DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Setuju Baju Adat jadi Seragam Sekolah, Damayanti: Tapi bertahap saja

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    24 Mei 2024 pukul 14:05 WITA

    Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Damayanti saat ditemui di ruangannya. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Samarinda, Damayanti, menyampaikan pandangannya terkait rencana penggunaan baju adat sebagai seragam sekolah. 

    Menurutnya, meski rencana ini dirasa perlu, pelaksanaannya sebaiknya dilakukan secara bertahap untuk memastikan kesiapan dan penerimaan dari semua pihak.

    Ia menilai saat ini anak-anak sudah terlalu digerus oleh perkembangan teknologi. Anak-anak sekarang, kata Damayanti, kalau dilihat itu seperti lebih senang menjadi figur dari daerah luar. 

    “Kenapa anak-anak lebih senang pakai kostum anime atau cosplay jadi pahlawan dari tokoh fiktif luar negeri dibandingkan dengan pahlawan negeri sendiri? Kenapa tidak jadi Gatot Kaca atau Dewi Sri," kata Damayanti saat ditemui di ruangannya, Rabu (22/5/2024).

    Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga menekankan pentingnya mempertahankan budaya lokal dan mencegah anak-anak melupakan tradisi mereka sendiri, agar tidak diakui oleh orang lain.

    "Kalau pandangan saya itu perlu diimplementasikan, karena untuk menjaga kebudayaan kita juga. Jangan sampai anak-anak lupa dengan tradisi sendiri," ujarnya.

    Namun, ia juga menyadari adanya kekhawatiran bahwa kebijakan ini bisa memberatkan sebagian pihak. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar implementasi dilakukan secara bertahap. 

    "Kalau dibilang memberatkan, ya, di satu sisi memberatkan. Mungkin bisa diimplementasikan secara bertahap. Kita tahu apa yang perlu diprioritaskan dan tidak. Harus ada kebijakan dari sekolah, tidak serta-merta harus sekarang," jelasnya.

    Ia mendukung inisiatif penggunaan baju adat sebagai seragam sekolah, asalkan dilakukan dengan perencanaan yang matang dan pendekatan yang bijak untuk memastikan keberhasilan dan penerimaan yang baik dari masyarakat.

    "Perlahan-lahan memang perlu, untuk mempertahankan budaya kita. Jangan sampai tradisi dan budaya yang kita punya nantinya malah diakui oleh orang lain sedangkan kita sendiri bangga dengan budaya orang lain," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Setuju Baju Adat jadi Seragam Sekolah, Damayanti: Tapi bertahap saja

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    24 Mei 2024 pukul 14:05 WITA

    Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Damayanti saat ditemui di ruangannya. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Samarinda, Damayanti, menyampaikan pandangannya terkait rencana penggunaan baju adat sebagai seragam sekolah. 

    Menurutnya, meski rencana ini dirasa perlu, pelaksanaannya sebaiknya dilakukan secara bertahap untuk memastikan kesiapan dan penerimaan dari semua pihak.

    Ia menilai saat ini anak-anak sudah terlalu digerus oleh perkembangan teknologi. Anak-anak sekarang, kata Damayanti, kalau dilihat itu seperti lebih senang menjadi figur dari daerah luar. 

    “Kenapa anak-anak lebih senang pakai kostum anime atau cosplay jadi pahlawan dari tokoh fiktif luar negeri dibandingkan dengan pahlawan negeri sendiri? Kenapa tidak jadi Gatot Kaca atau Dewi Sri," kata Damayanti saat ditemui di ruangannya, Rabu (22/5/2024).

    Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga menekankan pentingnya mempertahankan budaya lokal dan mencegah anak-anak melupakan tradisi mereka sendiri, agar tidak diakui oleh orang lain.

    "Kalau pandangan saya itu perlu diimplementasikan, karena untuk menjaga kebudayaan kita juga. Jangan sampai anak-anak lupa dengan tradisi sendiri," ujarnya.

    Namun, ia juga menyadari adanya kekhawatiran bahwa kebijakan ini bisa memberatkan sebagian pihak. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar implementasi dilakukan secara bertahap. 

    "Kalau dibilang memberatkan, ya, di satu sisi memberatkan. Mungkin bisa diimplementasikan secara bertahap. Kita tahu apa yang perlu diprioritaskan dan tidak. Harus ada kebijakan dari sekolah, tidak serta-merta harus sekarang," jelasnya.

    Ia mendukung inisiatif penggunaan baju adat sebagai seragam sekolah, asalkan dilakukan dengan perencanaan yang matang dan pendekatan yang bijak untuk memastikan keberhasilan dan penerimaan yang baik dari masyarakat.

    "Perlahan-lahan memang perlu, untuk mempertahankan budaya kita. Jangan sampai tradisi dan budaya yang kita punya nantinya malah diakui oleh orang lain sedangkan kita sendiri bangga dengan budaya orang lain," pungkasnya.

    (Sf/Rs)