Cari disini...
Figur
Peraih juara pertama dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Alquran (KTIQ) MTQ Nasional XXX, Deajeng Azura Faradiba. (Foto: Dokumentasi Deajeng/Seputarfakta.com)
Samarinda - Muara Jawa, sebuah kelurahan kecil di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kini semakin dikenal berkat prestasi gemilang dari Deajeng Azura Faradiba. Lahir pada 11 Juli 2003, Deajeng sebelumnya tak pernah membayangkan dirinya akan meraih pencapaian besar di usia mudanya ini.
Kemenangan sebagai juara pertama dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an (KTIQ) kategori putri di Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXX membuka jalan terang bagi masa depan cerahnya, termasuk memiliki rumah di usia muda dan jaminan untuk menunaikan ibadah haji.
Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, Deajeng tumbuh di lingkungan yang sederhana, namun penuh dengan semangat belajar. Hobinya dalam menulis telah menjadi salah satu fondasi kesuksesannya. Sejak di bangku SMA, ia mulai serius mengasah kemampuannya dalam dunia literasi. Bahkan, karya-karyanya sudah diabadikan dalam sebuah buku antologi.
“Waktu SMA pernah menulis, dan dijadikan buku antologi,” kenang Ajeng saat ditanya Seputar Fakta belum lama ini.
Kecintaannya pada menulis tidak hanya berfokus pada satu bidang saja. Ia juga aktif mengikuti berbagai lomba menulis cerpen, puisi, dan juga membaca puisi. Prestasi yang ia raih pun tak sedikit. Sederet prestasi yang berhasil diraih di antaranya, juara dua puisi tingkat SLTP pada tahun 2018, juara pertama puisi Bulan Bahasa SMARAJAKU tahun 2022, serta juara dua dan tiga dalam lomba puisi Pandu Mulawarman dan Liga FKIP tahun 2022 dan 2023.
Selain itu, perempuan berdarah Jawa ini juga pernah menjadi juara lomba cerdas cermat tingkat kabupaten pada Hari Amal Bakti ke-78 tahun 2018, serta meraih kemenangan dalam Olimpiade Sains tingkat kecamatan pada tahun 2016.
Meski segudang prestasi telah ia raih, Deajeng tetap menanamkan dalam diri untuk rendah hati dan terus belajar. Menurutnya, kunci kesuksesannya terletak pada kemauan untuk selalu belajar hal baru. Sejak dulu tak ada kelas khusus yang diikutinya. Belajar secara mandiri serta membaca, menurutnya adalah sebagai jembatan untuk membuka pintu ide-ide segar yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan.
“Tidak ada jam khusus belajar, senyamannya saja, tidak setiap hari juga,” tambahnya.
Andrea Hirata, penulis favoritnya, menjadi inspirasi bagi Deajeng dalam menggapai mimpi. Buku Sang Pemimpi menjadi salah satu bacaan yang paling disukainya. Meskipun mimpinya tidak muluk-muluk, Deajeng memiliki target besar untuk menjadi dosen setelah menyelesaikan pendidikan S1 di bidang Pendidikan Matematika di Universitas Mulawarman.
“Target terdekat saya adalah ingin menjadi dosen, rencananya saya akan melanjutkan S2 di bidang yang sama,” tuturnya.
Moto hidupnya "jangan pernah takut untuk mencoba" telah membawanya sampai pada titik yang membanggakan ini. Menjadi juara dalam ajang nasional nyatanya tak cukup membuatnya puas. Ia akan tetap mengikuti perlombaan-perlombaan yang ada tentang menulis. Ia yakin, dengan segala usaha dan tekad yang kuat impian itu bisa diraih.
"Teruslah membaca, dan jangan pernah takut mencoba menulis," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Figur

Peraih juara pertama dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Alquran (KTIQ) MTQ Nasional XXX, Deajeng Azura Faradiba. (Foto: Dokumentasi Deajeng/Seputarfakta.com)
Samarinda - Muara Jawa, sebuah kelurahan kecil di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kini semakin dikenal berkat prestasi gemilang dari Deajeng Azura Faradiba. Lahir pada 11 Juli 2003, Deajeng sebelumnya tak pernah membayangkan dirinya akan meraih pencapaian besar di usia mudanya ini.
Kemenangan sebagai juara pertama dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an (KTIQ) kategori putri di Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXX membuka jalan terang bagi masa depan cerahnya, termasuk memiliki rumah di usia muda dan jaminan untuk menunaikan ibadah haji.
Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, Deajeng tumbuh di lingkungan yang sederhana, namun penuh dengan semangat belajar. Hobinya dalam menulis telah menjadi salah satu fondasi kesuksesannya. Sejak di bangku SMA, ia mulai serius mengasah kemampuannya dalam dunia literasi. Bahkan, karya-karyanya sudah diabadikan dalam sebuah buku antologi.
“Waktu SMA pernah menulis, dan dijadikan buku antologi,” kenang Ajeng saat ditanya Seputar Fakta belum lama ini.
Kecintaannya pada menulis tidak hanya berfokus pada satu bidang saja. Ia juga aktif mengikuti berbagai lomba menulis cerpen, puisi, dan juga membaca puisi. Prestasi yang ia raih pun tak sedikit. Sederet prestasi yang berhasil diraih di antaranya, juara dua puisi tingkat SLTP pada tahun 2018, juara pertama puisi Bulan Bahasa SMARAJAKU tahun 2022, serta juara dua dan tiga dalam lomba puisi Pandu Mulawarman dan Liga FKIP tahun 2022 dan 2023.
Selain itu, perempuan berdarah Jawa ini juga pernah menjadi juara lomba cerdas cermat tingkat kabupaten pada Hari Amal Bakti ke-78 tahun 2018, serta meraih kemenangan dalam Olimpiade Sains tingkat kecamatan pada tahun 2016.
Meski segudang prestasi telah ia raih, Deajeng tetap menanamkan dalam diri untuk rendah hati dan terus belajar. Menurutnya, kunci kesuksesannya terletak pada kemauan untuk selalu belajar hal baru. Sejak dulu tak ada kelas khusus yang diikutinya. Belajar secara mandiri serta membaca, menurutnya adalah sebagai jembatan untuk membuka pintu ide-ide segar yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan.
“Tidak ada jam khusus belajar, senyamannya saja, tidak setiap hari juga,” tambahnya.
Andrea Hirata, penulis favoritnya, menjadi inspirasi bagi Deajeng dalam menggapai mimpi. Buku Sang Pemimpi menjadi salah satu bacaan yang paling disukainya. Meskipun mimpinya tidak muluk-muluk, Deajeng memiliki target besar untuk menjadi dosen setelah menyelesaikan pendidikan S1 di bidang Pendidikan Matematika di Universitas Mulawarman.
“Target terdekat saya adalah ingin menjadi dosen, rencananya saya akan melanjutkan S2 di bidang yang sama,” tuturnya.
Moto hidupnya "jangan pernah takut untuk mencoba" telah membawanya sampai pada titik yang membanggakan ini. Menjadi juara dalam ajang nasional nyatanya tak cukup membuatnya puas. Ia akan tetap mengikuti perlombaan-perlombaan yang ada tentang menulis. Ia yakin, dengan segala usaha dan tekad yang kuat impian itu bisa diraih.
"Teruslah membaca, dan jangan pernah takut mencoba menulis," pungkasnya.
(Sf/Rs)