DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Legislator PKS Kritik Dampak Sosial dan Psikologis Penayangan Film Horor dengan Unsur Agama Islam

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    08 April 2024 pukul 21:25 WITA

    Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sani Bin Husain. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sani Bin Husain menilai praktik dalam film horor yang menggunakan unsur ibadah didalamnya sebagai bentuk penistaan agama. 

    Menurutnya, film-film horor yang menggunakan elemen-elemen seperti salat dan ibadah umat Islam sebagai bagian dari ceritanya telah menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di masyarakat.

    "Saya juga adalah seorang penikmat film. Saya sering menonton film bersama teman-teman, namun film-film yang menggabungkan unsur agama dengan genre horor ini membuat takut akan ibadah. Oleh karena itu, saya mengimbau kepada semua pemilik bioskop untuk tidak memutar film-film tersebut," ungkap Sani belum lama ini.

    Ia cukup khawatir akan dampak sosial dan psikologis yang bisa ditimbulkan oleh film-film horor yang menggunakan unsur-unsur agama tersebut. 

    Penggunaan salat dan ibadah umat Islam sebagai bagian dari cerita horor diyakini dapat mengganggu keyakinan dan kepercayaan umat Islam serta menciptakan ketakutan yang tidak perlu terhadap praktik keagamaan.

    Sani menegaskan bahwa pembatasan atau penolakan terhadap film-film semacam ini bukanlah bentuk sensor atau pembatasan kebebasan berekspresi, melainkan upaya untuk melindungi nilai-nilai keagamaan dan kesejahteraan mental masyarakat.

    "Kita harus menghargai kebebasan berekspresi, namun kebebasan tersebut haruslah dibatasi oleh nilai-nilai moral dan etika yang berlaku dalam masyarakat. Menghormati agama dan keyakinan orang lain adalah hal yang sangat penting," tegasnya.

    Pria yang juga merupakan Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini berharap agar terdapat diskusi lebih lanjut tentang batasan-batasan dalam seni dan hiburan, serta pentingnya menjaga sensitivitas terhadap keyakinan dan nilai-nilai keagamaan dalam pembuatan konten-konten media. 

    “Yang pasti kita berharap film-film yang diputar di bioskop dapat memberikan hiburan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, tanpa menimbulkan konflik atau ketakutan yang tidak perlu,” pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Legislator PKS Kritik Dampak Sosial dan Psikologis Penayangan Film Horor dengan Unsur Agama Islam

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    08 April 2024 pukul 21:25 WITA

    Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sani Bin Husain. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sani Bin Husain menilai praktik dalam film horor yang menggunakan unsur ibadah didalamnya sebagai bentuk penistaan agama. 

    Menurutnya, film-film horor yang menggunakan elemen-elemen seperti salat dan ibadah umat Islam sebagai bagian dari ceritanya telah menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di masyarakat.

    "Saya juga adalah seorang penikmat film. Saya sering menonton film bersama teman-teman, namun film-film yang menggabungkan unsur agama dengan genre horor ini membuat takut akan ibadah. Oleh karena itu, saya mengimbau kepada semua pemilik bioskop untuk tidak memutar film-film tersebut," ungkap Sani belum lama ini.

    Ia cukup khawatir akan dampak sosial dan psikologis yang bisa ditimbulkan oleh film-film horor yang menggunakan unsur-unsur agama tersebut. 

    Penggunaan salat dan ibadah umat Islam sebagai bagian dari cerita horor diyakini dapat mengganggu keyakinan dan kepercayaan umat Islam serta menciptakan ketakutan yang tidak perlu terhadap praktik keagamaan.

    Sani menegaskan bahwa pembatasan atau penolakan terhadap film-film semacam ini bukanlah bentuk sensor atau pembatasan kebebasan berekspresi, melainkan upaya untuk melindungi nilai-nilai keagamaan dan kesejahteraan mental masyarakat.

    "Kita harus menghargai kebebasan berekspresi, namun kebebasan tersebut haruslah dibatasi oleh nilai-nilai moral dan etika yang berlaku dalam masyarakat. Menghormati agama dan keyakinan orang lain adalah hal yang sangat penting," tegasnya.

    Pria yang juga merupakan Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini berharap agar terdapat diskusi lebih lanjut tentang batasan-batasan dalam seni dan hiburan, serta pentingnya menjaga sensitivitas terhadap keyakinan dan nilai-nilai keagamaan dalam pembuatan konten-konten media. 

    “Yang pasti kita berharap film-film yang diputar di bioskop dapat memberikan hiburan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, tanpa menimbulkan konflik atau ketakutan yang tidak perlu,” pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)