Ekonomi

    Jumlah UMKM Balikpapan Terus Bertambah di Tengah Tantangan Daya Beli

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    19 September 2026 pukul 13:11 WITA

    Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Perindustrian (DKUKMP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setia Kesuma saat ditemui awak media. (Foto: mayasari/seputarfakta.com)

    Balikpapan - Minat masyarakat Kota Balikpapan untuk menjalankan usaha masih cukup tinggi, di tengah perlambatan ekonomi dan kondisi daya beli yang belum sepenuhnya menguat.

    Hal itu tercermin dari terus bertambahnya jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tercatat memiliki perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS). Pemerintah Kota Balikpapan mencatat sekitar 133 ribu pelaku usaha telah mengantongi izin melalui sistem tersebut.

    Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Perindustrian (DKUKMP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setia Kesuma menyebutkan, pertumbuhan jumlah UMKM menunjukkan aktivitas pembentukan usaha di masyarakat masih berlangsung.

    “Secara pembentukan, tumbuhnya signifikan. Pertambahan jumlah UMKM sekarang terus meningkat,” ucap Heru sapaan akrabnya kepada media, Sabtu (19/9/2026).

    Menurutnya, bertambahnya jumlah UMKM tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan omzet pelaku usaha. Kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat tetap menjadi tantangan bagi UMKM yang telah menjalankan usahanya.

    Ia menjelaskan, dampak perlambatan ekonomi terhadap UMKM berbeda-beda, tergantung jenis usaha dan kondisi pasar. Sebagian pelaku usaha mengalami penurunan omzet, sementara sebagian lainnya masih mampu meningkatkan penjualan.

    “Kalau yang sudah berjalan, mungkin ada beberapa yang mengalami penurunan, ada juga yang mengalami kenaikan. Tergantung dari penjualan atau sektornya seperti apa,” akunya.

    Selain daya beli, kenaikan harga bahan baku juga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pelaku UMKM. Salah satunya dirasakan usaha yang menggunakan bahan baku plastik dalam proses produksinya.

    Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi ikut meningkat. Kondisi tersebut kemudian dapat berdampak pada harga jual produk dan berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk membeli.

    “Kenaikan bahan baku otomatis berdampak pada penjualan mereka. Kalau harga naik, pembeli mungkin berpikir karena harganya sudah tidak terjangkau lagi,” jelasnya.

    Menurutnya, kondisi tersebut membuat pelaku UMKM perlu menghadapi perubahan pasar, sekaligus menyesuaikan diri dengan kemampuan belanja masyarakat.

    Di sisi lain, dominasi UMKM Balikpapan masih berada pada sektor olahan pangan dan kuliner. Sektor tersebut menjadi bagian dari aktivitas usaha masyarakat yang terus berkembang.

    “Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan berharap daya beli masyarakat dapat kembali menguat, sehingga transaksi perdagangan ikut meningkat dan memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk mempertahankan maupun mengembangkan usahanya,” terangnya.

    Pertumbuhan jumlah UMKM yang terus tercatat, kata dia, menjadi gambaran bahwa masyarakat masih memiliki minat untuk berusaha, meski menghadapi tantangan biaya produksi dan perubahan daya beli.

    (Sf/Lo)

    Ekonomi

    Jumlah UMKM Balikpapan Terus Bertambah di Tengah Tantangan Daya Beli

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    19 September 2026 pukul 13:11 WITA

    Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Perindustrian (DKUKMP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setia Kesuma saat ditemui awak media. (Foto: mayasari/seputarfakta.com)

    Balikpapan - Minat masyarakat Kota Balikpapan untuk menjalankan usaha masih cukup tinggi, di tengah perlambatan ekonomi dan kondisi daya beli yang belum sepenuhnya menguat.

    Hal itu tercermin dari terus bertambahnya jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tercatat memiliki perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS). Pemerintah Kota Balikpapan mencatat sekitar 133 ribu pelaku usaha telah mengantongi izin melalui sistem tersebut.

    Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Perindustrian (DKUKMP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setia Kesuma menyebutkan, pertumbuhan jumlah UMKM menunjukkan aktivitas pembentukan usaha di masyarakat masih berlangsung.

    “Secara pembentukan, tumbuhnya signifikan. Pertambahan jumlah UMKM sekarang terus meningkat,” ucap Heru sapaan akrabnya kepada media, Sabtu (19/9/2026).

    Menurutnya, bertambahnya jumlah UMKM tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan omzet pelaku usaha. Kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat tetap menjadi tantangan bagi UMKM yang telah menjalankan usahanya.

    Ia menjelaskan, dampak perlambatan ekonomi terhadap UMKM berbeda-beda, tergantung jenis usaha dan kondisi pasar. Sebagian pelaku usaha mengalami penurunan omzet, sementara sebagian lainnya masih mampu meningkatkan penjualan.

    “Kalau yang sudah berjalan, mungkin ada beberapa yang mengalami penurunan, ada juga yang mengalami kenaikan. Tergantung dari penjualan atau sektornya seperti apa,” akunya.

    Selain daya beli, kenaikan harga bahan baku juga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pelaku UMKM. Salah satunya dirasakan usaha yang menggunakan bahan baku plastik dalam proses produksinya.

    Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi ikut meningkat. Kondisi tersebut kemudian dapat berdampak pada harga jual produk dan berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk membeli.

    “Kenaikan bahan baku otomatis berdampak pada penjualan mereka. Kalau harga naik, pembeli mungkin berpikir karena harganya sudah tidak terjangkau lagi,” jelasnya.

    Menurutnya, kondisi tersebut membuat pelaku UMKM perlu menghadapi perubahan pasar, sekaligus menyesuaikan diri dengan kemampuan belanja masyarakat.

    Di sisi lain, dominasi UMKM Balikpapan masih berada pada sektor olahan pangan dan kuliner. Sektor tersebut menjadi bagian dari aktivitas usaha masyarakat yang terus berkembang.

    “Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan berharap daya beli masyarakat dapat kembali menguat, sehingga transaksi perdagangan ikut meningkat dan memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk mempertahankan maupun mengembangkan usahanya,” terangnya.

    Pertumbuhan jumlah UMKM yang terus tercatat, kata dia, menjadi gambaran bahwa masyarakat masih memiliki minat untuk berusaha, meski menghadapi tantangan biaya produksi dan perubahan daya beli.

    (Sf/Lo)