Cari disini...
Seputarfakta.com - Muhammad Anshori -
Figur
Musisi Etnis dan Komposer Kukar, Surya Ahadiannur. (Foto:Istimewa)
Tenggarong - Boyonesia nama Panggungnya, seorang musisi etnis, komposer sekaligus pemain alat musik tradisional Kelahiran asli Tenggarong yang mahir memainkan alat musik sape.
Surya Ahadiannur dengan nama panggungnya Boyonesia merupakan putra kelahiran asli Kutai Kartanegara (Kukar). Putra keempat dari pasangan Syamsuri Masdar dan Hariyani ini sangat mahir dalam memainkan alat Musik Tradisional Sape.
Perjalanan karir seorang Boyonesia tidaklah mudah. Putra kelahiran Tenggarong 1994 yang sangat hobi musik ini memilih untuk melanjutkan pendidikan S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yokyakarta demi memperdalam musik serta mempelajari seni musik lainnya.
Ia menjelaskan bahwa Boyonesia adalah sebuah solo project musik etnis Kalimantan Timur (Kaltim) yang dibangun pada 2018 dan bergerak di instrumental etnis music.
Proyeksi ini dibuat sebagai ruang eksplorasi pada seni musik terkhusus kesenian Kaltim, khususnya instrument Sape’/Sampeq milik suku Dayak Kenyah/Kayan sebagai medianya.
"Tidak menutup kemungkinan saya juga mempelajari musik etnis melayu Kutai untuk menambah ilmu dan pelestarian, sebagai pelaku seni wajib bagi saya untuk mengeksplore," ucap Boyonesia, Sabtu (30/12/2023).
Lahir dari keluarga yang berkecukupan dan bukan dari keluarga seniman tidak membuatnya menyerah untuk terus belajar. Mengenal seni sejak umur 4 tahun, ia mulai mendalami berkeseniannya saat berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 2014.
Dalam perjalanan bermusiknya pernah mengikuti beberapa festival lokal maupun nasional, seperti Lanjong Art Festival Kutai Kartanegara (Kukar), World Dance Day Solo, Festival Musik Tradisi Baru Tembi Yogyakarta dan beberapa Festival lainnya.
Pengalaman dalam seni, Boyonesia pernah berkolaborasi dengan beberapa seniman musik seperti Etson Caminha pada 2017, seniman musik experience Looping asal Timur Leste. Kemudian pada 2016-2021, dirinya berkolaborasi dengan band Reggae asal Yogyakarta, yakni Perahu Karet.
"Saya juga dengan Band Perahu Karet sudah mengeluarkan beberapa single salah satunya Senandung Nusantara," ungkapnya. Pada 2020< dirinya pernah mengikuti Residensi Gugus Bagong di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Yogyakarta dan mengikuti Festival Gambus Nusantara di Bangka Belitung.
Kemudian pada 2023, Boyonesia melanjutkan perjalanan kolaborasinya diawali pada program "Ada Panggung" yang difasilitasi oleh Ada Sarang Yogyakarta dengan mempertemukan seniman musik muda lintas Daerah.
Boyonesia pernah berkolaborasi dengan band Metal Kutai Kartanegara (Kukar) bernama KAPITAL pada even Nusantarock dan Kukarland. "Akhir-akhir ini saya juga sedang berkolaborasi dengan kelompok musik Etnis asal Samarinda bernama Nawasena yang dalam proses kreatifnya dengan komposisi musik etnis Kalimantan Timur," sebutnya.
Selain mendalami kesenian di bidang musik tradisional, Boyonesia juga merupakan seorang Scoring Film Production. Scoring Film adalah musik orisinal khusus untuk mengiringi sebuah film. Bagian dari jalur suara film yang juga mencakup dialog dan efek suara.
Ada delapan Film yang telah digarap, yakni Erau Adat Kutai, Puntun Dah Tulak, Layar Retak Untuk May, Perisai Mahakam, Arah Tinggal, Apo Lagaan, Bescov dan Tubuh Bersiasat.
Menutup akhir 2023 ini, Boyonesia sedang menjalankan Tour beberapa titik, yakni Samarinda dan Tenggarong dengan berkalaborasi bersama Ampas Kopi Band asal Samarinda. Ini adalah band pelestari lagu-lagu Iwan Fals dalam tournya difasilitasi Gudang Garam.
Untuk 2024, ia sedang menyusun beberapa program dan menyelesaikan proses kreatifnya dengan kelompok kesenian Kesultanan Kutai Kartanegara, Rawai Hewah sembari menyusun mini Album Boyonesia juga sedang menyusun program mandirinya yaitu Culture & Ride.
Program tersebut berwacana untuk keliling pulau Kalimantan, dalam perjalanannya juga sedang proses mempersiapkan beberapa karya baru yang akan dibuat.
Ia berharap, untuk semua anak muda di Kutai Kartanegara (Kukar) agar tidak takut untuk mengeksperikan diri, karena dalam diri seseorang memiliki seni yang tidak terlihat, maka dari itu dirinya mengajak untuk berkembang bersama dan belajar.
"Banyak wadah, banyak juga pelaku seni di Kukar untuk menggali ilmu. Saya juga mohon Do’a dan Restunya semoga diberikan kelancaran serta kesehatan dalam berkarya, sehingga bisa mengenalkan karya asli Kukar di Kancah Internasional," tutupnya.
