Figur

    Achmad Junaidi, dari Panggung Teater hingga Membawa Cerita Kaltim ke Layar Dunia

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    22 September 2026 pukul 22:48 WITA

    Filmmaker, Achmad Junaidi. (Dok: Achmad Junaidi)

    Samarinda - Dari panggung teater sekolah hingga membawa film produksi Kaltim ke ruang festival internasional. 

    Perjalanan itu dilalui Achmad Junaidi, atau akrab disapa Jun, yang sejak muda memilih seni sebagai ruang untuk belajar, bekerja, sekaligus menyuarakan cerita dari lingkungan sekitarnya.

    Lahir di Samarinda pada 2 Februari 1990, Jun tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan seni. 

    Orangtuanya berkecimpung di dunia musik dan kesenian sehingga aktivitas berkesenian bukan sesuatu yang asing baginya. Sejak 2009, ia aktif sebagai praktisi seni pertunjukan yang kemudian berkembang ke dunia film.

    Saat masih bersekolah, Jun mulai terlibat dalam teater. Ia tidak hanya belajar bermain peran, tetapi juga mengerjakan musik dan scoring untuk pertunjukan maupun film. Pengalaman tersebut perlahan mengenalkannya pada dunia audiovisual dan produksi film.

    Sekitar 2007–2008, ia mendapat pengalaman di televisi melalui program TVRI “Belang-Belang”. Setelah menyelesaikan sekolah, ia tetap aktif di dunia teater sekaligus mulai mencari pengalaman profesional di berbagai bidang.

    Pada 2010, Jun mendapat kesempatan bergabung dalam produksi film Rapi Films “3 Pejantan Tanggung” di bagian artistik. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan melihat langsung bagaimana industri film bekerja dari balik layar.

    Pada periode yang sama, ia juga menapaki pengalaman kerja di luar film. Ia bekerja sebagai kerani di PT Gunta Samba, Kutai Timur, pada 2010–2011. Setelah itu, pada 2011–2012, ia bekerja sebagai promo konsultan di CV Halaka Entertainment.

    Pengalaman di berbagai bidang tersebut kemudian memperluas kemampuannya dalam bekerja di industri kreatif. Pada 2012, ia kembali masuk ke produksi film sebagai asisten sutradara dalam “Parang Maya”.

    Setahun kemudian, Jun tampil sebagai aktor sekaligus produser dalam film “Gambaran” garapan Awe Ajo. Film tersebut mengikuti sejumlah festival dan meraih penghargaan di Festival Film Kawah Kaltim Nasional di Tenggarong serta Lanjong Art Festival.

    Tahun 2013 juga menjadi fase penting dalam perjalanan profesionalnya di industri media. Jun bergabung dengan Samarinda TV dan menangani produksi serta teknis. Selama 2013–2015, pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai pekerjaan di balik layar, termasuk pengelolaan produksi.

    Pada 2015, ia melanjutkan karier di Kaltim Post Samarinda sebagai koordinator marketing. Di tahun yang sama, ia kemudian dipercaya menjadi General Manager Radio KPFM Samarinda dan menjalankan peran tersebut hingga 2018.

    Dunia media memberinya pengalaman yang berbeda dari produksi film. Selain memahami teknis produksi, Jun belajar tentang manajemen, pemasaran, komunikasi dan pengelolaan sebuah organisasi. Pengalaman itu kelak menjadi bekal ketika ia mulai membangun ruang kreatifnya sendiri.

    Pada 2017–2019, Jun bersama rekan-rekannya mendirikan You Kaltim Creative Space. Di sana ia berperan sebagai Co-Founder sekaligus Direktur Operasional. Ruang tersebut menjadi salah satu bagian dari aktivitasnya dalam membangun ekosistem kreatif di Samarinda.

    Namun, dunia film tetap menjadi ruang yang terus ia kejar. Di sela berbagai aktivitas tersebut, Jun tetap memproduksi dan terlibat dalam film-film pendek berbasis komunitas.

    Pada 2021, ia menjadi line producer dalam film “Distrik 0541”. Kemudian pada 2023, ia terlibat sebagai aktor sekaligus produser dalam “Hantu Banyu”, film yang diproduksi di Desa Pela, Kutai Kartanegara.

    Keinginannya membangun produksi sendiri kemudian berkembang lebih jauh. Setelah memproduksi sejumlah film, Jun membangun production house miliknya sendiri yang kemudian bernama Wisma Citra Cinema.

