DPRD Provinsi Kalimantan Timur

    Andi Satya Usulkan Telemedicine hingga Beasiswa Ikatan Dinas untuk Atasi Krisis Nakes

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    23 Juli 2025 pukul 21:27 WITA

    Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra memiliki gagasan untuk mengatasi krisis tenaga kesehatan (nakes) di Benua Etam, baik jangka pendek maupun jangka menengah.

    Andi Satya menyebut Kaltim masih perlu 4.000 nakes lagi. Tentu kondisi ini dikhawatirkan mengancam kualitas layanan kesehatan dasar bagi masyarakat. 

    Menyikapi persoalan ini, Andi Satya mengusulkan beberapa langkah terobosan. Salah satunya adalah pemanfaatan layanan telemedicine. 

    Ia menilai layanan kesehatan jarak jauh ini sangat relevan dengan perkembangan teknologi dan membaiknya akses internet di banyak wilayah.

    "Sistem pelayanan kesehatan jarak jauh ini dapat membantu menjangkau daerah-daerah yang kekurangan dokter atau tenaga medis lainnya. Apalagi sekarang akses internet di banyak wilayah sudah membaik," jelas Andi Satya.

    Pasalnya, dampak paling parah terasa di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan perdesaan. Banyak fasilitas kesehatan di sana tak bisa beroperasi optimal karena kekurangan sumber daya manusia (SDM).

    Akibatnya, warga di daerah-daerah tersebut terpaksa menempuh perjalanan jauh ke pusat kota hanya untuk mendapatkan layanan medis dasar. 

    Ironisnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan pesatnya pembangunan infrastruktur di Kaltim sebagai calon Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Selain itu, Andi Satya juga mendorong terbentuknya kemitraan strategis antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi, termasuk dari luar Kaltim. 

    Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penempatan tenaga kesehatan ke wilayah yang sangat membutuhkan.

    Untuk solusi jangka panjang, Andi Satya menekankan pentingnya menyiapkan SDM lokal melalui jalur beasiswa ikatan dinas di bidang kedokteran. 

    Program ini, menurutnya, harus diikuti dengan syarat pengabdian kembali ke daerah asal setelah lulus.

    "Kalau beasiswa dikaitkan dengan kewajiban kembali mengabdi, maka kita bisa memastikan ada regenerasi tenaga medis di daerah-daerah terpencil," pungkas Andi Satya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    DPRD Provinsi Kalimantan Timur

    Andi Satya Usulkan Telemedicine hingga Beasiswa Ikatan Dinas untuk Atasi Krisis Nakes

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    23 Juli 2025 pukul 21:27 WITA

    Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra memiliki gagasan untuk mengatasi krisis tenaga kesehatan (nakes) di Benua Etam, baik jangka pendek maupun jangka menengah.

    Andi Satya menyebut Kaltim masih perlu 4.000 nakes lagi. Tentu kondisi ini dikhawatirkan mengancam kualitas layanan kesehatan dasar bagi masyarakat. 

    Menyikapi persoalan ini, Andi Satya mengusulkan beberapa langkah terobosan. Salah satunya adalah pemanfaatan layanan telemedicine. 

    Ia menilai layanan kesehatan jarak jauh ini sangat relevan dengan perkembangan teknologi dan membaiknya akses internet di banyak wilayah.

    "Sistem pelayanan kesehatan jarak jauh ini dapat membantu menjangkau daerah-daerah yang kekurangan dokter atau tenaga medis lainnya. Apalagi sekarang akses internet di banyak wilayah sudah membaik," jelas Andi Satya.

    Pasalnya, dampak paling parah terasa di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan perdesaan. Banyak fasilitas kesehatan di sana tak bisa beroperasi optimal karena kekurangan sumber daya manusia (SDM).

    Akibatnya, warga di daerah-daerah tersebut terpaksa menempuh perjalanan jauh ke pusat kota hanya untuk mendapatkan layanan medis dasar. 

    Ironisnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan pesatnya pembangunan infrastruktur di Kaltim sebagai calon Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Selain itu, Andi Satya juga mendorong terbentuknya kemitraan strategis antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi, termasuk dari luar Kaltim. 

    Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penempatan tenaga kesehatan ke wilayah yang sangat membutuhkan.

    Untuk solusi jangka panjang, Andi Satya menekankan pentingnya menyiapkan SDM lokal melalui jalur beasiswa ikatan dinas di bidang kedokteran. 

    Program ini, menurutnya, harus diikuti dengan syarat pengabdian kembali ke daerah asal setelah lulus.

    "Kalau beasiswa dikaitkan dengan kewajiban kembali mengabdi, maka kita bisa memastikan ada regenerasi tenaga medis di daerah-daerah terpencil," pungkas Andi Satya. (Adv)

    (Sf/Rs)