Ekonomi

    PPU Target Dongkrak Produksi Padi dari 3,5 Jadi 10 Ton per Hektare Lewat PM-AAS

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    30 September 2026 pukul 16:50 WITA

    Bupati PPU bersama Direktur Irigasi Pertanian melaksanakan gerakan tanam PM-AAS di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai menguji pola Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) untuk mendongkrak produktivitas padi. Demplot perdana seluas 6 hektare digarap di Desa Sesulu, Kecamatan Waru, Rabu (30/9/2026).

    Program ini menjadi bagian dari dukungan PPU terhadap percepatan swasembada pangan nasional. Dari total alokasi PM-AAS seluas 7.125 hektare di Kalimantan Timur (Kaltim), PPU mendapat porsi 3.546 hektare.

    Bupati PPU, Mudyat Noor, mengatakan penerapan PM-AAS menjadi peluang meningkatkan produksi padi daerah yang selama ini rata-rata berada di kisaran 3,5 ton per hektare.

    Target yang dipasang cukup tinggi. Melalui penerapan metode pertanian modern, produksi diharapkan dapat menembus maksimal 10 ton per hektare.

    "PM-AAS ini sudah pernah diterapkan di beberapa daerah, ini merupakan gerakan yang kedua. Jadi memang hasilnya luar biasa, seperti di daerah Sidrap, melalui metode yang sama, awalnya 5 ton satu hektare, itu menjadi 12 ton," kata Mudyat.

    Menurutnya, capaian tersebut menjadi tantangan bagi PPU untuk memperbaiki pola penanaman. Persoalan lahan dengan tingkat keasaman cukup tinggi tidak boleh menjadi penghambat peningkatan produksi.

    Mudyat menekankan, keberhasilan PM-AAS tidak hanya bergantung pada ketersediaan irigasi. Pengolahan tanah hingga pemenuhan nutrisi tanaman juga harus diperbaiki agar media tanam mampu mendukung pertumbuhan padi secara optimal.

    "Dibantu program PM-AAS ini, bantuan irigasi pastilah luar biasa ditangani BWS, persoalan mendasar kalau gerakan ini dapat sukses, cara pengolahan tanah itu perlu diperbaiki oleh petani-petani daerah," jelasnya.

    Ia juga meminta peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) diperkuat untuk mendampingi petani dalam menerapkan pola budidaya tersebut.

    "Untuk menyukseskan program ini, sebetulnya pemerintah butuh dukungan dari PPL untuk mengedukasi petani kita. Produksi yang maksimal juga memberikan hasil yang besar untuk kesejahteraan petani," katanya.

    Pada demplot 6 hektare di Sesulu, kebutuhan sarana produksi didukung lintas pihak. Sebanyak 1 ton pupuk organik, 150 kilogram urea dari PT Pupuk Indonesia, 420 kilogram benih padi dari BRMP Kaltim, 150 kilogram NPK Pelangi nonsubsidi serta 900 kilogram pupuk TSP disiapkan untuk mendukung budidaya.

    Mudyat menilai peningkatan produksi juga berkaitan langsung dengan peluang pendapatan petani. Dengan asumsi produksi 10 ton gabah per hektare dan harga gabah kering Rp6.500 per kilogram, nilai hasil penjualan dapat mencapai sekitar Rp65 juta per hektare sebelum dikurangi biaya produksi.

    "Kalau satu hektare mampu menghasilkan 10 ton dikali harga gabah kering Rp6.500 yang ditetapkan pemerintah pusat, keuntungannya Rp65 juta. Ini bukan sekadar menghidupi petani, tetapi sudah bisa menjadi suatu penghasilan yang meningkatkan taraf kesejahteraan para petani," katanya.

    Karena itu, penerapan PM-AAS di Sesulu diharapkan tidak berhenti sebagai demplot. Hasil budidayanya akan menjadi gambaran bagi pengembangan pola pertanian modern yang dapat diterapkan lebih luas oleh petani PPU.

    Mudyat juga berharap peningkatan produktivitas dapat menarik generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian.

    "Kemudian anak-anaknya generasi muda, saya harap petani milenial itu kita bisa kembangkan. Saya selalu berpesan, bahwa keberhasilan di sektor pertanian selain irigasi yang memadai adalah pengolahan lahan, termasuk bibit yang unggul pasti menghasilkan produksi yang unggul," tutup Mudyat.

