DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Sekolah Favorit Hanya Asumsi, Anhar Tegaskan Pendidikan Harus Merata

    Penulis:Umar Daud|Redaktur:Rusdianto
    22 Mei 2025 pukul 17:27 WITA

    Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar. (Foto : Umar Daud/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar, menegaskan, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) bukan ajang menimbulkan sekolah favorit melainkan pemerataan pendidikan.

    Ia menyampaikan, istilah favorit hanya digunakan untuk menggaungkan salah satu sekolah yang dianggap unggulan. Padahal, Hal ini justru cenderung mendiskriminasi tempat yang harusnya digunakan untuk mendidik para murid.

    "Sekolah favorit ini kan hanya sebatas asumsi publik saja, sebenarnya fasilitas dan kualitasnya sama. Belum tentu yang bersekolah di situ (sekolah favorit) murib berprestasi," tegasnya kepada awak media, Kamis (22/5/2025).

    Tak hanya itu, politikus PDI Perjuangan ini juga menyinggung soal tindakan pindah domisili hanya untuk masuk sekolah tertentu. Malahan praktik ini mendorong sistem pendidikan tidak seimbang.

    Ia berharap, pemerintah dapat mengambil sikap tegas terhadap tindakan tersebut. Sebab, pemerataan pendidikan menjadi fokus utama saat ini.

    Jika dibiarkan terus-menerus akan terjadi ketimpangan antara sekolah diperkotaan dan dipedalaman Kota Tepian.

    "Ini pekerjaan rumah kita bersama, kalau tidak dibenahi sistemnya maka akan timbul kembali istilah sekolah favorit," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Sekolah Favorit Hanya Asumsi, Anhar Tegaskan Pendidikan Harus Merata

    Penulis:Umar Daud|Redaktur:Rusdianto
    22 Mei 2025 pukul 17:27 WITA

    Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar. (Foto : Umar Daud/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar, menegaskan, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) bukan ajang menimbulkan sekolah favorit melainkan pemerataan pendidikan.

    Ia menyampaikan, istilah favorit hanya digunakan untuk menggaungkan salah satu sekolah yang dianggap unggulan. Padahal, Hal ini justru cenderung mendiskriminasi tempat yang harusnya digunakan untuk mendidik para murid.

    "Sekolah favorit ini kan hanya sebatas asumsi publik saja, sebenarnya fasilitas dan kualitasnya sama. Belum tentu yang bersekolah di situ (sekolah favorit) murib berprestasi," tegasnya kepada awak media, Kamis (22/5/2025).

    Tak hanya itu, politikus PDI Perjuangan ini juga menyinggung soal tindakan pindah domisili hanya untuk masuk sekolah tertentu. Malahan praktik ini mendorong sistem pendidikan tidak seimbang.

    Ia berharap, pemerintah dapat mengambil sikap tegas terhadap tindakan tersebut. Sebab, pemerataan pendidikan menjadi fokus utama saat ini.

    Jika dibiarkan terus-menerus akan terjadi ketimpangan antara sekolah diperkotaan dan dipedalaman Kota Tepian.

    "Ini pekerjaan rumah kita bersama, kalau tidak dibenahi sistemnya maka akan timbul kembali istilah sekolah favorit," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)