Feature
Muhammad Abid, relawan Karhutla PPU datang karena panggilan hati. (Foto: Abid/seputarfakta.com)
Penajam - Bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) datang dari satuan relawan Santri Tanggap Bencana (Santana).
Muhammad Abid (41) menjadi salah satu yang berulang kali meleburkan diri dalam tim penanganan karhutla selama status siaga darurat bencana di wilayah ini ditetapkan.
Warga Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, itu memilih turun terutama ketika kebakaran terjadi di wilayah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Ia bukan petugas pemadam kebakaran, tetapi lebih dari lima kali Abid telah terlibat langsung dalam penanganan karhutla. Alasannya sederhana. Ia memegang pesan yang disampaikan gurunya di Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) yang berpusat di Lamongan.
"Alasan kami selalu turun karena memegang pesan dari guru kami, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Itu yang membuat kami tergerak ketika ada bencana dan membutuhkan tenaga," kata Abid saat diwawancarai Seputarfakta.com melalui telepon, Rabu (28/10/2026).
Bagi Abid, keterlibatan dalam penanganan karhutla maupun bencana lainnya bukan karena pekerjaan atau bayaran. Ia menyebutnya sebagai panggilan hati untuk membantu sesama.
Sebagai seorang wiraswasta yang sudah berkeluarga, Abid juga harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga dan kegiatan kerelawanan. Ia bersyukur mendapat dukungan dari istrinya untuk turun bersama tim pemadam dan relawan lainnya.
Salah satu pengalaman yang membekas baginya terjadi saat kebakaran hebat di Bukit Tengkorak, Desa Sukomulyo, yang berbatasan langsung dengan Kutai Kartanegara.
Medan menuju lokasi menjadi tantangan pertama. Kendaraan tidak mudah menjangkau titik kebakaran, sementara peralatan yang tersedia juga terbatas. Abid pun mengambil bagian yang bisa dilakukan, mulai dari membantu menarik selang hingga membuka jalur menuju lokasi api.
"Waktu pertama terjun ke sana, medannya sulit dijangkau. Peralatan kami juga belum memadai. Jadi saya membantu sebatas tenaga, seperti menarik selang dan membuka jalur," ujarnya.
Pemadaman berlangsung berjam-jam dengan berbagai kendala. Ketersediaan air terbatas, kendaraan sulit masuk, sementara titik api berada di medan terjal yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Panas dan angin kencang turut membuat proses pemadaman semakin berat.
Kondisi serupa ia temui saat kebakaran terjadi di Kelurahan Sepaku. Kendaraan tidak bisa mendekati titik api sehingga pemadaman dilakukan dengan peralatan manual yang harus dibawa menggunakan tenaga sendiri.
"Ada juga kebakaran di Kelurahan Sepaku yang cukup parah. Air terbatas dan kendaraan tidak bisa masuk, akhirnya pemadaman dilakukan seadanya menggunakan alat manual yang digendong di punggung," katanya.
Abid tahu betul risiko ketika memilih bergabung dalam pemadaman. Ia mengaku tidak memiliki pelatihan seperti personel yang memang ditugaskan khusus menangani kebakaran. Pengalaman yang dimilikinya pun tidak banyak.
Rasa panik dan takut tetap muncul. Namun, di tengah situasi itu ada perasaan lain yang membuatnya memilih bertahan. Ia merasa senang ketika tenaganya dibutuhkan, sekaligus sedih melihat hutan yang terbakar.
"Dalam hati ada rasa senang karena bisa membantu mereka yang memang membutuhkan banyak tenaga. Tapi ada juga rasa sedih ketika melihat hutan kita habis terbakar dan udara terasa pengap," tuturnya.
Salah satu pengalaman paling menegangkan terjadi ketika Abid ikut melakukan pemadaman pada malam hari. Personel saat itu dibagi ke beberapa titik sehingga tidak semuanya berada dalam jarak dekat.
Ia harus membantu menarik selang di tengah medan naik turun dan kondisi gelap. Di sekelilingnya terdapat dedaunan kering yang tingginya hampir mencapai setengah badan.
"Saat pemadaman malam hari di tengah hutan, ada rasa takut yang besar. Personel terbagi di beberapa titik, medannya naik turun, kami menarik selang dalam kondisi gelap dan dikelilingi dedaunan kering. Rasanya sesak dan khawatir kalau sampai jatuh," katanya.
Rasa takut semakin terasa ketika rekan-rekannya berada cukup jauh dari jangkauan. Berpegang teguh pada keyakinannya, Abid tetap bertahan dengan perlengkapan yang dibawa, salah satunya masker untuk membantu menghadapi asap.
