Figur

    Inspirasi dari Timur: M  Nizam Ihsan Fadil dan Mimpi Pariwisata Tanpa Batas

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    10 Desember 2025 pukul 11:44 WITA

    Muhammad Nizam Ihsan Fadil saat mengenaikan pakaian khas Balikpapan. (Foto: Fadil/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Di tengah gemerlapnya isu pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), muncul satu nama yang berjuang dalam sunyi untuk memastikan pertumbuhan Kalimantan Timur (Kaltim) benar-benar merangkul semua warganya. Ia adalah Muhammad Nizam Ihsan Fadil, pria kelahiran Balikpapan, 5 Januari 2002, yang kini menjabat sebagai Tenaga Ahli Bahasa di Pemerintah Kota Balikpapan.

    Namun, panggung utamanya justru ia temukan di dunia pariwisata, sebuah arena yang ia yakini harus inklusif dan ramah bagi disabilitas.
    Langkah Fadil, sapaan akrabnya, dimulai dari sebuah keinginan sederhana setelah menyelesaikan studi S1 Hubungan Internasional: mencari relasi dan mengasah kemampuan komunikasi yang sempat tertahan akibat pembatasan pandemi. Ia melihat ajang duta wisata bukan sekadar kontes kecantikan, melainkan sebuah wadah pengembangan diri. 

    “Saya ingin mengembangkan skill komunikasi yang sangat diperlukan saat ini, sekaligus membangun relasi yang tidak sempat saya lakukan di masa kuliah,” aku Fadil.

    Dedikasi ini berbuah manis. Dimulai dengan terpilih sebagai Putra Duta Wisata Kota Balikpapan pada April 2024, perjalanan Fadil melesat cepat. Ia kemudian dipercaya mewakili daerahnya sebagai Duta Wisata Provinsi Kaltim 2024, hingga puncaknya, meraih gelar Wakil Duta Wisata Indonesia 2025.
    Dalam setiap gelar yang disandangnya, Nizam membawa satu visi utama: Pariwisata Inklusif.

    Bersama rekan-rekan duta wisata, ia menggarap proyek transformatif bernama Suara Inklusif Nusantara. Inisiatif ini bukan sekadar mengadvokasi fasilitas fisik, melainkan sebuah gerakan pemberdayaan yang berkolaborasi dengan Berwisata dengan Teman Tuli (Berdali). Fokusnya: melatih penyandang disabilitas tuli agar dapat berperan aktif sebagai pemandu wisata.
    Dari kolaborasi ini, lahir sebuah inovasi yang menjadi sorotan: Sign&Seek. 

    Ini adalah platform jenius berupa papan QR yang terpasang di destinasi wisata. Saat dipindai, papan ini akan menampilkan video pemandu wisata yang disajikan dalam Bahasa Isyarat. Program revolusioner ini telah tersedia di lima destinasi penting di Kaltim, termasuk Bukit Doa Kalimantan, Museum Mulawarman, dan Desa Wisata Malahing.
    Fadil menegaskan bahwa ini adalah misi penyebaran kesadaran. 

    "Melalui kolaborasi ini saya ingin menyebarkan kesadaran kepada masyarakat, bahwa penyandang disabilitas tidak hanya berhak menikmati pariwisata, tetapi juga berhak berkontribusi," tegasnya.

    Baginya, inklusivitas adalah tentang melihat potensi, bukan keterbatasan. "Kami percaya, semua berdaya,” tambahnya penuh keyakinan.

    Menjadi duta wisata, ia tak menampik, penuh tantangan. Dinamika kerja tim, perbedaan pendapat, bahkan pengorbanan tenaga dan materi adalah bagian tak terpisahkan. Namun, semua terbayar lunas dengan pengalaman berharga bertemu banyak orang baru dan menyaksikan langsung dampak positif dari proyek yang ia kembangkan.

     “Walaupun tidak meraih juara, bagi kami menjadi anak muda yang memberikan manfaat sudah lebih dari cukup,” paparnya, merendah.

    Kini, Nizam Ihsan Fadil berharap kisah dan karyanya dapat menjadi pemicu semangat bagi anak-anak muda Balikpapan dan Kaltim. Ia mengajak mereka untuk melihat pariwisata bukan hanya sebagai sektor ekonomi, tetapi sebagai media kontribusi nyata bagi masyarakat.

