Figur

    Dari Operator Pabrik hingga Memimpin AMDT, Abdul Rasyid dan Perjalanan Membenahi Perusahaan Air PPU

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    24 Agustus 2026 pukul 08:49 WITA

    Direktur Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT), Abdul Rasyid. (Dok. Abdul Rasyid).

    Penajam - Hampir satu dekade Abdul Rasyid berada di Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT). Ia datang ketika perusahaan air milik daerah itu sedang tidak sehat. Kini, jumlah pelanggan sudah menembus 18 ribu sambungan rumah, cakupan layanan tumbuh dan perusahaan mulai mencatat laba.

    Perjalanan itu tidak dimulai dari ruang direktur. Abdul Rasyid lahir di Enrekang 7 Juli 1978. Sebelum memimpin AMDT, ia menghabiskan 17 tahun bekerja di perusahaan amoniak di Bontang sebagai operator pabrik. Ia juga pernah menjadi pekerja di pabrik plywood pada 1998.

    Pendidikan membawanya hingga meraih gelar profesi insinyur dari Universitas Mulawarman dan Magister Hukum dari Universitas Balikpapan.

    Sekitar sembilan tahun lalu, ia meninggalkan Bontang dan datang ke PPU sebagai tenaga ahli bupati bidang pengembangan BUMD sekaligus dewan pengawas Perumda AMDT.

    Pergantian kepala daerah kemudian membuka seleksi direktur baru. Rasyid awalnya tidak berminat mengikuti seleksi. Namun karena jumlah peserta belum mencukupi, ia akhirnya mendaftar.

    Hasil seleksi menempatkannya sebagai peserta dengan nilai tertinggi. Pada September 2019, ia dilantik sebagai Direktur Perumda AMDT. Ada satu pesan yang masih diingatnya dari kepala daerah saat itu.

    "Bantu saya memberikan pelayanan air bersih kepada masyarakat PPU. Cuma itu saja, tidak ada embel-embel lain,” ucapnya.

    Pesan tersebut menjadi pekerjaan pertamanya.

    Tiga Bulan Pertama Bukan Mengejar Laba

    Ketika pertama masuk, persoalan AMDT bukan hanya soal air.

    "Sakit sekali Perumda awal pertama saya masuk. Tiap tahun rugi, bukannya laba. Sumber daya manusia juga belum terarah, kantor serba acak-acakan," kata Rasyid, diwawancarai di kantornya, Rabu (19/8/2026).

    Tiga bulan pertama ia justru mengurus bagian yang sering luput dari perhatian: kantor dan sumber daya manusia.

    Ia ikut mengecat dinding, mengangkat karpet hingga mendorong pegawai membangun kembali suasana kerja. "Lokasi kerja yang bagus akan membuat orang nyaman. Kedua, sumber daya manusia," ujarnya.

    Setelah internal mulai dibenahi, ia masuk ke persoalan yang lebih besar, yakni struktur tarif air. Tarif yang berlaku saat itu belum mampu menutup biaya produksi air, membuat AMDT terus berada dalam tekanan keuangan.

    Rasyid kemudian mengambil langkah menaikkan tarif untuk mengejar full cost recovery. Keputusan itu tidak mudah karena sempat mendapat penolakan dari masyarakat.

    Keputusan Berat: Tarif Air Dinaikkan

    Rasyid mengusulkan kenaikan tarif pada 2020. Keputusan baru disepakati setahun kemudian.Tarif air saat itu naik sekitar 30-40 persen.

    Keputusan tersebut sempat mendapat penolakan hingga dirinya didemo. Tetapi Rasyid tetap mempertahankan kebijakan tersebut karena menilai perusahaan tidak akan sehat jika tarif jauh di bawah biaya produksi.

    "Itu keputusan berat, namun saya harus berani demi kesehatan perusahaan, dengan tingkat pelayanan yang lebih maksimal," katanya.