Di balik semua itu, keputusan turun ke lapangan juga berarti Abid harus meninggalkan pekerjaan dan mengurangi waktu bersama keluarga. Ia juga tahu tidak ada bayaran yang diterima dari kegiatan tersebut.
"Pengorbanannya pasti waktu untuk bekerja atau bersama keluarga. Tapi kalau terus memikirkan pekerjaan, kapan lagi kita punya kesempatan berbuat kebaikan untuk sesama. Akhirnya saya ambil kesempatan itu, apalagi istri juga mendukung," katanya.
Ia melihat persoalan relawan bukan semata soal kemauan. Banyak kelompok atau organisasi memiliki relawan di tingkat desa, tetapi tidak semuanya tergerak ketika bencana terjadi. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan biaya operasional.
Karena itu, ia menyebut keterlibatannya bersama Santana lebih banyak didorong kepedulian pribadi.
"Banyak organisasi yang ada di desa, tetapi ketika harus turun membantu jumlahnya masih minim. Mungkin karena tidak ada biaya operasional. Jadi memang murni panggilan hati," tambahnya.
Sebelum aktif dalam penanganan karhutla, Abid sudah lebih dulu menjadi relawan sejak 2005. Bersama Santana yang memiliki jaringan di 117 titik di Indonesia, ia pernah terlibat dalam penanganan gempa Aceh, Mentawai, Banjarnegara hingga Lombok pada 2018.
Pengalaman panjang sebagai relawan kebencanaan membuat Abid melihat karhutla bukan sebagai persoalan untuk saling menyalahkan. Menurutnya, kebakaran perlu dihadapi bersama karena dampaknya dirasakan masyarakat luas.
Baginya, ketika api sudah membakar lahan dan hutan, yang paling dibutuhkan adalah kepedulian dan tenaga untuk membantu pemadaman.
"Karhutla ini tidak perlu dijadikan alasan untuk saling menyalahkan, apakah pemerintah atau pihak lainnya. Yang penting ketika terjadi bencana, kita saling peduli dan membantu karena keselamatan semua orang yang utama," ujarnya.
Bagi Abid, turun sebagai relawan bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Takut tetap ada. Tetapi selama masih ada tenaga yang bisa diberikan dan orang lain membutuhkan bantuan, menjadi relawan berarti memilih untuk hadir.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Feature

Muhammad Abid, relawan Karhutla PPU datang karena panggilan hati. (Foto: Abid/seputarfakta.com)
Penajam - Bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) datang dari satuan relawan Santri Tanggap Bencana (Santana).
Muhammad Abid (41) menjadi salah satu yang berulang kali meleburkan diri dalam tim penanganan karhutla selama status siaga darurat bencana di wilayah ini ditetapkan.
Warga Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, itu memilih turun terutama ketika kebakaran terjadi di wilayah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Ia bukan petugas pemadam kebakaran, tetapi lebih dari lima kali Abid telah terlibat langsung dalam penanganan karhutla. Alasannya sederhana. Ia memegang pesan yang disampaikan gurunya di Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) yang berpusat di Lamongan.
"Alasan kami selalu turun karena memegang pesan dari guru kami, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Itu yang membuat kami tergerak ketika ada bencana dan membutuhkan tenaga," kata Abid saat diwawancarai Seputarfakta.com melalui telepon, Rabu (28/10/2026).
Bagi Abid, keterlibatan dalam penanganan karhutla maupun bencana lainnya bukan karena pekerjaan atau bayaran. Ia menyebutnya sebagai panggilan hati untuk membantu sesama.
Sebagai seorang wiraswasta yang sudah berkeluarga, Abid juga harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga dan kegiatan kerelawanan. Ia bersyukur mendapat dukungan dari istrinya untuk turun bersama tim pemadam dan relawan lainnya.
Salah satu pengalaman yang membekas baginya terjadi saat kebakaran hebat di Bukit Tengkorak, Desa Sukomulyo, yang berbatasan langsung dengan Kutai Kartanegara.
Medan menuju lokasi menjadi tantangan pertama. Kendaraan tidak mudah menjangkau titik kebakaran, sementara peralatan yang tersedia juga terbatas. Abid pun mengambil bagian yang bisa dilakukan, mulai dari membantu menarik selang hingga membuka jalur menuju lokasi api.
"Waktu pertama terjun ke sana, medannya sulit dijangkau. Peralatan kami juga belum memadai. Jadi saya membantu sebatas tenaga, seperti menarik selang dan membuka jalur," ujarnya.
Pemadaman berlangsung berjam-jam dengan berbagai kendala. Ketersediaan air terbatas, kendaraan sulit masuk, sementara titik api berada di medan terjal yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Panas dan angin kencang turut membuat proses pemadaman semakin berat.