    "Semoga apa yang kami lakukan dapat memantik semangat teman-teman untuk berkontribusi, khususnya di bidang pariwisata. Banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan sekaligus kita berikan,” tutupnya, meninggalkan jejak harapan akan masa depan pariwisata Kaltim yang lebih terbuka untuk semua.
    (Sf/Rs)

    Figur

    Inspirasi dari Timur: M  Nizam Ihsan Fadil dan Mimpi Pariwisata Tanpa Batas

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    10 Desember 2025 pukul 11:44 WITA

    Muhammad Nizam Ihsan Fadil saat mengenaikan pakaian khas Balikpapan. (Foto: Fadil/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Di tengah gemerlapnya isu pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), muncul satu nama yang berjuang dalam sunyi untuk memastikan pertumbuhan Kalimantan Timur (Kaltim) benar-benar merangkul semua warganya. Ia adalah Muhammad Nizam Ihsan Fadil, pria kelahiran Balikpapan, 5 Januari 2002, yang kini menjabat sebagai Tenaga Ahli Bahasa di Pemerintah Kota Balikpapan.

    Namun, panggung utamanya justru ia temukan di dunia pariwisata, sebuah arena yang ia yakini harus inklusif dan ramah bagi disabilitas.
    Langkah Fadil, sapaan akrabnya, dimulai dari sebuah keinginan sederhana setelah menyelesaikan studi S1 Hubungan Internasional: mencari relasi dan mengasah kemampuan komunikasi yang sempat tertahan akibat pembatasan pandemi. Ia melihat ajang duta wisata bukan sekadar kontes kecantikan, melainkan sebuah wadah pengembangan diri. 

    “Saya ingin mengembangkan skill komunikasi yang sangat diperlukan saat ini, sekaligus membangun relasi yang tidak sempat saya lakukan di masa kuliah,” aku Fadil.

    Dedikasi ini berbuah manis. Dimulai dengan terpilih sebagai Putra Duta Wisata Kota Balikpapan pada April 2024, perjalanan Fadil melesat cepat. Ia kemudian dipercaya mewakili daerahnya sebagai Duta Wisata Provinsi Kaltim 2024, hingga puncaknya, meraih gelar Wakil Duta Wisata Indonesia 2025.
    Dalam setiap gelar yang disandangnya, Nizam membawa satu visi utama: Pariwisata Inklusif.

    Bersama rekan-rekan duta wisata, ia menggarap proyek transformatif bernama Suara Inklusif Nusantara. Inisiatif ini bukan sekadar mengadvokasi fasilitas fisik, melainkan sebuah gerakan pemberdayaan yang berkolaborasi dengan Berwisata dengan Teman Tuli (Berdali). Fokusnya: melatih penyandang disabilitas tuli agar dapat berperan aktif sebagai pemandu wisata.
    Dari kolaborasi ini, lahir sebuah inovasi yang menjadi sorotan: Sign&Seek. 

    Ini adalah platform jenius berupa papan QR yang terpasang di destinasi wisata. Saat dipindai, papan ini akan menampilkan video pemandu wisata yang disajikan dalam Bahasa Isyarat. Program revolusioner ini telah tersedia di lima destinasi penting di Kaltim, termasuk Bukit Doa Kalimantan, Museum Mulawarman, dan Desa Wisata Malahing.
    Fadil menegaskan bahwa ini adalah misi penyebaran kesadaran. 

    "Melalui kolaborasi ini saya ingin menyebarkan kesadaran kepada masyarakat, bahwa penyandang disabilitas tidak hanya berhak menikmati pariwisata, tetapi juga berhak berkontribusi," tegasnya.

    Baginya, inklusivitas adalah tentang melihat potensi, bukan keterbatasan. "Kami percaya, semua berdaya,” tambahnya penuh keyakinan.

    Menjadi duta wisata, ia tak menampik, penuh tantangan. Dinamika kerja tim, perbedaan pendapat, bahkan pengorbanan tenaga dan materi adalah bagian tak terpisahkan. Namun, semua terbayar lunas dengan pengalaman berharga bertemu banyak orang baru dan menyaksikan langsung dampak positif dari proyek yang ia kembangkan.

     “Walaupun tidak meraih juara, bagi kami menjadi anak muda yang memberikan manfaat sudah lebih dari cukup,” paparnya, merendah.

    Kini, Nizam Ihsan Fadil berharap kisah dan karyanya dapat menjadi pemicu semangat bagi anak-anak muda Balikpapan dan Kaltim. Ia mengajak mereka untuk melihat pariwisata bukan hanya sebagai sektor ekonomi, tetapi sebagai media kontribusi nyata bagi masyarakat.

    "Semoga apa yang kami lakukan dapat memantik semangat teman-teman untuk berkontribusi, khususnya di bidang pariwisata. Banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan sekaligus kita berikan,” tutupnya, meninggalkan jejak harapan akan masa depan pariwisata Kaltim yang lebih terbuka untuk semua.
    (Sf/Rs)