    Hasilnya mulai terlihat setahun kemudian. Pada 2022, AMDT mencatat laba pertama sebesar Rp3,6 miliar setelah sebelumnya bertahun-tahun merugi. Di sisi pelayanan, zona air bergilir yang sebelumnya mencapai 22 zona dipangkas menjadi lima zona.

    Setelah dua tahun pertama difokuskan untuk menata perusahaan dan SDM, perhatian Rasyid bergeser pada perluasan pelayanan.

    Jumlah Sambungan Rumah (SR) yang ketika ia masuk sekitar 7 ribu kini mencapai 18 ribu SR. Cakupan layanan juga naik dari sekitar 27 persen menjadi 42 persen. Tetapi angka yang paling ia perhatikan justru bukan laba maupun jumlah pelanggan.

    "Kalau dulu sebulan bisa 400 keluhan, sekarang rata-rata tinggal 10 keluhan," ujarnya.

    Bagi Rasyid, perusahaan air belum bisa disebut berhasil selama masyarakat masih harus terus mengeluhkan layanan.

    "Perjuangan pelayanan perusahaan belum sampai di titik keberhasilan tertinggi apabila keluhan masih ada," katanya.

    Target 80 Persen dan Tantangan Berikutnya

    Perjalanan belum selesai. Target cakupan pelayanan yang hendak dicapai adalah 80 persen.

    Rasyid menilai target tersebut tetap harus dikejar, sebagaimana yang ditetapkan kepala daerah. Tetapi dengan melihat kondisi saat ini, ia menyebut 60 persen pada 2029 sebagai target yang lebih realistis.

    "Saya optimis bisa melampaui angka 60 persen, tapi agak khawatir dengan angka 80 persen," ujarnya.

    Di tengah target itu, AMDT juga harus tetap menjaga kesehatan perusahaan, meningkatkan kualitas SDM dan tidak kembali bergantung penuh pada pemerintah daerah.

    Dibentuk 17 Tahun di Perusahaan Jepang

    Cara Rasyid memimpin AMDT tidak lepas dari masa lalunya.

    Selama 17 tahun bekerja di perusahaan amoniak milik Jepang, ia mengaku banyak menyerap disiplin kerja dan kebiasaan membuat rencana sebelum memulai pekerjaan.

    "Saya harus mengakui bahwa saya dibentuk oleh tempat di mana 17 tahun saya mengabdi. Saya banyak mengambil pelajaran dari presiden direktur saya di perusahaan itu," tuturnya.

    Dari Bontang, ia kemudian menyaksikan PPU berubah. IKN tumbuh di Sepaku dan AMDT ikut masuk dalam pengembangan jaringan air bersih di kawasan tersebut.

    "Ada kebanggaan tersendiri, bagaimana saya menyaksikan tumbuhnya IKN dari nol, dan saat itu kami bekerja keras mengelola air bersih, mulai membangun jaringan di IKN," katanya.

    Jika suatu hari ia tidak lagi berada di kursi direktur, ada tiga hal yang ingin tetap ia lihat di AMDT: perusahaan semakin baik, SDM terus berkembang, dan laba tetap terjaga.

    Di luar pekerjaan, Rasyid memiliki kebiasaan bangun sebelum pukul 05.00 Wita. Ia juga punya kebiasaan membuat catatan kecil. Sebelum beraktivitas, pekerjaan yang akan dilakukan lebih dulu ia listing, lalu disusun dalam rencana.

    Kebiasaan kecil itu masih ia bawa sampai sekarang. Bagi Rasyid, pekerjaan yang baik dimulai dari rencana yang jelas.

    Prinsipnya sederhana: melakukan yang terbaik dari apa yang bisa dikerjakan.

