Ekonomi

    Kembangkan Mina Padi dan Bioflok, Program PHKT Perkuat Ekonomi Petani PPU

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Lodya A
    18 Oktober 2026 pukul 16:49 WITA

    Kegiatan pemberian pakan ikan bersama PHKT dan Pokdakan Biawan di Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, PPU. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Program pengembangan desa berkelanjutan melalui CSR PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) di Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), berkembang dari demplot mina padi menjadi budi daya ikan bioflok.

    Program bernama Gerbang Insan Mapan (Gerakan Pembangunan Integrasi Perikanan dan Pertanian Menuju Kemandirian Pangan) itu dimulai sejak 2022 dengan menggabungkan pertanian dan perikanan. Empat tahun berjalan, penerapannya meluas sekaligus membuka pilihan usaha baru bagi kelompok.

    Mina padi yang awalnya diterapkan pada demplot seluas 1 hektare, kini berkembang hingga sekitar 10 hektare dan mulai ditiru kelompok lain di Sebakung Jaya.

    Pengembangan kemudian berlanjut ke delapan kolam bioflok. Model ini menjadi pilihan ketika sawah dan kolam tanah yang bergantung pada hujan ikut terdampak kemarau.

    Ketua Kelompok Pembudi daya Ikan (Pokdakan) Biawan, Bintang Wahyu Aji, mengatakan bioflok membuat budidaya ikan tetap berjalan ketika lahan pertanian belum bisa digarap.

    "Mina padi belum bisa dijalankan karena lahan kami belum digarap. Lewat pengembangan kolam bioflok, budidaya ikan tetap berjalan, sehingga ada tambahan pendapatan," kata Bintang, Sabtu (17/10/2026).

    Setiap kolam bioflok mampu menghasilkan hingga sekitar 200 kilogram ikan sekali panen, dengan siklus sekitar empat bulan. Sementara kolam tanah umumnya membutuhkan waktu tujuh hingga delapan bulan.

    Saat ini anggota Pokdakan Biawan berkisar 25-30 orang. Pengembangan usaha juga mulai diarahkan ke pengolahan hasil melalui Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar).

    Kepala Communication Relations and Community Involvement & Development (CID) Zona 10 PHKT, Eliz Fauziyah, mengatakan pengembangan Gerbang Insan Mapan diarahkan agar masyarakat mampu melanjutkan dan mengembangkan usaha yang telah dibangun.

    "Bagi kami, yang lebih penting bagaimana ini bisa menjadi penyemangat bagi kelompok dan masyarakat Sebakung Jaya untuk terus menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi daerah," ujar Eliz.

    Gerbang Insan Mapan sebelumnya berangkat dari diskusi kelompok pertanian dan perikanan untuk mencari solusi atas tantangan produksi di Sebakung Jaya. Melalui mina padi, masyarakat bisa menghasilkan padi dan ikan dalam satu kawasan.

    Dukungan PHKT kemudian mencakup pelatihan budidaya maggot, pembuatan pelet hingga pengembangan kolam. Sumur bor juga dibangun untuk membantu ketersediaan air saat kemarau.

    Kelompok kini mulai mengembangkan pengemasan, pembuatan abon dan produk olahan ikan lainnya. Hasil budidaya masih dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan lokal, baik dalam kondisi segar maupun melalui Poklahsar.

    "Pengembangan ini juga dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, termasuk Dinas Perikanan dan Dinas Pertanian PPU, dengan harapan model pertanian dan perikanan yang telah berkembang dapat terus dikelola masyarakat secara mandiri," pungkas Eliz.

    (Sf/Lo)

    Ekonomi

    Kembangkan Mina Padi dan Bioflok, Program PHKT Perkuat Ekonomi Petani PPU

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Lodya A
    18 Oktober 2026 pukul 16:49 WITA

    Kegiatan pemberian pakan ikan bersama PHKT dan Pokdakan Biawan di Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, PPU. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Program pengembangan desa berkelanjutan melalui CSR PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) di Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), berkembang dari demplot mina padi menjadi budi daya ikan bioflok.

    Program bernama Gerbang Insan Mapan (Gerakan Pembangunan Integrasi Perikanan dan Pertanian Menuju Kemandirian Pangan) itu dimulai sejak 2022 dengan menggabungkan pertanian dan perikanan. Empat tahun berjalan, penerapannya meluas sekaligus membuka pilihan usaha baru bagi kelompok.

    Mina padi yang awalnya diterapkan pada demplot seluas 1 hektare, kini berkembang hingga sekitar 10 hektare dan mulai ditiru kelompok lain di Sebakung Jaya.

    Pengembangan kemudian berlanjut ke delapan kolam bioflok. Model ini menjadi pilihan ketika sawah dan kolam tanah yang bergantung pada hujan ikut terdampak kemarau.

    Ketua Kelompok Pembudi daya Ikan (Pokdakan) Biawan, Bintang Wahyu Aji, mengatakan bioflok membuat budidaya ikan tetap berjalan ketika lahan pertanian belum bisa digarap.

    "Mina padi belum bisa dijalankan karena lahan kami belum digarap. Lewat pengembangan kolam bioflok, budidaya ikan tetap berjalan, sehingga ada tambahan pendapatan," kata Bintang, Sabtu (17/10/2026).

    Setiap kolam bioflok mampu menghasilkan hingga sekitar 200 kilogram ikan sekali panen, dengan siklus sekitar empat bulan. Sementara kolam tanah umumnya membutuhkan waktu tujuh hingga delapan bulan.

    Saat ini anggota Pokdakan Biawan berkisar 25-30 orang. Pengembangan usaha juga mulai diarahkan ke pengolahan hasil melalui Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar).

    Kepala Communication Relations and Community Involvement & Development (CID) Zona 10 PHKT, Eliz Fauziyah, mengatakan pengembangan Gerbang Insan Mapan diarahkan agar masyarakat mampu melanjutkan dan mengembangkan usaha yang telah dibangun.

    "Bagi kami, yang lebih penting bagaimana ini bisa menjadi penyemangat bagi kelompok dan masyarakat Sebakung Jaya untuk terus menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi daerah," ujar Eliz.

    Gerbang Insan Mapan sebelumnya berangkat dari diskusi kelompok pertanian dan perikanan untuk mencari solusi atas tantangan produksi di Sebakung Jaya. Melalui mina padi, masyarakat bisa menghasilkan padi dan ikan dalam satu kawasan.

    Dukungan PHKT kemudian mencakup pelatihan budidaya maggot, pembuatan pelet hingga pengembangan kolam. Sumur bor juga dibangun untuk membantu ketersediaan air saat kemarau.

    Kelompok kini mulai mengembangkan pengemasan, pembuatan abon dan produk olahan ikan lainnya. Hasil budidaya masih dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan lokal, baik dalam kondisi segar maupun melalui Poklahsar.

    "Pengembangan ini juga dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, termasuk Dinas Perikanan dan Dinas Pertanian PPU, dengan harapan model pertanian dan perikanan yang telah berkembang dapat terus dikelola masyarakat secara mandiri," pungkas Eliz.

    (Sf/Lo)