(Sf/By)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Muhammad Anshori -
Figur

Musisi Etnis dan Komposer Kukar, Surya Ahadiannur. (Foto:Istimewa)
Tenggarong - Boyonesia nama Panggungnya, seorang musisi etnis, komposer sekaligus pemain alat musik tradisional Kelahiran asli Tenggarong yang mahir memainkan alat musik sape.
Surya Ahadiannur dengan nama panggungnya Boyonesia merupakan putra kelahiran asli Kutai Kartanegara (Kukar). Putra keempat dari pasangan Syamsuri Masdar dan Hariyani ini sangat mahir dalam memainkan alat Musik Tradisional Sape.
Perjalanan karir seorang Boyonesia tidaklah mudah. Putra kelahiran Tenggarong 1994 yang sangat hobi musik ini memilih untuk melanjutkan pendidikan S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yokyakarta demi memperdalam musik serta mempelajari seni musik lainnya.
Ia menjelaskan bahwa Boyonesia adalah sebuah solo project musik etnis Kalimantan Timur (Kaltim) yang dibangun pada 2018 dan bergerak di instrumental etnis music.
Proyeksi ini dibuat sebagai ruang eksplorasi pada seni musik terkhusus kesenian Kaltim, khususnya instrument Sape’/Sampeq milik suku Dayak Kenyah/Kayan sebagai medianya.
"Tidak menutup kemungkinan saya juga mempelajari musik etnis melayu Kutai untuk menambah ilmu dan pelestarian, sebagai pelaku seni wajib bagi saya untuk mengeksplore," ucap Boyonesia, Sabtu (30/12/2023).
Lahir dari keluarga yang berkecukupan dan bukan dari keluarga seniman tidak membuatnya menyerah untuk terus belajar. Mengenal seni sejak umur 4 tahun, ia mulai mendalami berkeseniannya saat berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 2014.
Dalam perjalanan bermusiknya pernah mengikuti beberapa festival lokal maupun nasional, seperti Lanjong Art Festival Kutai Kartanegara (Kukar), World Dance Day Solo, Festival Musik Tradisi Baru Tembi Yogyakarta dan beberapa Festival lainnya.
Pengalaman dalam seni, Boyonesia pernah berkolaborasi dengan beberapa seniman musik seperti Etson Caminha pada 2017, seniman musik experience Looping asal Timur Leste. Kemudian pada 2016-2021, dirinya berkolaborasi dengan band Reggae asal Yogyakarta, yakni Perahu Karet.
"Saya juga dengan Band Perahu Karet sudah mengeluarkan beberapa single salah satunya Senandung Nusantara," ungkapnya. Pada 2020< dirinya pernah mengikuti Residensi Gugus Bagong di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Yogyakarta dan mengikuti Festival Gambus Nusantara di Bangka Belitung.
Kemudian pada 2023, Boyonesia melanjutkan perjalanan kolaborasinya diawali pada program "Ada Panggung" yang difasilitasi oleh Ada Sarang Yogyakarta dengan mempertemukan seniman musik muda lintas Daerah.
Boyonesia pernah berkolaborasi dengan band Metal Kutai Kartanegara (Kukar) bernama KAPITAL pada even Nusantarock dan Kukarland. "Akhir-akhir ini saya juga sedang berkolaborasi dengan kelompok musik Etnis asal Samarinda bernama Nawasena yang dalam proses kreatifnya dengan komposisi musik etnis Kalimantan Timur," sebutnya.
Selain mendalami kesenian di bidang musik tradisional, Boyonesia juga merupakan seorang Scoring Film Production. Scoring Film adalah musik orisinal khusus untuk mengiringi sebuah film. Bagian dari jalur suara film yang juga mencakup dialog dan efek suara.
Ada delapan Film yang telah digarap, yakni Erau Adat Kutai, Puntun Dah Tulak, Layar Retak Untuk May, Perisai Mahakam, Arah Tinggal, Apo Lagaan, Bescov dan Tubuh Bersiasat.
Menutup akhir 2023 ini, Boyonesia sedang menjalankan Tour beberapa titik, yakni Samarinda dan Tenggarong dengan berkalaborasi bersama Ampas Kopi Band asal Samarinda. Ini adalah band pelestari lagu-lagu Iwan Fals dalam tournya difasilitasi Gudang Garam.
Untuk 2024, ia sedang menyusun beberapa program dan menyelesaikan proses kreatifnya dengan kelompok kesenian Kesultanan Kutai Kartanegara, Rawai Hewah sembari menyusun mini Album Boyonesia juga sedang menyusun program mandirinya yaitu Culture & Ride.
Program tersebut berwacana untuk keliling pulau Kalimantan, dalam perjalanannya juga sedang proses mempersiapkan beberapa karya baru yang akan dibuat.
Ia berharap, untuk semua anak muda di Kutai Kartanegara (Kukar) agar tidak takut untuk mengeksperikan diri, karena dalam diri seseorang memiliki seni yang tidak terlihat, maka dari itu dirinya mengajak untuk berkembang bersama dan belajar.
"Banyak wadah, banyak juga pelaku seni di Kukar untuk menggali ilmu. Saya juga mohon Do’a dan Restunya semoga diberikan kelancaran serta kesehatan dalam berkarya, sehingga bisa mengenalkan karya asli Kukar di Kancah Internasional," tutupnya.
(Sf/By)