Cari disini...
Figur
Fauzan Azim. (Foto: istimewa)
Tanjung Redeb - Di balik penampilan gemilang para atlet Tim Nasional Disabilitas Indonesia, terdapat sosok yang bekerja tanpa sorotan kamera. Ia adalah Fauzan Azim, fisioterapis muda asal Kabupaten Berau yang dipercaya menjadi bagian dari tim fisioterapi nasional untuk menjaga kebugaran dan pemulihan fisik para atlet.
Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, Fauzan telah mengemban tanggung jawab besar mendampingi atlet-atlet nasional. Tugasnya tidak hanya menangani cedera, tetapi juga memastikan kondisi fisik atlet tetap optimal sebelum, selama, hingga setelah pertandingan berlangsung.
Perjalanan menuju level nasional dimulai sejak Fauzan menempuh pendidikan S1 Fisioterapi di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta. Selama kuliah, ia aktif menjadi relawan dan tenaga fisioterapi dalam berbagai ajang olahraga, mulai dari DBL Basketball Regional Yogyakarta, Liga Remaja PSSI, marathon internasional, hingga sejumlah kejuaraan lainnya.
"Sejak kuliah saya memilih untuk memperbanyak pengalaman di lapangan. Dari setiap event olahraga saya belajar banyak tentang penanganan cedera, pemulihan atlet, hingga bagaimana menjaga performa mereka agar tetap maksimal saat bertanding," ujar Fauzan.
Kemampuannya semakin berkembang ketika mengikuti program pertukaran pelajar di Mahidol University, Thailand. Pengalaman tersebut memperluas wawasannya mengenai pelayanan fisioterapi berstandar internasional.
Fauzan Azim. (Foto: istimewa)
"Belajar di Mahidol University menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya memahami bagaimana pelayanan fisioterapi dilakukan dengan standar internasional dan itu menjadi bekal ketika saya kembali ke Indonesia," katanya.
Sepulang dari Thailand, pria 22 tahun itu pun mendapat kesempatan bergabung bersama Tim Nasional Disabilitas Indonesia setelah dihubungi Kepala Fisioterapi Timnas Disabilitas Indonesia, Sofal Jamil. Awalnya ia dipercaya sebagai asisten fisioterapi dalam persiapan atlet menghadapi kualifikasi Piala Dunia Disabilitas.
Kepercayaan itu terus berkembang hingga Fauzan dipercaya menjadi fisioterapis utama Persaj Jakarta pada Liga 1 Sepak Bola Amputasi Piala Menpora. Berkat kerja sama seluruh tim, Persaj Jakarta berhasil meraih gelar juara.
Menurut Fauzan, keberhasilan atlet tidak hanya ditentukan oleh latihan dan strategi pertandingan, tetapi juga kesiapan kondisi fisik yang didukung oleh tim medis, termasuk fisioterapis.
"Menjadi bagian dari perjuangan atlet Indonesia adalah sebuah kebanggaan. Walaupun bekerja di balik layar, kami memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan atlet bisa tampil dalam kondisi terbaiknya," ungkapnya.
Ia juga berharap profesi fisioterapis semakin mendapat perhatian dari pemerintah. Menurutnya, fisioterapi memiliki peran penting, tidak hanya dalam pemulihan cedera, tetapi juga pencegahan cedera, peningkatan kualitas hidup masyarakat, hingga mendukung lahirnya atlet-atlet berprestasi.
"Saya berharap Kabupaten Berau semakin memberi ruang bagi tenaga kesehatan muda untuk berkembang. Semoga edukasi mengenai fisioterapi juga semakin luas sehingga masyarakat memahami manfaatnya, baik untuk kesehatan maupun dunia olahraga," tuturnya.
