Cari disini...
DPRD Provinsi Kalimantan Timur
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis. (Foto: HO-DokumentasiPribadi/Seputarfakta.com)
Samarinda - Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Ananda Emira Moeis, menyampaikan refleksi mendalam terkait Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April.
Melalui catatan di media sosialnya, politisi muda ini menyoroti bahwa impian tinggi perempuan di Indonesia masih seringkali dianggap sebelah mata.
Ananda Emira Moeis mengungkapkan keprihatinannya bahwa meskipun akses terhadap pendidikan kini terbuka bagi semua, tidak semua perempuan memiliki keleluasaan untuk mengembangkan potensi intelektualnya secara maksimal.
Ia menyoroti adanya realitas di mana banyak perempuan masih terbentur restu atau izin untuk sekadar bermimpi.
"Semua bisa sekolah, tapi belum semua boleh jadi pintar. Banyak perempuan masih harus 'izin' untuk bermimpi," tulis Ananda dalam catatannya.
Lebih lanjut, Ananda mengingatkan bahwa salah satu esensi perjuangan Raden Ajeng Kartini adalah memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan.
Menurutnya, perjuangan tersebut belumlah usai di era modern ini. Masih banyak perempuan yang belum memiliki ruang yang memadai untuk mengejar pendidikan setinggi cita-cita mereka.
"Perjuangannya belum selesai. Masih banyak yang belum punya ruang untuk bisa ngejar pendidikan setinggi langit," tegasnya.
Ananda juga menyoroti berbagai kondisi yang menghimpit perempuan dalam meraih mimpinya. Tidak sedikit perempuan yang terpaksa mengubur impiannya untuk fokus menjadi ibu rumah tangga atau bahkan menjadi tulang punggung keluarga di usia yang relatif muda.
Selain itu, stigma negatif seperti dianggap terlalu ambisius juga seringkali menghalangi langkah perempuan yang berkeinginan meraih beasiswa atau memiliki cita-cita yang tinggi.
"Ada yang 'terpaksa' jadi ibu rumah tangga atau tulang punggung keluarga, padahal masih mau ngejar mimpi.. Ada juga yang dibilang terlalu ambisius waktu ngejar beasiswa atau punya cita-cita tinggi," ungkapnya.
Menurut Ananda, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan perempuan cerdas. Permasalahannya terletak pada minimnya ruang dan kesempatan yang diberikan kepada perempuan untuk berkembang dan menunjukkan potensi mereka.
Ia menekankan bahwa pendidikan bukan hanya sebatas kepemilikan ijazah, tetapi juga tentang bagaimana perempuan didengarkan, dipercaya, dan diberi kesempatan yang setara.
"Negara ini tidak kekurangan perempuan cerdas, tapi kekurangan ruang bagi perempuan untuk tumbuh. Pendidikan bukan cuma soal ijazah. Tapi soal didengar, dipercaya, dan diberi kesempatan," jelasnya.
Ananda Emira Moeis meyakini bahwa jika perempuan diberi ruang yang seluas-luasnya, mereka akan mampu memberikan dampak yang jauh lebih besar bagi kemajuan bangsa.
Ia mencontohkan berbagai pencapaian perempuan di berbagai bidang yang telah membuktikan hal tersebut.
"Kalau dikasih ruang, perempuan bisa ngasih dampak lebih besar. Dan itu udah dibuktiin berkali-kali!" serunya.
Di akhir catatannya, Ananda Emira Moeis menyampaikan harapannya agar semangat Kartini yang melambangkan kekuatan dan kecerdasan perempuan Indonesia dapat terus dilanjutkan.
“Saya mengajak seluruh perempuan untuk menjadi sosok yang kuat, cerdas, dan berani dalam memperjuangkan hak-haknya, serta mampu menjadi inspirasi bagi generasi mendatang,” tutupnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis. (Foto: HO-DokumentasiPribadi/Seputarfakta.com)
Samarinda - Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Ananda Emira Moeis, menyampaikan refleksi mendalam terkait Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April.
Melalui catatan di media sosialnya, politisi muda ini menyoroti bahwa impian tinggi perempuan di Indonesia masih seringkali dianggap sebelah mata.
Ananda Emira Moeis mengungkapkan keprihatinannya bahwa meskipun akses terhadap pendidikan kini terbuka bagi semua, tidak semua perempuan memiliki keleluasaan untuk mengembangkan potensi intelektualnya secara maksimal.
Ia menyoroti adanya realitas di mana banyak perempuan masih terbentur restu atau izin untuk sekadar bermimpi.
"Semua bisa sekolah, tapi belum semua boleh jadi pintar. Banyak perempuan masih harus 'izin' untuk bermimpi," tulis Ananda dalam catatannya.
Lebih lanjut, Ananda mengingatkan bahwa salah satu esensi perjuangan Raden Ajeng Kartini adalah memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan.
Menurutnya, perjuangan tersebut belumlah usai di era modern ini. Masih banyak perempuan yang belum memiliki ruang yang memadai untuk mengejar pendidikan setinggi cita-cita mereka.
"Perjuangannya belum selesai. Masih banyak yang belum punya ruang untuk bisa ngejar pendidikan setinggi langit," tegasnya.
Ananda juga menyoroti berbagai kondisi yang menghimpit perempuan dalam meraih mimpinya. Tidak sedikit perempuan yang terpaksa mengubur impiannya untuk fokus menjadi ibu rumah tangga atau bahkan menjadi tulang punggung keluarga di usia yang relatif muda.
Selain itu, stigma negatif seperti dianggap terlalu ambisius juga seringkali menghalangi langkah perempuan yang berkeinginan meraih beasiswa atau memiliki cita-cita yang tinggi.
"Ada yang 'terpaksa' jadi ibu rumah tangga atau tulang punggung keluarga, padahal masih mau ngejar mimpi.. Ada juga yang dibilang terlalu ambisius waktu ngejar beasiswa atau punya cita-cita tinggi," ungkapnya.
Menurut Ananda, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan perempuan cerdas. Permasalahannya terletak pada minimnya ruang dan kesempatan yang diberikan kepada perempuan untuk berkembang dan menunjukkan potensi mereka.
Ia menekankan bahwa pendidikan bukan hanya sebatas kepemilikan ijazah, tetapi juga tentang bagaimana perempuan didengarkan, dipercaya, dan diberi kesempatan yang setara.
"Negara ini tidak kekurangan perempuan cerdas, tapi kekurangan ruang bagi perempuan untuk tumbuh. Pendidikan bukan cuma soal ijazah. Tapi soal didengar, dipercaya, dan diberi kesempatan," jelasnya.
Ananda Emira Moeis meyakini bahwa jika perempuan diberi ruang yang seluas-luasnya, mereka akan mampu memberikan dampak yang jauh lebih besar bagi kemajuan bangsa.
Ia mencontohkan berbagai pencapaian perempuan di berbagai bidang yang telah membuktikan hal tersebut.
"Kalau dikasih ruang, perempuan bisa ngasih dampak lebih besar. Dan itu udah dibuktiin berkali-kali!" serunya.
Di akhir catatannya, Ananda Emira Moeis menyampaikan harapannya agar semangat Kartini yang melambangkan kekuatan dan kecerdasan perempuan Indonesia dapat terus dilanjutkan.
“Saya mengajak seluruh perempuan untuk menjadi sosok yang kuat, cerdas, dan berani dalam memperjuangkan hak-haknya, serta mampu menjadi inspirasi bagi generasi mendatang,” tutupnya. (Adv)
(Sf/Rs)