    Dari pekerja pabrik hingga memimpin perusahaan air daerah, hampir satu dekade di AMDT membawanya pada satu pekerjaan yang sejak awal diminta kepadanya: menjaga agar air tetap mengalir ke rumah-rumah warga PPU. (*)

    (Sf/Lo)

    Figur

    Dari Operator Pabrik hingga Memimpin AMDT, Abdul Rasyid dan Perjalanan Membenahi Perusahaan Air PPU

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    24 Agustus 2026 pukul 08:49 WITA

    Direktur Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT), Abdul Rasyid. (Dok. Abdul Rasyid).

    Penajam - Hampir satu dekade Abdul Rasyid berada di Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT). Ia datang ketika perusahaan air milik daerah itu sedang tidak sehat. Kini, jumlah pelanggan sudah menembus 18 ribu sambungan rumah, cakupan layanan tumbuh dan perusahaan mulai mencatat laba.

    Perjalanan itu tidak dimulai dari ruang direktur. Abdul Rasyid lahir di Enrekang 7 Juli 1978. Sebelum memimpin AMDT, ia menghabiskan 17 tahun bekerja di perusahaan amoniak di Bontang sebagai operator pabrik. Ia juga pernah menjadi pekerja di pabrik plywood pada 1998.

    Pendidikan membawanya hingga meraih gelar profesi insinyur dari Universitas Mulawarman dan Magister Hukum dari Universitas Balikpapan.

    Sekitar sembilan tahun lalu, ia meninggalkan Bontang dan datang ke PPU sebagai tenaga ahli bupati bidang pengembangan BUMD sekaligus dewan pengawas Perumda AMDT.

    Pergantian kepala daerah kemudian membuka seleksi direktur baru. Rasyid awalnya tidak berminat mengikuti seleksi. Namun karena jumlah peserta belum mencukupi, ia akhirnya mendaftar.

    Hasil seleksi menempatkannya sebagai peserta dengan nilai tertinggi. Pada September 2019, ia dilantik sebagai Direktur Perumda AMDT. Ada satu pesan yang masih diingatnya dari kepala daerah saat itu.

    "Bantu saya memberikan pelayanan air bersih kepada masyarakat PPU. Cuma itu saja, tidak ada embel-embel lain,” ucapnya.

    Pesan tersebut menjadi pekerjaan pertamanya.

    Tiga Bulan Pertama Bukan Mengejar Laba

    Ketika pertama masuk, persoalan AMDT bukan hanya soal air.

    "Sakit sekali Perumda awal pertama saya masuk. Tiap tahun rugi, bukannya laba. Sumber daya manusia juga belum terarah, kantor serba acak-acakan," kata Rasyid, diwawancarai di kantornya, Rabu (19/8/2026).

    Tiga bulan pertama ia justru mengurus bagian yang sering luput dari perhatian: kantor dan sumber daya manusia.

    Ia ikut mengecat dinding, mengangkat karpet hingga mendorong pegawai membangun kembali suasana kerja. "Lokasi kerja yang bagus akan membuat orang nyaman. Kedua, sumber daya manusia," ujarnya.

    Setelah internal mulai dibenahi, ia masuk ke persoalan yang lebih besar, yakni struktur tarif air. Tarif yang berlaku saat itu belum mampu menutup biaya produksi air, membuat AMDT terus berada dalam tekanan keuangan.

    Rasyid kemudian mengambil langkah menaikkan tarif untuk mengejar full cost recovery. Keputusan itu tidak mudah karena sempat mendapat penolakan dari masyarakat.

    Keputusan Berat: Tarif Air Dinaikkan

    Rasyid mengusulkan kenaikan tarif pada 2020. Keputusan baru disepakati setahun kemudian.Tarif air saat itu naik sekitar 30-40 persen.

    Keputusan tersebut sempat mendapat penolakan hingga dirinya didemo. Tetapi Rasyid tetap mempertahankan kebijakan tersebut karena menilai perusahaan tidak akan sehat jika tarif jauh di bawah biaya produksi.

    "Itu keputusan berat, namun saya harus berani demi kesehatan perusahaan, dengan tingkat pelayanan yang lebih maksimal," katanya.

