Cari disini...

DPRD Kota Samarinda
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronie Pasie. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronnie Pasie Novan, menyampaikan evaluasi terhadap penanganan banjir yang dilakukan dari tahun 2021 hingga 2024.
Fokus utama dalam evaluasi ini adalah titik-titik banjir yang dianggap paling krusial, termasuk upaya normalisasi sungai Karang Mumus.
Pihaknya mengakui bahwa penanganan banjir tidak hanya terletak pada wilayah protokol, melainkan juga memperhatikan daerah-daerah strategis seperti Jalan Dr Soetomo dan PM Noor.
"Sungai dekat jembatan di daerah PM Noor menjadi salah satu fokus penanganan banjir. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara instan, kita perlu memahami penyebabnya," ungkap Novan, Selasa (12/3/2024).
Novan menyoroti pentingnya pengetahuan perihal penanganan banjir. Ia menilai penanganan banjir yang dilakukan dari hulu sungai, menganggapnya sebagai langkah yang tepat dan menjadi acuan utama.
"Penanganan dari hulu sungai sudah dilakukan secara bertahap dan menjadi patokan utama. Setelah itu, baru dilakukan penanganan di jalan protokol, seperti simpang empat Lembuswana dan simpang empat Sempaja, yang menunjukkan progres positif," tambahnya.
Ia menyadari bahwa perubahan iklim tidak dapat diabaikan, dengan tingginya permukaan air sebagai dampak pemanasan global. Novan menjelaskan bahwa setiap tahunnya, kenaikan permukaan air menjadi tantangan tersendiri.
Namun, Novan mengakui bahwa beberapa daerah, seperti yang diwakili oleh Slamet Riyadi, membutuhkan pendekatan yang berbeda.
"Penanganan di daerah Slamet Riyadi memang memerlukan strategi berbeda karena aliran air yang masuk berbeda dengan wilayah lainnya. Air masuk ke daerah tersebut bukan berasal dari turap, melainkan dari aliran langsung yang membuang ke sungai Hal ini akan menjadi fokus penanganan yang lebih spesifik," jelasnya.
Tentu Novan menginginkan Pemerintah Kota Samarinda terus berupaya mengimplementasikan strategi yang lebih efektif dalam mengatasi masalah banjir, dengan memperhatikan perubahan iklim dan penyebab banjir secara menyeluruh.
(Adv/Sf/Rs)
Cari disini...

DPRD Kota Samarinda

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronie Pasie. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronnie Pasie Novan, menyampaikan evaluasi terhadap penanganan banjir yang dilakukan dari tahun 2021 hingga 2024.
Fokus utama dalam evaluasi ini adalah titik-titik banjir yang dianggap paling krusial, termasuk upaya normalisasi sungai Karang Mumus.
Pihaknya mengakui bahwa penanganan banjir tidak hanya terletak pada wilayah protokol, melainkan juga memperhatikan daerah-daerah strategis seperti Jalan Dr Soetomo dan PM Noor.
"Sungai dekat jembatan di daerah PM Noor menjadi salah satu fokus penanganan banjir. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara instan, kita perlu memahami penyebabnya," ungkap Novan, Selasa (12/3/2024).
Novan menyoroti pentingnya pengetahuan perihal penanganan banjir. Ia menilai penanganan banjir yang dilakukan dari hulu sungai, menganggapnya sebagai langkah yang tepat dan menjadi acuan utama.
"Penanganan dari hulu sungai sudah dilakukan secara bertahap dan menjadi patokan utama. Setelah itu, baru dilakukan penanganan di jalan protokol, seperti simpang empat Lembuswana dan simpang empat Sempaja, yang menunjukkan progres positif," tambahnya.
Ia menyadari bahwa perubahan iklim tidak dapat diabaikan, dengan tingginya permukaan air sebagai dampak pemanasan global. Novan menjelaskan bahwa setiap tahunnya, kenaikan permukaan air menjadi tantangan tersendiri.
Namun, Novan mengakui bahwa beberapa daerah, seperti yang diwakili oleh Slamet Riyadi, membutuhkan pendekatan yang berbeda.
"Penanganan di daerah Slamet Riyadi memang memerlukan strategi berbeda karena aliran air yang masuk berbeda dengan wilayah lainnya. Air masuk ke daerah tersebut bukan berasal dari turap, melainkan dari aliran langsung yang membuang ke sungai Hal ini akan menjadi fokus penanganan yang lebih spesifik," jelasnya.
Tentu Novan menginginkan Pemerintah Kota Samarinda terus berupaya mengimplementasikan strategi yang lebih efektif dalam mengatasi masalah banjir, dengan memperhatikan perubahan iklim dan penyebab banjir secara menyeluruh.
(Adv/Sf/Rs)