Figur

    Cerita Abdullah, Tak Kenal Lelah Membangun Sekolah 

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    11 September 2023 pukul 19:40 WITA

    PLH Sekolah Dasar Filial 005 Loa Kumbar, Abdullah. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    PADA Sila kelima Pancasila, negara menjamin adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini, tak terkecuali kesamaan hak semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Kesadaran ini, yang membikin Abdullah, seperti tanpa lelah, memperjuangkan pembangunan sekolah di kampungnya, Loa Kumbar. 

    Sebagai sebuah kampung yang masuk ke wilayah administrasi Kota Samarinda, nama Loa Kumbar barangkali relatif jarang terdengar. Sebabnya, kampung ini berada nun jauh dari Simpang Empat Lembuswana, Tepian Mahakam depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), atau kawasan-kawasan pusat kota lain, di Samarinda. 

    Hal ini pula, yang membikin fasilitas umum seperti sekolah juga terbilang belum maksimal. Karena lokasinya yang jauh, saat ini baru ada satu Sekolah Dasar (SD), itu-pun berstatus Filial alias cabang, dari sekolah lain. 

    Satu-satunya instansi pendidikan di Loa Kumbar itu bernama SD Filial 005 Loa Kumbar. Sekolah ini, adalah buah dari kegigihan Abdullah.

    Dengan fasilitas yang tergolong minim, sekolah ini sudah meluluskan 11 angkatan.  Sejak kampung tersebut dibuka oleh orang tua Abdullah, bernama H Hamzah tahun 1962 silam, baru 50 tahun setelahnya berdiri sebuah sekolah. 

    Dengan modal serba terbatas, Abdullah memanfaatkan gedung bekas milik perusahaan kayu plywood (kayu lapis) sebagai ruang kelas.

    Pria yang lahir di Loa Kumbar bertepatan dengan  peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu, menyebut dahulu kampungnya sempat mengalami masa kejayaan. Itu lantaran kampungnya yang semula hanya merupakan lahan pertanian dan perkebunan, tiba-tiba disulap menjadi kawasan industri kayu, ketika datangnya dua perusahaan pada 1982 yakni PT Wana Rimba Kencana dan PT Kayu Alam Perkasa. Sebagian lahan warga dibeli untuk membangun gedung-gedung perusahaan.

    Dua perusahaan itu juga seketika menyulap pekerjaan warga yang sebelumnya adalah petani, menjadi pekerja pabrik. 

    Abdullah sendiri, turut  bekerja di pabrik usai  menuntaskan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru Negeri Samarinda tahun 1988. 

    Karena dua pabrik itu, pada dekade 90-an warga Loa Kumbar mencapai  masa keemasan dan warga rata-rata sejahtera. Tapi, sebagaimana kata orang bijak, tak ada pesta yang tak usai. Hari itu pun datang. Awal 2005,  PT Kayu Alam Perkasa tutup, kemudian disusul PT Wana Rimba Kencana, yang turut gulung tikar pada tahun 2006. 

    Akibatnya, warga kembali ke setelan awal. Kembali bertani demi meneruskan hidup.
    Hal ini membuat kehidupan warga makin sulit. Lantaran, lokasi yang terbilang jauh membikin sulitnya mengakses pendidikan. Sementara pertanian, tak demikian baik menjanjikan kesejahteraan. 

    Kenyataan ini, membuat Abdullah gusar. Anak-anak Loa Kumbar, harus menyeberang ke ke Loa Duri hanya demi bisa bersekolah jenjang dasar. 
    Karenanya, tak sedikit orang tua murid menemani anaknya bersekolah, demi memastikan keamanan anak-anak mereka. Padahal, sawah harus diurus, kebun harus dijaga. 

    Hal inilah yang lalu memantik Abdullah memutar otak. Ia lalu berinisiatif   untuk mendirikan sekolah pada tahun 2012.