    Hasilnya mulai terlihat setahun kemudian. Pada 2022, AMDT mencatat laba pertama sebesar Rp3,6 miliar setelah sebelumnya bertahun-tahun merugi. Di sisi pelayanan, zona air bergilir yang sebelumnya mencapai 22 zona dipangkas menjadi lima zona.

    Setelah dua tahun pertama difokuskan untuk menata perusahaan dan SDM, perhatian Rasyid bergeser pada perluasan pelayanan.

    Jumlah Sambungan Rumah (SR) yang ketika ia masuk sekitar 7 ribu kini mencapai 18 ribu SR. Cakupan layanan juga naik dari sekitar 27 persen menjadi 42 persen. Tetapi angka yang paling ia perhatikan justru bukan laba maupun jumlah pelanggan.

    "Kalau dulu sebulan bisa 400 keluhan, sekarang rata-rata tinggal 10 keluhan," ujarnya.

    Bagi Rasyid, perusahaan air belum bisa disebut berhasil selama masyarakat masih harus terus mengeluhkan layanan.

    "Perjuangan pelayanan perusahaan belum sampai di titik keberhasilan tertinggi apabila keluhan masih ada," katanya.

    Target 80 Persen dan Tantangan Berikutnya

    Perjalanan belum selesai. Target cakupan pelayanan yang hendak dicapai adalah 80 persen.

    Rasyid menilai target tersebut tetap harus dikejar, sebagaimana yang ditetapkan kepala daerah. Tetapi dengan melihat kondisi saat ini, ia menyebut 60 persen pada 2029 sebagai target yang lebih realistis.

    "Saya optimis bisa melampaui angka 60 persen, tapi agak khawatir dengan angka 80 persen," ujarnya.

    Di tengah target itu, AMDT juga harus tetap menjaga kesehatan perusahaan, meningkatkan kualitas SDM dan tidak kembali bergantung penuh pada pemerintah daerah.

    Dibentuk 17 Tahun di Perusahaan Jepang

    Cara Rasyid memimpin AMDT tidak lepas dari masa lalunya.

    Selama 17 tahun bekerja di perusahaan amoniak milik Jepang, ia mengaku banyak menyerap disiplin kerja dan kebiasaan membuat rencana sebelum memulai pekerjaan.

    "Saya harus mengakui bahwa saya dibentuk oleh tempat di mana 17 tahun saya mengabdi. Saya banyak mengambil pelajaran dari presiden direktur saya di perusahaan itu," tuturnya.

    Dari Bontang, ia kemudian menyaksikan PPU berubah. IKN tumbuh di Sepaku dan AMDT ikut masuk dalam pengembangan jaringan air bersih di kawasan tersebut.

    "Ada kebanggaan tersendiri, bagaimana saya menyaksikan tumbuhnya IKN dari nol, dan saat itu kami bekerja keras mengelola air bersih, mulai membangun jaringan di IKN," katanya.

    Jika suatu hari ia tidak lagi berada di kursi direktur, ada tiga hal yang ingin tetap ia lihat di AMDT: perusahaan semakin baik, SDM terus berkembang, dan laba tetap terjaga.

    Di luar pekerjaan, Rasyid memiliki kebiasaan bangun sebelum pukul 05.00 Wita. Ia juga punya kebiasaan membuat catatan kecil. Sebelum beraktivitas, pekerjaan yang akan dilakukan lebih dulu ia listing, lalu disusun dalam rencana.

    Kebiasaan kecil itu masih ia bawa sampai sekarang. Bagi Rasyid, pekerjaan yang baik dimulai dari rencana yang jelas.

    Prinsipnya sederhana: melakukan yang terbaik dari apa yang bisa dikerjakan.

    Dari pekerja pabrik hingga memimpin perusahaan air daerah, hampir satu dekade di AMDT membawanya pada satu pekerjaan yang sejak awal diminta kepadanya: menjaga agar air tetap mengalir ke rumah-rumah warga PPU. (*)

    (Sf/Lo)