Cari disini...

DPRD Kota Samarinda
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Angkasa Jaya Djoerani. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Angkasa Jaya Djoerani, menegaskan bahwa untuk mewujudkan Samarinda sebagai kota ramah lingkungan, diperlukan pembangunan lingkungan yang komprehensif dan menyeluruh.
Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya sekadar mengganti bahan bakar kendaraan dengan listrik, tetapi juga harus diiringi dengan kebijakan yang mendukung kelestarian lingkungan.
Menurutnya angkutan umum atau transportasi yang menggunakan listrik juga mengakibatkan polusi.
"Kendaraan listrik juga tetap menimbulkan polusi," ungkap Angkasa, Jumat (14/6/2024).
Jadi ketika orang-orang ingin mewujudkan kota ramah lingkungan, maka seharusnya tidak menggunakan bahan bakar, baik batu bara ataupun fosil secara berlebih.
"Kalau memang mau membangun sebuah kota ramah lingkungan, bangun dulu lingkungannya," tegas Angkasa.
Ia menyoroti bahwa upaya mengurangi polusi tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan pembangunan lingkungan yang sesuai.
"Misal kita berorasi mau membangun Samarinda menjadi kota ramah lingkungan, tapi di lain sisi batu bara masih diizinkan, pertambangan masih ada, dari mana ramah lingkungannya," tambahnya.
Ia memberikan contoh peraturan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang mewajibkan perumahan untuk melengkapi berbagai persyaratan seperti ruang terbuka hijau dan kolam retensi.
Namun, menurutnya, penerapan kebijakan tersebut harus lebih luas, mencakup seluruh lanskap kota. Tidak hanya untuk pembangunan perumahan saja.
Ia pun menyoroti kesulitan dalam mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, yang menunjukkan bahwa Samarinda belum sepenuhnya ramah lingkungan.
"Kita juga belum punya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang representatif," tegasnya.
Untuk itu ia menekankan pentingnya melengkapi setiap pembangunan dengan fasilitas peradaban, baik di kantor, sekolah, maupun di tempat umum lainnya. Selain itu, memberikan edukasi secara bertahap kepada masyarakat juga sangat penting.
"Masih banyak yang perlu dibangun oleh Samarinda, baik secara infrastruktur maupun kebiasaan masyarakatnya, untuk menuju kota pusat peradaban yang ramah lingkungan," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

DPRD Kota Samarinda

Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Angkasa Jaya Djoerani. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Angkasa Jaya Djoerani, menegaskan bahwa untuk mewujudkan Samarinda sebagai kota ramah lingkungan, diperlukan pembangunan lingkungan yang komprehensif dan menyeluruh.
Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya sekadar mengganti bahan bakar kendaraan dengan listrik, tetapi juga harus diiringi dengan kebijakan yang mendukung kelestarian lingkungan.
Menurutnya angkutan umum atau transportasi yang menggunakan listrik juga mengakibatkan polusi.
"Kendaraan listrik juga tetap menimbulkan polusi," ungkap Angkasa, Jumat (14/6/2024).
Jadi ketika orang-orang ingin mewujudkan kota ramah lingkungan, maka seharusnya tidak menggunakan bahan bakar, baik batu bara ataupun fosil secara berlebih.
"Kalau memang mau membangun sebuah kota ramah lingkungan, bangun dulu lingkungannya," tegas Angkasa.
Ia menyoroti bahwa upaya mengurangi polusi tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan pembangunan lingkungan yang sesuai.
"Misal kita berorasi mau membangun Samarinda menjadi kota ramah lingkungan, tapi di lain sisi batu bara masih diizinkan, pertambangan masih ada, dari mana ramah lingkungannya," tambahnya.
Ia memberikan contoh peraturan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang mewajibkan perumahan untuk melengkapi berbagai persyaratan seperti ruang terbuka hijau dan kolam retensi.
Namun, menurutnya, penerapan kebijakan tersebut harus lebih luas, mencakup seluruh lanskap kota. Tidak hanya untuk pembangunan perumahan saja.
Ia pun menyoroti kesulitan dalam mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, yang menunjukkan bahwa Samarinda belum sepenuhnya ramah lingkungan.
"Kita juga belum punya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang representatif," tegasnya.
Untuk itu ia menekankan pentingnya melengkapi setiap pembangunan dengan fasilitas peradaban, baik di kantor, sekolah, maupun di tempat umum lainnya. Selain itu, memberikan edukasi secara bertahap kepada masyarakat juga sangat penting.
"Masih banyak yang perlu dibangun oleh Samarinda, baik secara infrastruktur maupun kebiasaan masyarakatnya, untuk menuju kota pusat peradaban yang ramah lingkungan," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)