Kondisi serupa ia temui saat kebakaran terjadi di Kelurahan Sepaku. Kendaraan tidak bisa mendekati titik api sehingga pemadaman dilakukan dengan peralatan manual yang harus dibawa menggunakan tenaga sendiri.
"Ada juga kebakaran di Kelurahan Sepaku yang cukup parah. Air terbatas dan kendaraan tidak bisa masuk, akhirnya pemadaman dilakukan seadanya menggunakan alat manual yang digendong di punggung," katanya.
Abid tahu betul risiko ketika memilih bergabung dalam pemadaman. Ia mengaku tidak memiliki pelatihan seperti personel yang memang ditugaskan khusus menangani kebakaran. Pengalaman yang dimilikinya pun tidak banyak.
Rasa panik dan takut tetap muncul. Namun, di tengah situasi itu ada perasaan lain yang membuatnya memilih bertahan. Ia merasa senang ketika tenaganya dibutuhkan, sekaligus sedih melihat hutan yang terbakar.
"Dalam hati ada rasa senang karena bisa membantu mereka yang memang membutuhkan banyak tenaga. Tapi ada juga rasa sedih ketika melihat hutan kita habis terbakar dan udara terasa pengap," tuturnya.
Salah satu pengalaman paling menegangkan terjadi ketika Abid ikut melakukan pemadaman pada malam hari. Personel saat itu dibagi ke beberapa titik sehingga tidak semuanya berada dalam jarak dekat.
Ia harus membantu menarik selang di tengah medan naik turun dan kondisi gelap. Di sekelilingnya terdapat dedaunan kering yang tingginya hampir mencapai setengah badan.
"Saat pemadaman malam hari di tengah hutan, ada rasa takut yang besar. Personel terbagi di beberapa titik, medannya naik turun, kami menarik selang dalam kondisi gelap dan dikelilingi dedaunan kering. Rasanya sesak dan khawatir kalau sampai jatuh," katanya.
Rasa takut semakin terasa ketika rekan-rekannya berada cukup jauh dari jangkauan. Berpegang teguh pada keyakinannya, Abid tetap bertahan dengan perlengkapan yang dibawa, salah satunya masker untuk membantu menghadapi asap.
Di balik semua itu, keputusan turun ke lapangan juga berarti Abid harus meninggalkan pekerjaan dan mengurangi waktu bersama keluarga. Ia juga tahu tidak ada bayaran yang diterima dari kegiatan tersebut.
"Pengorbanannya pasti waktu untuk bekerja atau bersama keluarga. Tapi kalau terus memikirkan pekerjaan, kapan lagi kita punya kesempatan berbuat kebaikan untuk sesama. Akhirnya saya ambil kesempatan itu, apalagi istri juga mendukung," katanya.
Ia melihat persoalan relawan bukan semata soal kemauan. Banyak kelompok atau organisasi memiliki relawan di tingkat desa, tetapi tidak semuanya tergerak ketika bencana terjadi. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan biaya operasional.
Karena itu, ia menyebut keterlibatannya bersama Santana lebih banyak didorong kepedulian pribadi.
"Banyak organisasi yang ada di desa, tetapi ketika harus turun membantu jumlahnya masih minim. Mungkin karena tidak ada biaya operasional. Jadi memang murni panggilan hati," tambahnya.
Sebelum aktif dalam penanganan karhutla, Abid sudah lebih dulu menjadi relawan sejak 2005. Bersama Santana yang memiliki jaringan di 117 titik di Indonesia, ia pernah terlibat dalam penanganan gempa Aceh, Mentawai, Banjarnegara hingga Lombok pada 2018.
Pengalaman panjang sebagai relawan kebencanaan membuat Abid melihat karhutla bukan sebagai persoalan untuk saling menyalahkan. Menurutnya, kebakaran perlu dihadapi bersama karena dampaknya dirasakan masyarakat luas.
Baginya, ketika api sudah membakar lahan dan hutan, yang paling dibutuhkan adalah kepedulian dan tenaga untuk membantu pemadaman.
"Karhutla ini tidak perlu dijadikan alasan untuk saling menyalahkan, apakah pemerintah atau pihak lainnya. Yang penting ketika terjadi bencana, kita saling peduli dan membantu karena keselamatan semua orang yang utama," ujarnya.
Bagi Abid, turun sebagai relawan bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Takut tetap ada. Tetapi selama masih ada tenaga yang bisa diberikan dan orang lain membutuhkan bantuan, menjadi relawan berarti memilih untuk hadir.
(Sf/Rs)