    Berdasarkan data perizinan usaha, CV Wisma Citra Cinema memperoleh Nomor Induk Berusaha pada 13 Juli 2024. Kehadiran rumah produksi tersebut menjadi bagian dari langkah Jun membangun ruang produksi sendiri sekaligus melanjutkan aktivitasnya di dunia film.

    Tahun 2024 menjadi salah satu periode produktif. Ia menjadi produser sekaligus aktor dalam film “Lamak”, serta produser film “Nyanyian Sunyi” yang diproduksi di Bontang.

    Di tengah perjalanan sebagai praktisi, Jun juga memilih kembali ke bangku pendidikan untuk memperdalam ilmu perfilman. Ia menjadi mahasiswa dalam program Film dan Televisi melalui beasiswa Seniman Multi Usia di ISI/ISBI Kaltim pada 2024/2025.

    Setelah bertahun-tahun belajar melalui pengalaman lapangan, keputusan tersebut menjadi upayanya mempertemukan pengalaman praktis dengan pengetahuan akademik. Dari proses itu, kiprahnya sebagai sutradara semakin berkembang.

    Salah satunya melalui film “Amara” pada 2025. Film tersebut terpilih dalam sejumlah festival, termasuk official selection Sinema Akhir Tahun dan Lift-Off Global. “Amara” juga mendapat kesempatan diputar dalam International Inter-Student di Dhaka University, Bangladesh.

    Film berikutnya, “Jenaka'Inya”, menjadi salah satu karya terbaru Jun sebagai sutradara pada 2026. Karya-karyanya menunjukkan upayanya mengolah cerita lokal dengan pendekatan film yang dapat dibawa ke ruang yang lebih luas.

    Perjalanan tersebut tidak dibangun dengan fasilitas yang serba tersedia. Pada masa awal berkarya, Jun menghadapi keterbatasan informasi, pengetahuan, peralatan, hingga sumber daya manusia yang memahami teknis perfilman.

    “Dulu kita itu kekurangan informasi, kekurangan pengetahuan. Apalagi memang untuk sekolah seni di Kaltim itu belum ada, khususnya film,” ujar Junaidi, Senin (21/9/2026).

    Menurutnya, persoalan terbesar bukan pada kekurangan cerita. Justru Kaltim memiliki banyak bahan yang dapat diangkat menjadi film. Tantangannya adalah bagaimana sumber daya manusia di daerah mampu mengolah cerita tersebut dengan kemampuan teknis dan pengetahuan yang terus berkembang.

    Perjalanan sebagai filmmaker juga harus berjalan beriringan dengan kehidupan keluarga. Jun menikah pada 2012 dan memiliki anak pertama pada 2013. Menjadi kepala keluarga, pekerja kreatif, sekaligus mahasiswa membuatnya harus membagi waktu dan tenaga dalam berbagai situasi.

    Ada masa ketika proses produksi tetap harus diselesaikan di tengah kondisi keluarga yang membutuhkan perhatian. Namun, sebagai bagian dari sebuah produksi film yang melibatkan banyak orang, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menuntaskan pekerjaan.

    “Karena film itu kan kolektif, kita punya tanggung jawab moral untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Jadi bagaimanapun kondisinya, ya kita harus selesaikan,” katanya.

    Prinsip tersebut menjadi pegangan Jun dalam menjalani dunia yang telah dipilihnya. Baginya, menjadi pekerja seni bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga bertahan dalam proses dan menyelesaikan apa yang telah dimulai.

    “Karena ini dunia yang saya pilih, ya saya pertahankan. Saya nikmati prosesnya dan saya selesaikan karya itu bagaimanapun caranya,” ujarnya.

    Kepada generasi muda yang ingin masuk ke dunia film, Jun berpesan agar rasa suka terhadap film tidak berhenti pada keinginan membuat karya. Proses belajar harus terus dilakukan dengan memproduksi film, banyak menonton, membaca, serta membangun kepekaan terhadap lingkungan.

    “Terus cintai film, terus berkarya, terus belajar, banyak nonton, banyak baca dan lebih peka terhadap sekitar,” katanya.

    Sebab, menurut Jun, cerita yang menarik tidak selalu berada jauh dari kehidupan. Banyak di antaranya justru tumbuh dari lingkungan yang setiap hari dilihat dan dijalani.