Dedikasi Fauzan Azim ini pun membuktikan bahwa prestasi tidak hanya diraih oleh mereka yang bertanding di lapangan. Dari bFauzan Azim. (Foto: istimewa)lik ruang perawatan, putra Berau ini ikut mengambil peran penting dalam mendukung atlet Indonesia mengharumkan nama bangsa di berbagai ajang olahraga.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Figur

Fauzan Azim. (Foto: istimewa)
Tanjung Redeb - Di balik penampilan gemilang para atlet Tim Nasional Disabilitas Indonesia, terdapat sosok yang bekerja tanpa sorotan kamera. Ia adalah Fauzan Azim, fisioterapis muda asal Kabupaten Berau yang dipercaya menjadi bagian dari tim fisioterapi nasional untuk menjaga kebugaran dan pemulihan fisik para atlet.
Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, Fauzan telah mengemban tanggung jawab besar mendampingi atlet-atlet nasional. Tugasnya tidak hanya menangani cedera, tetapi juga memastikan kondisi fisik atlet tetap optimal sebelum, selama, hingga setelah pertandingan berlangsung.
Perjalanan menuju level nasional dimulai sejak Fauzan menempuh pendidikan S1 Fisioterapi di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta. Selama kuliah, ia aktif menjadi relawan dan tenaga fisioterapi dalam berbagai ajang olahraga, mulai dari DBL Basketball Regional Yogyakarta, Liga Remaja PSSI, marathon internasional, hingga sejumlah kejuaraan lainnya.
"Sejak kuliah saya memilih untuk memperbanyak pengalaman di lapangan. Dari setiap event olahraga saya belajar banyak tentang penanganan cedera, pemulihan atlet, hingga bagaimana menjaga performa mereka agar tetap maksimal saat bertanding," ujar Fauzan.
Kemampuannya semakin berkembang ketika mengikuti program pertukaran pelajar di Mahidol University, Thailand. Pengalaman tersebut memperluas wawasannya mengenai pelayanan fisioterapi berstandar internasional.
Fauzan Azim. (Foto: istimewa)
"Belajar di Mahidol University menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya memahami bagaimana pelayanan fisioterapi dilakukan dengan standar internasional dan itu menjadi bekal ketika saya kembali ke Indonesia," katanya.
Sepulang dari Thailand, pria 22 tahun itu pun mendapat kesempatan bergabung bersama Tim Nasional Disabilitas Indonesia setelah dihubungi Kepala Fisioterapi Timnas Disabilitas Indonesia, Sofal Jamil. Awalnya ia dipercaya sebagai asisten fisioterapi dalam persiapan atlet menghadapi kualifikasi Piala Dunia Disabilitas.
Kepercayaan itu terus berkembang hingga Fauzan dipercaya menjadi fisioterapis utama Persaj Jakarta pada Liga 1 Sepak Bola Amputasi Piala Menpora. Berkat kerja sama seluruh tim, Persaj Jakarta berhasil meraih gelar juara.
Menurut Fauzan, keberhasilan atlet tidak hanya ditentukan oleh latihan dan strategi pertandingan, tetapi juga kesiapan kondisi fisik yang didukung oleh tim medis, termasuk fisioterapis.
"Menjadi bagian dari perjuangan atlet Indonesia adalah sebuah kebanggaan. Walaupun bekerja di balik layar, kami memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan atlet bisa tampil dalam kondisi terbaiknya," ungkapnya.
Ia juga berharap profesi fisioterapis semakin mendapat perhatian dari pemerintah. Menurutnya, fisioterapi memiliki peran penting, tidak hanya dalam pemulihan cedera, tetapi juga pencegahan cedera, peningkatan kualitas hidup masyarakat, hingga mendukung lahirnya atlet-atlet berprestasi.
"Saya berharap Kabupaten Berau semakin memberi ruang bagi tenaga kesehatan muda untuk berkembang. Semoga edukasi mengenai fisioterapi juga semakin luas sehingga masyarakat memahami manfaatnya, baik untuk kesehatan maupun dunia olahraga," tuturnya.
Dedikasi Fauzan Azim ini pun membuktikan bahwa prestasi tidak hanya diraih oleh mereka yang bertanding di lapangan. Dari bFauzan Azim. (Foto: istimewa)lik ruang perawatan, putra Berau ini ikut mengambil peran penting dalam mendukung atlet Indonesia mengharumkan nama bangsa di berbagai ajang olahraga.
(Sf/Rs)