    (Sf/Rs)

    Ekonomi

    PPU Target Dongkrak Produksi Padi dari 3,5 Jadi 10 Ton per Hektare Lewat PM-AAS

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    30 September 2026 pukul 16:50 WITA

    Bupati PPU bersama Direktur Irigasi Pertanian melaksanakan gerakan tanam PM-AAS di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai menguji pola Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) untuk mendongkrak produktivitas padi. Demplot perdana seluas 6 hektare digarap di Desa Sesulu, Kecamatan Waru, Rabu (30/9/2026).

    Program ini menjadi bagian dari dukungan PPU terhadap percepatan swasembada pangan nasional. Dari total alokasi PM-AAS seluas 7.125 hektare di Kalimantan Timur (Kaltim), PPU mendapat porsi 3.546 hektare.

    Bupati PPU, Mudyat Noor, mengatakan penerapan PM-AAS menjadi peluang meningkatkan produksi padi daerah yang selama ini rata-rata berada di kisaran 3,5 ton per hektare.

    Target yang dipasang cukup tinggi. Melalui penerapan metode pertanian modern, produksi diharapkan dapat menembus maksimal 10 ton per hektare.

    "PM-AAS ini sudah pernah diterapkan di beberapa daerah, ini merupakan gerakan yang kedua. Jadi memang hasilnya luar biasa, seperti di daerah Sidrap, melalui metode yang sama, awalnya 5 ton satu hektare, itu menjadi 12 ton," kata Mudyat.

    Menurutnya, capaian tersebut menjadi tantangan bagi PPU untuk memperbaiki pola penanaman. Persoalan lahan dengan tingkat keasaman cukup tinggi tidak boleh menjadi penghambat peningkatan produksi.

    Mudyat menekankan, keberhasilan PM-AAS tidak hanya bergantung pada ketersediaan irigasi. Pengolahan tanah hingga pemenuhan nutrisi tanaman juga harus diperbaiki agar media tanam mampu mendukung pertumbuhan padi secara optimal.

    "Dibantu program PM-AAS ini, bantuan irigasi pastilah luar biasa ditangani BWS, persoalan mendasar kalau gerakan ini dapat sukses, cara pengolahan tanah itu perlu diperbaiki oleh petani-petani daerah," jelasnya.

    Ia juga meminta peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) diperkuat untuk mendampingi petani dalam menerapkan pola budidaya tersebut.

    "Untuk menyukseskan program ini, sebetulnya pemerintah butuh dukungan dari PPL untuk mengedukasi petani kita. Produksi yang maksimal juga memberikan hasil yang besar untuk kesejahteraan petani," katanya.

    Pada demplot 6 hektare di Sesulu, kebutuhan sarana produksi didukung lintas pihak. Sebanyak 1 ton pupuk organik, 150 kilogram urea dari PT Pupuk Indonesia, 420 kilogram benih padi dari BRMP Kaltim, 150 kilogram NPK Pelangi nonsubsidi serta 900 kilogram pupuk TSP disiapkan untuk mendukung budidaya.

    Mudyat menilai peningkatan produksi juga berkaitan langsung dengan peluang pendapatan petani. Dengan asumsi produksi 10 ton gabah per hektare dan harga gabah kering Rp6.500 per kilogram, nilai hasil penjualan dapat mencapai sekitar Rp65 juta per hektare sebelum dikurangi biaya produksi.

    "Kalau satu hektare mampu menghasilkan 10 ton dikali harga gabah kering Rp6.500 yang ditetapkan pemerintah pusat, keuntungannya Rp65 juta. Ini bukan sekadar menghidupi petani, tetapi sudah bisa menjadi suatu penghasilan yang meningkatkan taraf kesejahteraan para petani," katanya.

    Karena itu, penerapan PM-AAS di Sesulu diharapkan tidak berhenti sebagai demplot. Hasil budidayanya akan menjadi gambaran bagi pengembangan pola pertanian modern yang dapat diterapkan lebih luas oleh petani PPU.

    Mudyat juga berharap peningkatan produktivitas dapat menarik generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian.

    "Kemudian anak-anaknya generasi muda, saya harap petani milenial itu kita bisa kembangkan. Saya selalu berpesan, bahwa keberhasilan di sektor pertanian selain irigasi yang memadai adalah pengolahan lahan, termasuk bibit yang unggul pasti menghasilkan produksi yang unggul," tutup Mudyat.

    (Sf/Rs)