    “Karena apa yang orang sangat tertarik di luar sana adalah apa yang kita sering abaikan di sekitar kita sih sebenarnya. Jadi lebih aware aja,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Figur

    Achmad Junaidi, dari Panggung Teater hingga Membawa Cerita Kaltim ke Layar Dunia

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    22 September 2026 pukul 22:48 WITA

    Filmmaker, Achmad Junaidi. (Dok: Achmad Junaidi)

    Samarinda - Dari panggung teater sekolah hingga membawa film produksi Kaltim ke ruang festival internasional. 

    Perjalanan itu dilalui Achmad Junaidi, atau akrab disapa Jun, yang sejak muda memilih seni sebagai ruang untuk belajar, bekerja, sekaligus menyuarakan cerita dari lingkungan sekitarnya.

    Lahir di Samarinda pada 2 Februari 1990, Jun tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan seni. 

    Orangtuanya berkecimpung di dunia musik dan kesenian sehingga aktivitas berkesenian bukan sesuatu yang asing baginya. Sejak 2009, ia aktif sebagai praktisi seni pertunjukan yang kemudian berkembang ke dunia film.

    Saat masih bersekolah, Jun mulai terlibat dalam teater. Ia tidak hanya belajar bermain peran, tetapi juga mengerjakan musik dan scoring untuk pertunjukan maupun film. Pengalaman tersebut perlahan mengenalkannya pada dunia audiovisual dan produksi film.

    Sekitar 2007–2008, ia mendapat pengalaman di televisi melalui program TVRI “Belang-Belang”. Setelah menyelesaikan sekolah, ia tetap aktif di dunia teater sekaligus mulai mencari pengalaman profesional di berbagai bidang.

    Pada 2010, Jun mendapat kesempatan bergabung dalam produksi film Rapi Films “3 Pejantan Tanggung” di bagian artistik. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan melihat langsung bagaimana industri film bekerja dari balik layar.

    Pada periode yang sama, ia juga menapaki pengalaman kerja di luar film. Ia bekerja sebagai kerani di PT Gunta Samba, Kutai Timur, pada 2010–2011. Setelah itu, pada 2011–2012, ia bekerja sebagai promo konsultan di CV Halaka Entertainment.

    Pengalaman di berbagai bidang tersebut kemudian memperluas kemampuannya dalam bekerja di industri kreatif. Pada 2012, ia kembali masuk ke produksi film sebagai asisten sutradara dalam “Parang Maya”.

    Setahun kemudian, Jun tampil sebagai aktor sekaligus produser dalam film “Gambaran” garapan Awe Ajo. Film tersebut mengikuti sejumlah festival dan meraih penghargaan di Festival Film Kawah Kaltim Nasional di Tenggarong serta Lanjong Art Festival.

    Tahun 2013 juga menjadi fase penting dalam perjalanan profesionalnya di industri media. Jun bergabung dengan Samarinda TV dan menangani produksi serta teknis. Selama 2013–2015, pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai pekerjaan di balik layar, termasuk pengelolaan produksi.

    Pada 2015, ia melanjutkan karier di Kaltim Post Samarinda sebagai koordinator marketing. Di tahun yang sama, ia kemudian dipercaya menjadi General Manager Radio KPFM Samarinda dan menjalankan peran tersebut hingga 2018.

    Dunia media memberinya pengalaman yang berbeda dari produksi film. Selain memahami teknis produksi, Jun belajar tentang manajemen, pemasaran, komunikasi dan pengelolaan sebuah organisasi. Pengalaman itu kelak menjadi bekal ketika ia mulai membangun ruang kreatifnya sendiri.

    Pada 2017–2019, Jun bersama rekan-rekannya mendirikan You Kaltim Creative Space. Di sana ia berperan sebagai Co-Founder sekaligus Direktur Operasional. Ruang tersebut menjadi salah satu bagian dari aktivitasnya dalam membangun ekosistem kreatif di Samarinda.

    Namun, dunia film tetap menjadi ruang yang terus ia kejar. Di sela berbagai aktivitas tersebut, Jun tetap memproduksi dan terlibat dalam film-film pendek berbasis komunitas.

    Pada 2021, ia menjadi line producer dalam film “Distrik 0541”. Kemudian pada 2023, ia terlibat sebagai aktor sekaligus produser dalam “Hantu Banyu”, film yang diproduksi di Desa Pela, Kutai Kartanegara.

    Keinginannya membangun produksi sendiri kemudian berkembang lebih jauh. Setelah memproduksi sejumlah film, Jun membangun production house miliknya sendiri yang kemudian bernama Wisma Citra Cinema.