    Awalnya, Abdullah membantu perencanaan, pemenuhan persyaratan dan pula menghubungkan Dinas Pendidikan Kota Samarinda untuk pembentukan SD Filial tersebut dan rekrutmen guru. Murid yang belum memenuhi, ia pula menyambung komunikasi dengan Dinas Pendidikan Kabupatan Kutai Kartanegara untuk memindahkan murid dari Loa Duri. Akhirnya, tahun 2012 pembentukan dari kelas 1 hingga kelas 6 terisi semua

    Namun ia belum menjadi guru disitu, dua tahun berselang ditunjuk oleh Camat Sungai Kunjang dan UPT Pendidikan ditetapkan sebagai Plh Kepala  Sekolah SD Filial 005 dan menjadi guru sejak awal tahun 2014. Dirinya masih belum menyangka hal itu bisa terjadi. 

    "Saya sendiri enggak menyangka, selepas saya Sekolah itu langsung bekerja di pabrik, tidak melanjutkan sarjana, seharusnya yang mengisi kan ini orang-orang yang punya gelar," ungkap Abdullah kepada seputarfakta.com.

    Perjuangan tak berhenti sampai disitu, dirinya masih memiliki tanggung jawab yang besar untuk mensejahterakan guru di sekolah tersebut. Pasalnya, gaji guru disana jauh dari kata layak. Mereka selama tiga bulan kerja digaji Rp 2,4 juta.

    "Saya mengakui guru yang ditugaskan di sini mentalnya kuat-kuat seperti baja, mereka hanya mengharap nanti akan ada balasannya," bebernya.

    Membuat hati Abdullah pun tergerak untuk menyampaikan aspirasi ini kepada pemerintah. Agar digaji sesuai dengan kebutuhan transportasi dan tenaga. Ada guru yang berasal dari Palaran, dia menghabiskan bahan bakar setiap harinya Rp 7 ribu kala itu. Jika dikalkulasikan selama 25 hari mengajar bisa mencapai Rp 175 ribu. Jadi selama perbulan mereka kurang lebih hanya memegang Rp 500 ribu.

    Sampailah terdengar aspirasi tersebut ke DPRD, dan kemudian bertemu dengan Wali Kota Samarinda, saat itu Syahrie Jaang. Lagi-lagi Abdullah sebagai pemimpin di sekolah itu memperjuangkan gaji guru agar dinaikkan.

    Alhasil, sembilan orang guru mendapatkan perhatian khusus. Karena memiliki tantangan yang berbeda. "Memang dari segi status Mungkin banyak guru honor bekisar ribuan yang ada di kota Samarinda, tapi tantangannya kan berbeda," sebut ayah dua orang anak tersebut.

    Artinya mereka yang ditugaskan di kota ketika hujan bisa meneduh diantara gedung-gedung yang cukup untuk tidak membasahi bajunya. Berbeda dengan arah ke Loa Kumbar, ada yang melalui kapal dan ada pula yang melalui jalur curam.

    "Tantangannya juga kata orang, paling tidak nyawa taruhannya untuk sampai di Loa kumbar ini," ujar Abdullah.

    Jiwa optimis dari Abdullah selalu ditularkan kepada anak-anak untuk berdoa dan bekerja keras. Dia buktikan dengan shalat Dluha bareng bersama anak-anak sejak 2019. Ia selalu melancarkan doa agar kampung dan sekolahnya mendapatkan perhatian dari manapun.

    Akhirnya, 2023 ini momentum Wali Kota masa Jabatan 2021-2026, Andi Harun memberikan kabar baik dengan membangun gedung sekolah yang baru. Sehingga dari sinilah semangat Abdullah kembali terpancar. 

    Rumahnya yang menyatu dengan sekolah tersebut, selalu bersyukur ia tinggali bersama istrinya bernama Jumaidah. Sekelilingnya banyak keluarga dan selalu makan bareng setiap harinya. 

    Terakhir, Ia menitipkan pesan kepada generasi muda agar selalu memiliki tekad untuk memberikan terbaik di lingkungan sekitar.

