Seputar Fakta

    Feature

    Relawan Balakarcana Cendana Samarinda Bergerak ke Pesisir Kukar Bantu Padamkan Karhutla

    Penulis:Arman Maulana|Redaktur:Lodya A
    29 Oktober 2026 pukul 16:11 WITA

    Relawan Cendana bersama tim UPTD KPHP Santan dan Delta Mahakam siapkan peralatan untuk penanganan karhutla. (Foto: Relawan Balakarcana Cendana)

    Samarinda - Di tengah keterbatasan personel di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Relawan Balakarcana Unit Cendana asal Samarinda konsisten bergerak membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Dedikasi itu terlihat dari intensitas pergerakan mereka yang hampir tanpa jeda. Hal itu diungkapkan saat ditemui di Pos Balakarcana, Jalan Cendana, Samarinda, Selasa (27/10/2026).

    Koordinator Lapangan Balakarcana Unit Cendana, Iwan Rio, mengungkapkan timnya memilih keluar dari zona nyaman Kota Samarinda karena panggilan kemanusiaan di wilayah pesisir yang jauh lebih membutuhkan.

    "Relawan Samarinda nih ibaratnya, khususnya Cendana nih yang sampai ke luar ya, kami nih tiap hari keluar," ujar Iwan membuka cerita.

    Menurutnya, keputusan itu bukan tanpa alasan. Jika di Samarinda penanganan karhutla sudah cukup ter-cover oleh banyaknya relawan dan instansi, kondisi berbanding terbalik justru terjadi di Kukar.

    "Kalau penanganan di dalam kota Samarinda kan sudah banyak. Kalau di Kabupaten Kutai Kartanegara nih kurang," katanya.

    Iwan mencontohkan langsung wilayah yang ia datangi dalam beberapa hari terakhir, yakni Kecamatan Muara Badak dan Muara Jawa. Di sana, keluhan warga hampir seragam, yakni minimnya armada pemadam.

    "Maksudnya Muara Badak kan Kutai Kartanegara, pokoknya pesisir mereka itu Kukar, mereka tuh ngeluhnya itu cuma satu aja, pemadamnya cuma satu aja," ungkap Iwan.

    Minimnya personel diperparah dengan medan yang ekstrem. Lahan gambut yang dalam, akses jalan yang sulit, serta sumber air yang jauh membuat proses pemadaman memakan waktu berjam-jam hingga berhari-hari. Tidak sedikit tim yang akhirnya menyerah di tengah tugas.

    Iwan menceritakan kondisi nyata yang ia saksikan. Ketika tim Cendana tiba di lokasi untuk melakukan backup, mereka mendapati rekan-rekan dari unit lain sudah dalam kondisi kelelahan fisik yang luar biasa.

    "Ada Unit Bentong di Kukar, di Muara Jawa. Contohnya kami datang mereka istirahat. Capek Betul. Asli mereka tuh kayak merokok nih ngangkat rokoknya gemetar gini loh. Walaupun kami disuplai makanan, tapi kalau tenaga sisa sedikit ya mau diapain lagi," ceritanya dengan nada prihatin.

    Menurutnya, kondisi itu menjadi potret betapa beratnya perjuangan di lapangan. Mereka berjibaku siang dan malam, menghirup asap pekat, berpanas-panasan, bahkan hingga malam hari tetap melakukan pendinginan agar api tidak kembali menyala.

    Di tengah keterbatasan itu, Relawan Cendana tidak bergerak sendiri. Di lapangan mereka berkolaborasi dengan UPTD KPHP Santan dan UPTD KPHP Delta Mahakam, serta warga setempat yang ikut membantu.

    Sementara itu, dari sisi operasional, Operator Mesin Balakarcana Unit Cendana, Reza Firmansyah Putra, menyuarakan harapan yang paling mendesak dibutuhkan relawan saat ini yaitu dukungan logistik.

    "Harapannya, kita sebagai relawan ini selama karhutla ini, tolong bantu kami dalam hal segi kami di lapangan seperti BBM, dengan segala permesinan, peralatan kami," ujar Reza.

    Reza menegaskan, apa yang mereka lakukan murni panggilan hati. Tidak ada hitungan untung rugi. "Karena jujur, kami ini sebagai relawan, niat kami menolong. Untuk membantu segalanya pun kita ikhlas tanpa ada harapan. Itulah permintaan kami, mudah-mudahan pemerintah dapat membantu kami selama karhutla ini," katanya.

    Namun, ia juga mengingatkan bahwa pemadaman tidak akan pernah selesai jika pencegahan di tingkat masyarakat tidak dilakukan. Ia pun menitip pesan keras namun membangun bagi masyarakat yang masih membuka lahan dengan cara membakar.

    "Untuk masyarakat, buat kedepannya tolong lahannya dijaga, kalaupun mau membakar tolong dikasih sekat dulu, dibikin sekat dulu kalau membakar lahan agar tidak meluas ke mana-mana," imbaunya.

    Bagi Reza, dampak karhutla bukan hanya soal lahan yang hangus, melainkan kesehatan ribuan warga yang ikut menjadi korban.