    Berdasarkan data perizinan usaha, CV Wisma Citra Cinema memperoleh Nomor Induk Berusaha pada 13 Juli 2024. Kehadiran rumah produksi tersebut menjadi bagian dari langkah Jun membangun ruang produksi sendiri sekaligus melanjutkan aktivitasnya di dunia film.

    Tahun 2024 menjadi salah satu periode produktif. Ia menjadi produser sekaligus aktor dalam film “Lamak”, serta produser film “Nyanyian Sunyi” yang diproduksi di Bontang.

    Di tengah perjalanan sebagai praktisi, Jun juga memilih kembali ke bangku pendidikan untuk memperdalam ilmu perfilman. Ia menjadi mahasiswa dalam program Film dan Televisi melalui beasiswa Seniman Multi Usia di ISI/ISBI Kaltim pada 2024/2025.

    Setelah bertahun-tahun belajar melalui pengalaman lapangan, keputusan tersebut menjadi upayanya mempertemukan pengalaman praktis dengan pengetahuan akademik. Dari proses itu, kiprahnya sebagai sutradara semakin berkembang.

    Salah satunya melalui film “Amara” pada 2025. Film tersebut terpilih dalam sejumlah festival, termasuk official selection Sinema Akhir Tahun dan Lift-Off Global. “Amara” juga mendapat kesempatan diputar dalam International Inter-Student di Dhaka University, Bangladesh.

    Film berikutnya, “Jenaka'Inya”, menjadi salah satu karya terbaru Jun sebagai sutradara pada 2026. Karya-karyanya menunjukkan upayanya mengolah cerita lokal dengan pendekatan film yang dapat dibawa ke ruang yang lebih luas.

    Perjalanan tersebut tidak dibangun dengan fasilitas yang serba tersedia. Pada masa awal berkarya, Jun menghadapi keterbatasan informasi, pengetahuan, peralatan, hingga sumber daya manusia yang memahami teknis perfilman.

    “Dulu kita itu kekurangan informasi, kekurangan pengetahuan. Apalagi memang untuk sekolah seni di Kaltim itu belum ada, khususnya film,” ujar Junaidi, Senin (21/9/2026).

    Menurutnya, persoalan terbesar bukan pada kekurangan cerita. Justru Kaltim memiliki banyak bahan yang dapat diangkat menjadi film. Tantangannya adalah bagaimana sumber daya manusia di daerah mampu mengolah cerita tersebut dengan kemampuan teknis dan pengetahuan yang terus berkembang.

    Perjalanan sebagai filmmaker juga harus berjalan beriringan dengan kehidupan keluarga. Jun menikah pada 2012 dan memiliki anak pertama pada 2013. Menjadi kepala keluarga, pekerja kreatif, sekaligus mahasiswa membuatnya harus membagi waktu dan tenaga dalam berbagai situasi.

    Ada masa ketika proses produksi tetap harus diselesaikan di tengah kondisi keluarga yang membutuhkan perhatian. Namun, sebagai bagian dari sebuah produksi film yang melibatkan banyak orang, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menuntaskan pekerjaan.

    “Karena film itu kan kolektif, kita punya tanggung jawab moral untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Jadi bagaimanapun kondisinya, ya kita harus selesaikan,” katanya.

    Prinsip tersebut menjadi pegangan Jun dalam menjalani dunia yang telah dipilihnya. Baginya, menjadi pekerja seni bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga bertahan dalam proses dan menyelesaikan apa yang telah dimulai.

    “Karena ini dunia yang saya pilih, ya saya pertahankan. Saya nikmati prosesnya dan saya selesaikan karya itu bagaimanapun caranya,” ujarnya.

    Kepada generasi muda yang ingin masuk ke dunia film, Jun berpesan agar rasa suka terhadap film tidak berhenti pada keinginan membuat karya. Proses belajar harus terus dilakukan dengan memproduksi film, banyak menonton, membaca, serta membangun kepekaan terhadap lingkungan.

    “Terus cintai film, terus berkarya, terus belajar, banyak nonton, banyak baca dan lebih peka terhadap sekitar,” katanya.

    Sebab, menurut Jun, cerita yang menarik tidak selalu berada jauh dari kehidupan. Banyak di antaranya justru tumbuh dari lingkungan yang setiap hari dilihat dan dijalani.

    “Karena apa yang orang sangat tertarik di luar sana adalah apa yang kita sering abaikan di sekitar kita sih sebenarnya. Jadi lebih aware aja,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)