DPRD Provinsi Kalimantan Timur

    DPRD Kaltim Desak Solusi Jangka Panjang dan Evaluasi Tambang Hulu Pascabanjir

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    16 Mei 2025 pukul 19:43 WITA

    Banjir yang terjadi di Kelurahan Tani Aman, Kecamatan Loa Janan Ilir hingga mencapai pinggang orang dewasa. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Bencana banjir yang melumpuhkan Kota Samarinda dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan. 

    Hingga Jumat (16/5/2025) sore, sejumlah wilayah di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) ini masih terdapat area yang terendam air, bahkan menyebabkan aktivitas warga terganggu.

    Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi ini. 

    Ia mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim untuk segera merumuskan solusi jangka panjang dan komprehensif guna mengatasi persoalan banjir yang terus berulang setiap tahunnya.

    "Banjir kali ini hampir merata, bahkan wilayah pinggiran pun ikut terdampak. Di Jalan HM Rifadin, jalan sampai putus, mengakibatkan kemacetan panjang yang sampai sekarang pun belum sepenuhnya terurai," ujar Darlis.

    Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menuturkan, dampak banjir sangat dirasakan oleh masyarakat. Dapur umum masih aktif di beberapa lokasi, seperti di kawasan Loa Janan, yang menjadi salah satu wilayah terparah terdampak banjir.

    Lebih lanjut, Darlis menjelaskan bahwa banjir di Samarinda tidak hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Faktor struktural, seperti aktivitas pertambangan di wilayah hulu, turut memperparah kondisi dengan meningkatkan debit air yang mengalir deras ke Samarinda.

    "Curah hujan memang tinggi, hampir seluruh Kaltim terdampak. Tapi kita juga tidak bisa mengabaikan aktivitas di daerah hulu, seperti pertambangan. Samarinda ini berada di daerah aliran sungai, jadi air dari luar kota juga ikut mengalir deras ke sini. Debit air yang masuk luar biasa besarnya," tegasnya.

    Darlis menekankan bahwa penanganan banjir di Samarinda tidak bisa lagi bersifat reaktif dan tambal sulam. 

    Menurutnya, Pemprov Kaltim harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase yang ada, alih fungsi lahan yang tidak terkontrol, serta tata kelola perizinan tambang yang berpotensi merusak lingkungan dan memperparah risiko banjir.

    "Pemerintah provinsi harus menjadikan masalah banjir ini sebagai perhatian utama karena dampaknya sudah meluas ke berbagai kabupaten dan kota di Kaltim," imbuhnya.

    Sebagai ibu kota provinsi, Darlis menyoroti pentingnya Samarinda memiliki sistem penanggulangan banjir yang tangguh dan mampu mengantisipasi cuaca ekstrem serta limpahan air dari wilayah-wilayah di sekitarnya.

    "Ini ibu kota provinsi, pusat segala aktivitas. Tidak bisa dibiarkan terus-menerus seperti ini. Kalau semua daerah sekitar hujan deras, otomatis Samarinda menjadi muara airnya. Maka wajar kalau banjirnya menjadi luar biasa, tetapi kita juga harus menyiapkan antisipasi yang luar biasa pula," tukasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    DPRD Provinsi Kalimantan Timur

    DPRD Kaltim Desak Solusi Jangka Panjang dan Evaluasi Tambang Hulu Pascabanjir

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    16 Mei 2025 pukul 19:43 WITA

    Banjir yang terjadi di Kelurahan Tani Aman, Kecamatan Loa Janan Ilir hingga mencapai pinggang orang dewasa. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Bencana banjir yang melumpuhkan Kota Samarinda dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan. 

    Hingga Jumat (16/5/2025) sore, sejumlah wilayah di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) ini masih terdapat area yang terendam air, bahkan menyebabkan aktivitas warga terganggu.

    Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi ini. 

    Ia mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim untuk segera merumuskan solusi jangka panjang dan komprehensif guna mengatasi persoalan banjir yang terus berulang setiap tahunnya.

    "Banjir kali ini hampir merata, bahkan wilayah pinggiran pun ikut terdampak. Di Jalan HM Rifadin, jalan sampai putus, mengakibatkan kemacetan panjang yang sampai sekarang pun belum sepenuhnya terurai," ujar Darlis.

    Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menuturkan, dampak banjir sangat dirasakan oleh masyarakat. Dapur umum masih aktif di beberapa lokasi, seperti di kawasan Loa Janan, yang menjadi salah satu wilayah terparah terdampak banjir.

    Lebih lanjut, Darlis menjelaskan bahwa banjir di Samarinda tidak hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Faktor struktural, seperti aktivitas pertambangan di wilayah hulu, turut memperparah kondisi dengan meningkatkan debit air yang mengalir deras ke Samarinda.

    "Curah hujan memang tinggi, hampir seluruh Kaltim terdampak. Tapi kita juga tidak bisa mengabaikan aktivitas di daerah hulu, seperti pertambangan. Samarinda ini berada di daerah aliran sungai, jadi air dari luar kota juga ikut mengalir deras ke sini. Debit air yang masuk luar biasa besarnya," tegasnya.

    Darlis menekankan bahwa penanganan banjir di Samarinda tidak bisa lagi bersifat reaktif dan tambal sulam. 

    Menurutnya, Pemprov Kaltim harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase yang ada, alih fungsi lahan yang tidak terkontrol, serta tata kelola perizinan tambang yang berpotensi merusak lingkungan dan memperparah risiko banjir.

    "Pemerintah provinsi harus menjadikan masalah banjir ini sebagai perhatian utama karena dampaknya sudah meluas ke berbagai kabupaten dan kota di Kaltim," imbuhnya.

    Sebagai ibu kota provinsi, Darlis menyoroti pentingnya Samarinda memiliki sistem penanggulangan banjir yang tangguh dan mampu mengantisipasi cuaca ekstrem serta limpahan air dari wilayah-wilayah di sekitarnya.

    "Ini ibu kota provinsi, pusat segala aktivitas. Tidak bisa dibiarkan terus-menerus seperti ini. Kalau semua daerah sekitar hujan deras, otomatis Samarinda menjadi muara airnya. Maka wajar kalau banjirnya menjadi luar biasa, tetapi kita juga harus menyiapkan antisipasi yang luar biasa pula," tukasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)