    "Karena dampaknya itu selama karhutla ini, kita susah bernapas dan sudah banyak nih contohnya yang masuk rumah sakit yang terkena ISPA. Kasihan juga untuk yang anak-anak, segala orang-orang tua yang sudah ada penyakit, kan kita menghindari asapnya ini loh. Itu aja sih harapan kami dari Relawan Cendana," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Feature

    Relawan Balakarcana Cendana Samarinda Bergerak ke Pesisir Kukar Bantu Padamkan Karhutla

    Penulis:Arman Maulana|Redaktur:Lodya A
    29 Oktober 2026 pukul 16:11 WITA

    Relawan Cendana bersama tim UPTD KPHP Santan dan Delta Mahakam siapkan peralatan untuk penanganan karhutla. (Foto: Relawan Balakarcana Cendana)

    Samarinda - Di tengah keterbatasan personel di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Relawan Balakarcana Unit Cendana asal Samarinda konsisten bergerak membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Dedikasi itu terlihat dari intensitas pergerakan mereka yang hampir tanpa jeda. Hal itu diungkapkan saat ditemui di Pos Balakarcana, Jalan Cendana, Samarinda, Selasa (27/10/2026).

    Koordinator Lapangan Balakarcana Unit Cendana, Iwan Rio, mengungkapkan timnya memilih keluar dari zona nyaman Kota Samarinda karena panggilan kemanusiaan di wilayah pesisir yang jauh lebih membutuhkan.

    "Relawan Samarinda nih ibaratnya, khususnya Cendana nih yang sampai ke luar ya, kami nih tiap hari keluar," ujar Iwan membuka cerita.

    Menurutnya, keputusan itu bukan tanpa alasan. Jika di Samarinda penanganan karhutla sudah cukup ter-cover oleh banyaknya relawan dan instansi, kondisi berbanding terbalik justru terjadi di Kukar.

    "Kalau penanganan di dalam kota Samarinda kan sudah banyak. Kalau di Kabupaten Kutai Kartanegara nih kurang," katanya.

    Iwan mencontohkan langsung wilayah yang ia datangi dalam beberapa hari terakhir, yakni Kecamatan Muara Badak dan Muara Jawa. Di sana, keluhan warga hampir seragam, yakni minimnya armada pemadam.

    "Maksudnya Muara Badak kan Kutai Kartanegara, pokoknya pesisir mereka itu Kukar, mereka tuh ngeluhnya itu cuma satu aja, pemadamnya cuma satu aja," ungkap Iwan.

    Minimnya personel diperparah dengan medan yang ekstrem. Lahan gambut yang dalam, akses jalan yang sulit, serta sumber air yang jauh membuat proses pemadaman memakan waktu berjam-jam hingga berhari-hari. Tidak sedikit tim yang akhirnya menyerah di tengah tugas.

    Iwan menceritakan kondisi nyata yang ia saksikan. Ketika tim Cendana tiba di lokasi untuk melakukan backup, mereka mendapati rekan-rekan dari unit lain sudah dalam kondisi kelelahan fisik yang luar biasa.

    "Ada Unit Bentong di Kukar, di Muara Jawa. Contohnya kami datang mereka istirahat. Capek Betul. Asli mereka tuh kayak merokok nih ngangkat rokoknya gemetar gini loh. Walaupun kami disuplai makanan, tapi kalau tenaga sisa sedikit ya mau diapain lagi," ceritanya dengan nada prihatin.

    Menurutnya, kondisi itu menjadi potret betapa beratnya perjuangan di lapangan. Mereka berjibaku siang dan malam, menghirup asap pekat, berpanas-panasan, bahkan hingga malam hari tetap melakukan pendinginan agar api tidak kembali menyala.

    Di tengah keterbatasan itu, Relawan Cendana tidak bergerak sendiri. Di lapangan mereka berkolaborasi dengan UPTD KPHP Santan dan UPTD KPHP Delta Mahakam, serta warga setempat yang ikut membantu.

    Sementara itu, dari sisi operasional, Operator Mesin Balakarcana Unit Cendana, Reza Firmansyah Putra, menyuarakan harapan yang paling mendesak dibutuhkan relawan saat ini yaitu dukungan logistik.

    "Harapannya, kita sebagai relawan ini selama karhutla ini, tolong bantu kami dalam hal segi kami di lapangan seperti BBM, dengan segala permesinan, peralatan kami," ujar Reza.

    Reza menegaskan, apa yang mereka lakukan murni panggilan hati. Tidak ada hitungan untung rugi. "Karena jujur, kami ini sebagai relawan, niat kami menolong. Untuk membantu segalanya pun kita ikhlas tanpa ada harapan. Itulah permintaan kami, mudah-mudahan pemerintah dapat membantu kami selama karhutla ini," katanya.

    Namun, ia juga mengingatkan bahwa pemadaman tidak akan pernah selesai jika pencegahan di tingkat masyarakat tidak dilakukan. Ia pun menitip pesan keras namun membangun bagi masyarakat yang masih membuka lahan dengan cara membakar.

    "Untuk masyarakat, buat kedepannya tolong lahannya dijaga, kalaupun mau membakar tolong dikasih sekat dulu, dibikin sekat dulu kalau membakar lahan agar tidak meluas ke mana-mana," imbaunya.

    Bagi Reza, dampak karhutla bukan hanya soal lahan yang hangus, melainkan kesehatan ribuan warga yang ikut menjadi korban.

    "Karena dampaknya itu selama karhutla ini, kita susah bernapas dan sudah banyak nih contohnya yang masuk rumah sakit yang terkena ISPA. Kasihan juga untuk yang anak-anak, segala orang-orang tua yang sudah ada penyakit, kan kita menghindari asapnya ini loh. Itu aja sih harapan kami dari Relawan Cendana," pungkasnya.

    (Sf/Lo)