Cari disini...
Figur
Hestiah dengan membawa produknya saat umroh. (Foto: Istimewa)
Tanjung Redeb – Dari dapur kecil di sudut rumahnya, Hestiah membuktikan bahwa ketulusan dan kerja keras bisa membawa seseorang menapaki mimpi yang tinggi. Perempuan kelahiran 7 Maret 1974 asal Kabupaten Berau ini sukses mewujudkan keinginannya menunaikan ibadah Umrah lewat usaha sederhana menjual bolu jadul dan puding kering.
Awalnya, membuat kue hanyalah sekadar hobi. Hampir setiap hari, ia mengaduk adonan, mencoba resep baru, dan menyuguhkan hasilnya untuk keluarga. Namun sejak 2017, hobi itu berkembang menjadi usaha kecil-kecilan. Produk pertama yang ia jual adalah bolu jadul, disusul dengan puding kering yang kini menjadi andalan.
"Usaha saya ini awalnya hanya dari rumah, karena memang suka bikin kue. Tapi lama-lama jadi ketagihan produksi, dan saya beranikan diri untuk mulai jualan," kata Hestiah.
Dibantu sang suami, seluruh proses produksi dan pengemasan dilakukan secara manual. Tanpa pengawet, tanpa pengembang, dan dibuat dengan resep rumahan. Kedua produk tersebut kini telah mengantongi izin edar dan sertifikasi halal.
"Kalau usaha pasti ada tantangannya. Modal, pengenalan ke pasar, sampai meyakinkan konsumen itu semua butuh waktu dan kesabaran," tuturnya.
Kini, produk yang diberi nama Lasaku—singkatan dari "sayangku"—semakin dikenal masyarakat Berau. Dengan tagline “Resep kasih sayang, rasa kerinduan”, Lasaku hadir di sejumlah ritel modern dan swalayan lokal. Hestiah juga aktif mempromosikan produknya melalui media sosial seperti Instagram (@icha_boulu74), Facebook (Hestiah Harapan), hingga WhatsApp.
Ciri khas produk Lasaku terletak pada tampilan visualnya. Puding kering dengan warna cerah dan bentuk menarik berhasil memikat pembeli dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak.
"Kalau ada acara keluar daerah, saya selalu bawa sampel produk. Saya kasih orang coba. Itu salah satu cara mengenalkan Lasaku," ungkapnya.
Selain memanfaatkan pemasaran digital, Hestiah rutin mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Berau untuk meningkatkan kapasitas UMKM. Dengan omzet bulanan Rp5 juta hingga Rp7 juta, ia terus berusaha mengembangkan bisnis kecilnya itu.
Namun, bukan angka penjualan yang paling membanggakan baginya. Melainkan mimpi yang berhasil diwujudkan: menunaikan ibadah Umrah dari hasil menjual kue rumahan.
"Kalau punya niat yang tulus dan dijalani dengan sungguh-sungguh, insya Allah semua dimudahkan. Jangan tunggu usaha besar baru menabung. Saya hanya jualan kue, tapi akhirnya bisa ke Madinah, bisa ke Baitullah," ujarnya, menahan haru.
Kini rumah Hestiah juga menjadi tempat orang-orang membeli oleh-oleh khas Berau. Di setiap kue yang dijual, tersimpan kisah perjuangan, kasih sayang, dan keyakinan yang tak pernah padam.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Figur

Hestiah dengan membawa produknya saat umroh. (Foto: Istimewa)
Tanjung Redeb – Dari dapur kecil di sudut rumahnya, Hestiah membuktikan bahwa ketulusan dan kerja keras bisa membawa seseorang menapaki mimpi yang tinggi. Perempuan kelahiran 7 Maret 1974 asal Kabupaten Berau ini sukses mewujudkan keinginannya menunaikan ibadah Umrah lewat usaha sederhana menjual bolu jadul dan puding kering.
Awalnya, membuat kue hanyalah sekadar hobi. Hampir setiap hari, ia mengaduk adonan, mencoba resep baru, dan menyuguhkan hasilnya untuk keluarga. Namun sejak 2017, hobi itu berkembang menjadi usaha kecil-kecilan. Produk pertama yang ia jual adalah bolu jadul, disusul dengan puding kering yang kini menjadi andalan.
"Usaha saya ini awalnya hanya dari rumah, karena memang suka bikin kue. Tapi lama-lama jadi ketagihan produksi, dan saya beranikan diri untuk mulai jualan," kata Hestiah.
Dibantu sang suami, seluruh proses produksi dan pengemasan dilakukan secara manual. Tanpa pengawet, tanpa pengembang, dan dibuat dengan resep rumahan. Kedua produk tersebut kini telah mengantongi izin edar dan sertifikasi halal.
"Kalau usaha pasti ada tantangannya. Modal, pengenalan ke pasar, sampai meyakinkan konsumen itu semua butuh waktu dan kesabaran," tuturnya.
Kini, produk yang diberi nama Lasaku—singkatan dari "sayangku"—semakin dikenal masyarakat Berau. Dengan tagline “Resep kasih sayang, rasa kerinduan”, Lasaku hadir di sejumlah ritel modern dan swalayan lokal. Hestiah juga aktif mempromosikan produknya melalui media sosial seperti Instagram (@icha_boulu74), Facebook (Hestiah Harapan), hingga WhatsApp.
Ciri khas produk Lasaku terletak pada tampilan visualnya. Puding kering dengan warna cerah dan bentuk menarik berhasil memikat pembeli dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak.
"Kalau ada acara keluar daerah, saya selalu bawa sampel produk. Saya kasih orang coba. Itu salah satu cara mengenalkan Lasaku," ungkapnya.
Selain memanfaatkan pemasaran digital, Hestiah rutin mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Berau untuk meningkatkan kapasitas UMKM. Dengan omzet bulanan Rp5 juta hingga Rp7 juta, ia terus berusaha mengembangkan bisnis kecilnya itu.
Namun, bukan angka penjualan yang paling membanggakan baginya. Melainkan mimpi yang berhasil diwujudkan: menunaikan ibadah Umrah dari hasil menjual kue rumahan.
"Kalau punya niat yang tulus dan dijalani dengan sungguh-sungguh, insya Allah semua dimudahkan. Jangan tunggu usaha besar baru menabung. Saya hanya jualan kue, tapi akhirnya bisa ke Madinah, bisa ke Baitullah," ujarnya, menahan haru.
Kini rumah Hestiah juga menjadi tempat orang-orang membeli oleh-oleh khas Berau. Di setiap kue yang dijual, tersimpan kisah perjuangan, kasih sayang, dan keyakinan yang tak pernah padam.
(Sf/Rs)