    "Hanyalah tekad yang tersisa, gunakan semaksimalnya," tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Figur

    Cerita Abdullah, Tak Kenal Lelah Membangun Sekolah 

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    11 September 2023 pukul 19:40 WITA

    PLH Sekolah Dasar Filial 005 Loa Kumbar, Abdullah. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    PADA Sila kelima Pancasila, negara menjamin adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini, tak terkecuali kesamaan hak semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Kesadaran ini, yang membikin Abdullah, seperti tanpa lelah, memperjuangkan pembangunan sekolah di kampungnya, Loa Kumbar. 

    Sebagai sebuah kampung yang masuk ke wilayah administrasi Kota Samarinda, nama Loa Kumbar barangkali relatif jarang terdengar. Sebabnya, kampung ini berada nun jauh dari Simpang Empat Lembuswana, Tepian Mahakam depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), atau kawasan-kawasan pusat kota lain, di Samarinda. 

    Hal ini pula, yang membikin fasilitas umum seperti sekolah juga terbilang belum maksimal. Karena lokasinya yang jauh, saat ini baru ada satu Sekolah Dasar (SD), itu-pun berstatus Filial alias cabang, dari sekolah lain. 

    Satu-satunya instansi pendidikan di Loa Kumbar itu bernama SD Filial 005 Loa Kumbar. Sekolah ini, adalah buah dari kegigihan Abdullah.

    Dengan fasilitas yang tergolong minim, sekolah ini sudah meluluskan 11 angkatan.  Sejak kampung tersebut dibuka oleh orang tua Abdullah, bernama H Hamzah tahun 1962 silam, baru 50 tahun setelahnya berdiri sebuah sekolah. 

    Dengan modal serba terbatas, Abdullah memanfaatkan gedung bekas milik perusahaan kayu plywood (kayu lapis) sebagai ruang kelas.

    Pria yang lahir di Loa Kumbar bertepatan dengan  peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu, menyebut dahulu kampungnya sempat mengalami masa kejayaan. Itu lantaran kampungnya yang semula hanya merupakan lahan pertanian dan perkebunan, tiba-tiba disulap menjadi kawasan industri kayu, ketika datangnya dua perusahaan pada 1982 yakni PT Wana Rimba Kencana dan PT Kayu Alam Perkasa. Sebagian lahan warga dibeli untuk membangun gedung-gedung perusahaan.

    Dua perusahaan itu juga seketika menyulap pekerjaan warga yang sebelumnya adalah petani, menjadi pekerja pabrik. 

    Abdullah sendiri, turut  bekerja di pabrik usai  menuntaskan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru Negeri Samarinda tahun 1988. 

    Karena dua pabrik itu, pada dekade 90-an warga Loa Kumbar mencapai  masa keemasan dan warga rata-rata sejahtera. Tapi, sebagaimana kata orang bijak, tak ada pesta yang tak usai. Hari itu pun datang. Awal 2005,  PT Kayu Alam Perkasa tutup, kemudian disusul PT Wana Rimba Kencana, yang turut gulung tikar pada tahun 2006. 

    Akibatnya, warga kembali ke setelan awal. Kembali bertani demi meneruskan hidup.
    Hal ini membuat kehidupan warga makin sulit. Lantaran, lokasi yang terbilang jauh membikin sulitnya mengakses pendidikan. Sementara pertanian, tak demikian baik menjanjikan kesejahteraan. 

    Kenyataan ini, membuat Abdullah gusar. Anak-anak Loa Kumbar, harus menyeberang ke ke Loa Duri hanya demi bisa bersekolah jenjang dasar. 
    Karenanya, tak sedikit orang tua murid menemani anaknya bersekolah, demi memastikan keamanan anak-anak mereka. Padahal, sawah harus diurus, kebun harus dijaga. 

    Hal inilah yang lalu memantik Abdullah memutar otak. Ia lalu berinisiatif   untuk mendirikan sekolah pada tahun 2012.

