Ekonomi
Salah satu pedagang tempe di Pasar Induk Sangatta. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Kenaikan harga kedelai membuat pedagang tahu dan tempe di Pasar Induk Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), harus menyesuaikan ukuran produk yang dijual. Langkah ini dilakukan agar harga jual tidak ikut naik dan tetap terjangkau bagi masyarakat.
Meski harga bahan baku meningkat, pedagang memilih mempertahankan harga jual. Konsekuensinya, ukuran tahu dan tempe diperkecil agar biaya produksi tetap bisa ditekan.
Jumiati, salah seorang pedagang tahu dan tempe, mengatakan harga jual produknya masih bertahan Rp6 ribu. Namun, ukuran tahu dan tempe yang dijual tidak lagi sama seperti sebelumnya.
“Untuk saat ini harga tahu dan tempe masih Rp6 ribu, tetapi ukurannya yang menyusut,” ujar Jumiati.
Kondisi serupa dirasakan Nur Wati, pedagang tempe Pasar Induk Sangatta. Dia menyebut harga kedelai yang sebelumnya Rp500 ribu per karung kini mencapai Rp700 ribu.
Kenaikan Rp200 ribu per karung tersebut membuat modal produksi semakin besar. Sementara itu, pedagang tidak mudah menaikkan harga karena harus memperhitungkan kemampuan belanja masyarakat.
“Sekarang kedelai naik drastis. Sebelumnya Rp500 ribu, sekarang sudah Rp700 ribu sekarung,” kata Nur Wati.
Menurutnya, pedagang kecil membutuhkan dukungan agar tetap bisa mendapatkan bahan baku dengan harga terjangkau. Dia berharap koperasi dapat berperan menyediakan kedelai dengan harga lebih murah sehingga biaya produksi tidak semakin membebani usaha.
“Harapannya koperasi bisa membantu menyediakan kedelai dengan harga lebih murah. Jadi kami tetap bisa berproduksi dan menjual semurah-murahnya kepada masyarakat,” pungkasnya.
Bagi pedagang, mempertahankan harga jual menjadi pilihan agar tahu dan tempe tetap bisa dibeli masyarakat. Namun, selama harga kedelai belum terkendali, ukuran produk menjadi salah satu hal yang harus disesuaikan.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Ekonomi

Salah satu pedagang tempe di Pasar Induk Sangatta. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Kenaikan harga kedelai membuat pedagang tahu dan tempe di Pasar Induk Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), harus menyesuaikan ukuran produk yang dijual. Langkah ini dilakukan agar harga jual tidak ikut naik dan tetap terjangkau bagi masyarakat.
Meski harga bahan baku meningkat, pedagang memilih mempertahankan harga jual. Konsekuensinya, ukuran tahu dan tempe diperkecil agar biaya produksi tetap bisa ditekan.
Jumiati, salah seorang pedagang tahu dan tempe, mengatakan harga jual produknya masih bertahan Rp6 ribu. Namun, ukuran tahu dan tempe yang dijual tidak lagi sama seperti sebelumnya.
“Untuk saat ini harga tahu dan tempe masih Rp6 ribu, tetapi ukurannya yang menyusut,” ujar Jumiati.
Kondisi serupa dirasakan Nur Wati, pedagang tempe Pasar Induk Sangatta. Dia menyebut harga kedelai yang sebelumnya Rp500 ribu per karung kini mencapai Rp700 ribu.
Kenaikan Rp200 ribu per karung tersebut membuat modal produksi semakin besar. Sementara itu, pedagang tidak mudah menaikkan harga karena harus memperhitungkan kemampuan belanja masyarakat.
“Sekarang kedelai naik drastis. Sebelumnya Rp500 ribu, sekarang sudah Rp700 ribu sekarung,” kata Nur Wati.
Menurutnya, pedagang kecil membutuhkan dukungan agar tetap bisa mendapatkan bahan baku dengan harga terjangkau. Dia berharap koperasi dapat berperan menyediakan kedelai dengan harga lebih murah sehingga biaya produksi tidak semakin membebani usaha.
“Harapannya koperasi bisa membantu menyediakan kedelai dengan harga lebih murah. Jadi kami tetap bisa berproduksi dan menjual semurah-murahnya kepada masyarakat,” pungkasnya.
Bagi pedagang, mempertahankan harga jual menjadi pilihan agar tahu dan tempe tetap bisa dibeli masyarakat. Namun, selama harga kedelai belum terkendali, ukuran produk menjadi salah satu hal yang harus disesuaikan.
(Sf/Lo)