DPRD Provinsi Kalimantan Timur

    Anggota DPRD Kaltim Guntur Dorong Festival Jembayan Kampung Tuha Masuk Kalender Budaya Resmi Pemprov

    Penulis:maulana|Redaktur:Rusdianto
    23 Juli 2025 pukul 20:48 WITA

    Anggota komisi II DPRD Kaltim, Guntur. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Guntur, mendesak Pemerintah Provinsi Kaltim untuk segera memasukkan Festival Jembayan Kampung Tuha (FJKT) ke dalam kalender budaya resmi. 

    Festival tahunan yang digelar di Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara ini, menurut Guntur, lebih dari sekadar hiburan semata, namun sarat akan nilai sejarah dan budaya yang patut diakui secara serius oleh pemerintah daerah.

    Politikus PDI-P dari Kutai Kartanegara ini menekankan bahwa FJKT bukan sekadar seremonial biasa. 

    "Di balik perayaannya, ada pesan sejarah, nilai gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur yang masih hidup di tengah masyarakat Jembayan. Ini yang harus dirawat, diperkuat, dan diakui secara resmi oleh pemerintah," tegas Guntur.

    Konsistensi FJKT yang telah berlangsung selama enam tahun berturut-turut menjadi bukti nyata kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya mereka. 

    Guntur menilai, sudah saatnya festival ini mendapatkan dukungan kelembagaan yang lebih kuat, baik dari segi pendanaan maupun promosi budaya. 

    "Tidak cukup hanya mengandalkan inisiatif dan swadaya dari masyarakat desa. Festival seperti ini seharusnya masuk dalam agenda tahunan pemerintah, lengkap dengan alokasi anggaran dan strategi promosi yang matang," ujarnya.

    Ia menambahkan, pengakuan resmi ini bukan hanya penting untuk pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi besar menjadi daya tarik wisata berbasis sejarah dan tradisi lokal. 

    Guntur mengapresiasi tinggi para tokoh adat, panitia, serta seluruh masyarakat Desa Jembayan yang berhasil menjaga keberlanjutan FJKT. 

    Kekagumannya semakin bertambah saat mengetahui bahwa festival tersebut diawali dengan prosesi ziarah ke makam leluhur, sebagai bagian dari peringatan hari jadi desa.

    "Banyak dari kita mungkin belum tahu bahwa peringatan ulang tahun desa di Jembayan dimulai dengan napak tilas sejarah, termasuk mengenang kemangam (makam) para leluhur. Ini bukan sekadar seremoni formal, tapi bagian dari upaya pelestarian identitas budaya," jelasnya.

    Lebih lanjut, Guntur menyoroti pentingnya membangkitkan kembali semangat gotong royong yang kini perlahan memudar di tengah modernisasi. 

    Ia mengingatkan bahwa gotong royong adalah fondasi pembangunan desa dan penguat kohesi sosial. 

    "Dulu, orang tua kita membangun rumah, ladang, bahkan menyelenggarakan acara bersama-sama, tanpa pamrih. Sekarang, semangat itu perlahan mulai memudar. Jangan sampai festival seperti ini hanya menjadi euforia sesaat tanpa makna mendalam," pesannya.

    Ia berharap FJKT ke depan semakin diperkaya dengan muatan edukatif dan nilai budaya, menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda. 

    "Festival bukan hanya tempat untuk bersenang-senang, tetapi juga ruang belajar. Dari sejarah, kita bisa membangun masa depan yang lebih kuat dan berakar pada nilai-nilai kearifan lokal," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    DPRD Provinsi Kalimantan Timur

    Anggota DPRD Kaltim Guntur Dorong Festival Jembayan Kampung Tuha Masuk Kalender Budaya Resmi Pemprov

    Penulis:maulana|Redaktur:Rusdianto
    23 Juli 2025 pukul 20:48 WITA

    Anggota komisi II DPRD Kaltim, Guntur. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Guntur, mendesak Pemerintah Provinsi Kaltim untuk segera memasukkan Festival Jembayan Kampung Tuha (FJKT) ke dalam kalender budaya resmi. 

    Festival tahunan yang digelar di Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara ini, menurut Guntur, lebih dari sekadar hiburan semata, namun sarat akan nilai sejarah dan budaya yang patut diakui secara serius oleh pemerintah daerah.

    Politikus PDI-P dari Kutai Kartanegara ini menekankan bahwa FJKT bukan sekadar seremonial biasa. 

    "Di balik perayaannya, ada pesan sejarah, nilai gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur yang masih hidup di tengah masyarakat Jembayan. Ini yang harus dirawat, diperkuat, dan diakui secara resmi oleh pemerintah," tegas Guntur.

    Konsistensi FJKT yang telah berlangsung selama enam tahun berturut-turut menjadi bukti nyata kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya mereka. 

    Guntur menilai, sudah saatnya festival ini mendapatkan dukungan kelembagaan yang lebih kuat, baik dari segi pendanaan maupun promosi budaya. 

    "Tidak cukup hanya mengandalkan inisiatif dan swadaya dari masyarakat desa. Festival seperti ini seharusnya masuk dalam agenda tahunan pemerintah, lengkap dengan alokasi anggaran dan strategi promosi yang matang," ujarnya.

    Ia menambahkan, pengakuan resmi ini bukan hanya penting untuk pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi besar menjadi daya tarik wisata berbasis sejarah dan tradisi lokal. 

    Guntur mengapresiasi tinggi para tokoh adat, panitia, serta seluruh masyarakat Desa Jembayan yang berhasil menjaga keberlanjutan FJKT. 

    Kekagumannya semakin bertambah saat mengetahui bahwa festival tersebut diawali dengan prosesi ziarah ke makam leluhur, sebagai bagian dari peringatan hari jadi desa.

    "Banyak dari kita mungkin belum tahu bahwa peringatan ulang tahun desa di Jembayan dimulai dengan napak tilas sejarah, termasuk mengenang kemangam (makam) para leluhur. Ini bukan sekadar seremoni formal, tapi bagian dari upaya pelestarian identitas budaya," jelasnya.

    Lebih lanjut, Guntur menyoroti pentingnya membangkitkan kembali semangat gotong royong yang kini perlahan memudar di tengah modernisasi. 

    Ia mengingatkan bahwa gotong royong adalah fondasi pembangunan desa dan penguat kohesi sosial. 

    "Dulu, orang tua kita membangun rumah, ladang, bahkan menyelenggarakan acara bersama-sama, tanpa pamrih. Sekarang, semangat itu perlahan mulai memudar. Jangan sampai festival seperti ini hanya menjadi euforia sesaat tanpa makna mendalam," pesannya.

    Ia berharap FJKT ke depan semakin diperkaya dengan muatan edukatif dan nilai budaya, menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda. 

    "Festival bukan hanya tempat untuk bersenang-senang, tetapi juga ruang belajar. Dari sejarah, kita bisa membangun masa depan yang lebih kuat dan berakar pada nilai-nilai kearifan lokal," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)