Cari disini...

DPRD Kota Samarinda
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Fuad Fakhruddin. (Foto: Instagram fuad_fakruddin/Seputarfakta.com)
Samarinda - Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Fuad Fakhruddin, menyatakan bahwa masyarakat Samarinda belum siap untuk beralih ke sistem digitalisasi, terutama dalam hal pembayaran parkir.
Fuad mengungkapkan bahwa uji coba parkir nontunai yang dilakukan pada tahun 2021 belum efektif dan tidak mendapat respon positif dari masyarakat.
Ia melihat masyarakat Samarinda masih sangat terbiasa dengan pembayaran parkir tunai karena dianggap lebih mudah dan praktis.
"Banyak warga yang merasa lebih nyaman dengan metode pembayaran konvensional, meskipun sistem nontunai telah diperkenalkan beberapa tahun yang lalu," kata Fuad.
Menurutnya tantangan terbesar dalam mengimplementasikan sistem parkir nontunai adalah kebiasaan dan budaya masyarakat yang masih mengandalkan uang tunai dalam transaksi sehari-hari.
"Perubahan menuju digitalisasi memang memerlukan waktu dan sosialisasi yang lebih intensif. Tidak bisa dipaksakan secara tiba-tiba," katanya.
Meski pembayaran parkir nontunai sudah mulai diterapkan awal bulan Juli lalu, namun masih banyak masyarakat yang belum mempersiapkan diri untuk itu.
Oleh karenanya Edukasi yang masif juga dinilai sangat perlu mengenai manfaat dan kemudahan dari sistem nontunai.
"Kita perlu meningkatkan literasi digital di kalangan masyarakat agar mereka lebih memahami dan siap menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

DPRD Kota Samarinda

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Fuad Fakhruddin. (Foto: Instagram fuad_fakruddin/Seputarfakta.com)
Samarinda - Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Fuad Fakhruddin, menyatakan bahwa masyarakat Samarinda belum siap untuk beralih ke sistem digitalisasi, terutama dalam hal pembayaran parkir.
Fuad mengungkapkan bahwa uji coba parkir nontunai yang dilakukan pada tahun 2021 belum efektif dan tidak mendapat respon positif dari masyarakat.
Ia melihat masyarakat Samarinda masih sangat terbiasa dengan pembayaran parkir tunai karena dianggap lebih mudah dan praktis.
"Banyak warga yang merasa lebih nyaman dengan metode pembayaran konvensional, meskipun sistem nontunai telah diperkenalkan beberapa tahun yang lalu," kata Fuad.
Menurutnya tantangan terbesar dalam mengimplementasikan sistem parkir nontunai adalah kebiasaan dan budaya masyarakat yang masih mengandalkan uang tunai dalam transaksi sehari-hari.
"Perubahan menuju digitalisasi memang memerlukan waktu dan sosialisasi yang lebih intensif. Tidak bisa dipaksakan secara tiba-tiba," katanya.
Meski pembayaran parkir nontunai sudah mulai diterapkan awal bulan Juli lalu, namun masih banyak masyarakat yang belum mempersiapkan diri untuk itu.
Oleh karenanya Edukasi yang masif juga dinilai sangat perlu mengenai manfaat dan kemudahan dari sistem nontunai.
"Kita perlu meningkatkan literasi digital di kalangan masyarakat agar mereka lebih memahami dan siap menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)