Cari disini...
Seputarfakta.com - Agus Saputra -
Figur
Wakapolres PPU, Kompol Awan Kurnianto (Dok: Humaspolresppu)
Awan Kurnianto dikenal sebagai sosok perwira polisi yang kerap berkontribusi dalam menyelesaikan kasus-kasus kriminal besar yang sempat terjadi di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), salah satunya tragedi pembakaran rumah Adat Toraja di Sangatta, Kutai Timur (Kutim) beberapa tahun silam.
Di balik kiprahnya sebagai aparat kepolisian, pria kelahiran 22 April 1980 di Probolinggo Jawa Timur (Jatim) itu sempat bercita-cita menjadi seorang guru ketika muda.
Terlebih latar belakangnya dibesarkan langsung oleh kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru. Seiring berjalannya waktu, cita-cita yang sempat ia dambakan perlahan menghilang dari benaknya.
Saat duduk di bangku SMA, Awan mulai tertarik menjadi seorang polisi karena selain memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat, tapi juga dapat menjadi sarana untuk edukasi dan teladan bagi lingkungan sekitarnya.
“Ketika saya lulus dari bangku SMA pada 1998, saya langsung mendaftar sebagai anggota polri di Polda Jatim. Kala itu saya mengikuti tes Bintara selama enam bulan dan dinyatakan lulus,” kenang Awan saat berbincang santai dengan seputarfakta.com belum lama ini.
Usai dinyatakan lulus, Awan melanjutkan pendidikannya ke SPM Balikpapan Polda Kaltim bersama 170 peserta dari Polda Jatim. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Awan ditempatkan di Polres Bontang sebagai Staf Bag Ops.
Beberapa tahun kemudian atau tepatnya pada 2002, ia dipercaya menjadi bagian dari intelijen yang bertugas mengumpulkan informasi di lapangan guna mengungkap berbagai kasus kriminal.
Atas ketekunan dalam menjalankan tugas, Awan berkesempatan untuk mengikuti pendidikan perwira di Sukabumi pada 2008 dan ditugaskan sebagai Kanit Intelijen di Polres Kutim.
Berbekalkan pengalamannya di intelijen, Awan berhasil mengungkap daftar-daftar pelaku pembakaran rumah Adat Toraja di Sangatta melalui rekaman video yang tersimpan di ponsel BlackBerry miliknya.
“Saat insiden itu, saya orang pertama yang ada di lokasi. Kala itu saya merekam insiden pembakaran dengan ponsel BlackBerry. Dari rekaman itu kita mudah mengetahui siapa saja pelaku pembakaran,” terangnya.
Awan mengaku sempat menjabat sebagai Kapolsek Kaliurang, Kasat Intel Polresta Bulungan, Kabag SDM Polres Kutim, Kabag Ops Polres Bontang dan kini menjabat Wakapolres PPU.
Meski kerap dipindahtugaskan dan melalui perjalanan karir yang berliku, Awan mengaku telah menjalaninya demi pengabdian terhadap negara, serta tanggung jawab sebagai polri dalam menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Awan berkomitmen akan melayani masyarakat dengan sepenuh hati dan menegaskan dirinya tidak akan menjadi bagian dari oknum-oknum polisi yang menyengsarakan masyarakat.
“Apa yang saya gapai sekarang ini tidak lepas dari dukungan orang tua,” ungkapnya.
Ia berharap di balik kisahnya dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi masyarakat, terutama kalangan muda yang berusaha menggapai impiannya.
Meski tidak berjalan mulus, jika bermodalkan tekad dan kerja keras, maka niscaya setiap perjuangan akan membuahkan hasil.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Agus Saputra -
Figur

Wakapolres PPU, Kompol Awan Kurnianto (Dok: Humaspolresppu)
Awan Kurnianto dikenal sebagai sosok perwira polisi yang kerap berkontribusi dalam menyelesaikan kasus-kasus kriminal besar yang sempat terjadi di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), salah satunya tragedi pembakaran rumah Adat Toraja di Sangatta, Kutai Timur (Kutim) beberapa tahun silam.
Di balik kiprahnya sebagai aparat kepolisian, pria kelahiran 22 April 1980 di Probolinggo Jawa Timur (Jatim) itu sempat bercita-cita menjadi seorang guru ketika muda.
Terlebih latar belakangnya dibesarkan langsung oleh kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru. Seiring berjalannya waktu, cita-cita yang sempat ia dambakan perlahan menghilang dari benaknya.
Saat duduk di bangku SMA, Awan mulai tertarik menjadi seorang polisi karena selain memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat, tapi juga dapat menjadi sarana untuk edukasi dan teladan bagi lingkungan sekitarnya.
“Ketika saya lulus dari bangku SMA pada 1998, saya langsung mendaftar sebagai anggota polri di Polda Jatim. Kala itu saya mengikuti tes Bintara selama enam bulan dan dinyatakan lulus,” kenang Awan saat berbincang santai dengan seputarfakta.com belum lama ini.
Usai dinyatakan lulus, Awan melanjutkan pendidikannya ke SPM Balikpapan Polda Kaltim bersama 170 peserta dari Polda Jatim. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Awan ditempatkan di Polres Bontang sebagai Staf Bag Ops.
Beberapa tahun kemudian atau tepatnya pada 2002, ia dipercaya menjadi bagian dari intelijen yang bertugas mengumpulkan informasi di lapangan guna mengungkap berbagai kasus kriminal.
Atas ketekunan dalam menjalankan tugas, Awan berkesempatan untuk mengikuti pendidikan perwira di Sukabumi pada 2008 dan ditugaskan sebagai Kanit Intelijen di Polres Kutim.
Berbekalkan pengalamannya di intelijen, Awan berhasil mengungkap daftar-daftar pelaku pembakaran rumah Adat Toraja di Sangatta melalui rekaman video yang tersimpan di ponsel BlackBerry miliknya.
“Saat insiden itu, saya orang pertama yang ada di lokasi. Kala itu saya merekam insiden pembakaran dengan ponsel BlackBerry. Dari rekaman itu kita mudah mengetahui siapa saja pelaku pembakaran,” terangnya.
Awan mengaku sempat menjabat sebagai Kapolsek Kaliurang, Kasat Intel Polresta Bulungan, Kabag SDM Polres Kutim, Kabag Ops Polres Bontang dan kini menjabat Wakapolres PPU.
Meski kerap dipindahtugaskan dan melalui perjalanan karir yang berliku, Awan mengaku telah menjalaninya demi pengabdian terhadap negara, serta tanggung jawab sebagai polri dalam menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Awan berkomitmen akan melayani masyarakat dengan sepenuh hati dan menegaskan dirinya tidak akan menjadi bagian dari oknum-oknum polisi yang menyengsarakan masyarakat.
“Apa yang saya gapai sekarang ini tidak lepas dari dukungan orang tua,” ungkapnya.
Ia berharap di balik kisahnya dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi masyarakat, terutama kalangan muda yang berusaha menggapai impiannya.
Meski tidak berjalan mulus, jika bermodalkan tekad dan kerja keras, maka niscaya setiap perjuangan akan membuahkan hasil.
(Sf/Lo)