    Awalnya, Abdullah membantu perencanaan, pemenuhan persyaratan dan pula menghubungkan Dinas Pendidikan Kota Samarinda untuk pembentukan SD Filial tersebut dan rekrutmen guru. Murid yang belum memenuhi, ia pula menyambung komunikasi dengan Dinas Pendidikan Kabupatan Kutai Kartanegara untuk memindahkan murid dari Loa Duri. Akhirnya, tahun 2012 pembentukan dari kelas 1 hingga kelas 6 terisi semua

    Namun ia belum menjadi guru disitu, dua tahun berselang ditunjuk oleh Camat Sungai Kunjang dan UPT Pendidikan ditetapkan sebagai Plh Kepala  Sekolah SD Filial 005 dan menjadi guru sejak awal tahun 2014. Dirinya masih belum menyangka hal itu bisa terjadi. 

    "Saya sendiri enggak menyangka, selepas saya Sekolah itu langsung bekerja di pabrik, tidak melanjutkan sarjana, seharusnya yang mengisi kan ini orang-orang yang punya gelar," ungkap Abdullah kepada seputarfakta.com.

    Perjuangan tak berhenti sampai disitu, dirinya masih memiliki tanggung jawab yang besar untuk mensejahterakan guru di sekolah tersebut. Pasalnya, gaji guru disana jauh dari kata layak. Mereka selama tiga bulan kerja digaji Rp 2,4 juta.

    "Saya mengakui guru yang ditugaskan di sini mentalnya kuat-kuat seperti baja, mereka hanya mengharap nanti akan ada balasannya," bebernya.

    Membuat hati Abdullah pun tergerak untuk menyampaikan aspirasi ini kepada pemerintah. Agar digaji sesuai dengan kebutuhan transportasi dan tenaga. Ada guru yang berasal dari Palaran, dia menghabiskan bahan bakar setiap harinya Rp 7 ribu kala itu. Jika dikalkulasikan selama 25 hari mengajar bisa mencapai Rp 175 ribu. Jadi selama perbulan mereka kurang lebih hanya memegang Rp 500 ribu.

    Sampailah terdengar aspirasi tersebut ke DPRD, dan kemudian bertemu dengan Wali Kota Samarinda, saat itu Syahrie Jaang. Lagi-lagi Abdullah sebagai pemimpin di sekolah itu memperjuangkan gaji guru agar dinaikkan.

    Alhasil, sembilan orang guru mendapatkan perhatian khusus. Karena memiliki tantangan yang berbeda. "Memang dari segi status Mungkin banyak guru honor bekisar ribuan yang ada di kota Samarinda, tapi tantangannya kan berbeda," sebut ayah dua orang anak tersebut.

    Artinya mereka yang ditugaskan di kota ketika hujan bisa meneduh diantara gedung-gedung yang cukup untuk tidak membasahi bajunya. Berbeda dengan arah ke Loa Kumbar, ada yang melalui kapal dan ada pula yang melalui jalur curam.

    "Tantangannya juga kata orang, paling tidak nyawa taruhannya untuk sampai di Loa kumbar ini," ujar Abdullah.

    Jiwa optimis dari Abdullah selalu ditularkan kepada anak-anak untuk berdoa dan bekerja keras. Dia buktikan dengan shalat Dluha bareng bersama anak-anak sejak 2019. Ia selalu melancarkan doa agar kampung dan sekolahnya mendapatkan perhatian dari manapun.

    Akhirnya, 2023 ini momentum Wali Kota masa Jabatan 2021-2026, Andi Harun memberikan kabar baik dengan membangun gedung sekolah yang baru. Sehingga dari sinilah semangat Abdullah kembali terpancar. 

    Rumahnya yang menyatu dengan sekolah tersebut, selalu bersyukur ia tinggali bersama istrinya bernama Jumaidah. Sekelilingnya banyak keluarga dan selalu makan bareng setiap harinya. 

    Terakhir, Ia menitipkan pesan kepada generasi muda agar selalu memiliki tekad untuk memberikan terbaik di lingkungan sekitar.

    "Hanyalah tekad yang tersisa, gunakan semaksimalnya," tutupnya.

    (Sf/Rs)