunia pendidikan, di mana ia merasa bisa membuat perbedaan yang nyata.
Sebagai seorang Nasrani, May telah lama terlibat dalam pelayanan sosial, termasuk mengajar dan memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak di daerah terpencil seperti Papua. Baginya, hidup adalah tentang melayani, dan melalui pendidikan, ia melihat kesempatan untuk memberikan kontribusi nyata.
Pada 2018, May merintis pendirian lembaga pendidikan yang berfokus pada kemampuan membaca menulis dan berhitung (calistung) untuk anak-anak dari usia prasekolah, hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Kini, May punya total 3 tempat les yang diberi nama Pondok Ilmu Padi yang ada Kelurahan Sindang Sari, Kecamatan Sambutan Kota Samarinda, Desa Sungai Meriam, Kecamatan Anggana, serta Kelurahan Anggana, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Tempat les itu, saat ini tidak sepenuhnya gratis. Namun ia bertekad suatu hari nanti bisa memberikan pendidikan gratis kepada mereka yang membutuhkan.
Pengalaman sebagai reporter dan pekerja di bidang produksi televisi memberinya pandangan yang luas tentang dunia, dan sekarang ia menerapkan prinsip-prinsip yang sama dalam pekerjaannya di bidang pendidikan.
“Saya merekrut pengajar dari anak-anak yang ada di sini, tidak mesti lulusan sarjana,” kata May saat ditemui Seputar Fakta belum lama ini.
May terinspirasi oleh sosok-sosok seperti Mother Teresa, Kick Andy, dan Rob Sinke seorang pemilik Weda Reef and Rainforest Resort di Kobe, Halmahera, Maluku Utara, Indonesia.
Rob Sinke, yang menggunakan resort-nya untuk memberdayakan warga lokal, menjadi inspirasi utama bagi May dalam misinya untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan.
"Hidup itu melayani," kata May, menirukan ucapan Rob Sinke, sebuah prinsip yang May coba terapkan dalam kehidupannya sehari-hari.
Selain mengajar, May juga aktif membantu teman-temannya dalam menulis naskah dan terlibat dalam kegiatan olahraga seperti paddling.
Ia percaya bahwa pendidikan bukan hanya soal sekolah, tetapi juga soal belajar sepanjang hidup. Ia menganggap belajar dan berkarya sebagai cara untuk mendatangkan berkah dalam hidup.
"Kita tidak boleh berhenti belajar," tegasnya.
Ke depan, May memiliki impian besar untuk membangun sekolah dan membantu pendidikan anak-anak di daerah pedalaman.
Ia berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah untuk lebih memperhatikan kondisi pendidikan di daerah-daerah terpencil, sehingga tidak ada anak yang tertinggal.
Dengan semangat dan dedikasinya, perempuan yang akrab disapa Bu Mey ini terus berupaya membawa perubahan positif melalui pendidikan, memberikan inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya.
(Sf/Rs)