DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Joha Fajal Tangkap Adanya Keanehan Soal Pertamini dengan Pertamina

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    19 Maret 2024 pukul 15:02 WITA

    Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Joha Fajal. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Joha Fajal, memberikan tanggapannya terkait kelangkaan bahan bakar jenis pertalite di SPBU. Ia pun turut menyoroti keanehan dalam kejadian ini. 

    "Misalnya, jika memang pembelian pertalite oleh penjual eceran di masyarakat dilarang, mengapa masih ada yang bisa mendapatkannya? Jika memang tidak diperbolehkan oleh Pertamina, seharusnya barang tersebut tidak sepatutnya beredar," ujar Joha, Selasa (19/3/2024).

    Menurutnya, perlu dicermati lebih lanjut apakah Pertamini yang menjual pertalite tersebut memang beroperasi dengan izin resmi dari Pertamina atau tidak. 

    “Kalau memang itu betul pertamininya dari Pertamina mereka tidak bisa juga melarang orang untuk membeli minyak dijual ke pertamini,” tuturnya.

    Ia mengakui bahwa dengan hadirnya pertamini memberikan manfaat pada masyarakat seperti aktivitas ekonomi di tengah masyrakat dapat berjalan.

    “Masyarakat yang menggunakan motor itu tidak lagi antri di SPBU. Yang jadi masalah itu kan karena sudah terjadi kebakaran beberapa kali karena pertamini,” ungkapnya.

    Menurutnya jika Pertamini tersebut resmi bekerjasama dengan Pertamina, maka dapat dianggap bahwa ada kesepakatan antara keduanya. Melihat dari nama dan bentuknya, sangat mirip dengan Pertamina. Terlebih dari logo yang terpampang di Pertamini adalah milik Pertamina.

    “Tapi kalau Pertamini tersebut menggunakan merek palsu Pertamina, maka Pertamina seharusnya mengambil tindakan hukum terhadap masyarakat yang menggunakan logo tersebut," bebernya.

    Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Partai Nasadem ini memandang bahwa Pertamina mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap persoalan ini. Terlebih sempat terjadi beberapa kali kebakaran yang menimpa warga akibat dari Pertamini.

    "Yang paling bertanggungjawab soal ini adalah Pertamina, dan pemerintah juga harus sadar, setiap ada permasalahan di masyarakat maka pemerintah harus hadir di sana," tambahnya.

    Joha juga turut menyampaikan pengalamannya pribadi terkait sulitnya mendapatkan pertalite dalam beberapa bulan terakhir.
     
    "Di tempat lain seperti Makassar, pertalite mudah ditemukan tanpa harus antri dan tersedia di hampir setiap SPBU. Ini menunjukkan ironi bahwa kita sebagai produsen minyak justru mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar sendiri," pungkasnya.

    (Adv/Sf/Rs)

    DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Joha Fajal Tangkap Adanya Keanehan Soal Pertamini dengan Pertamina

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    19 Maret 2024 pukul 15:02 WITA

    Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Joha Fajal. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Joha Fajal, memberikan tanggapannya terkait kelangkaan bahan bakar jenis pertalite di SPBU. Ia pun turut menyoroti keanehan dalam kejadian ini. 

    "Misalnya, jika memang pembelian pertalite oleh penjual eceran di masyarakat dilarang, mengapa masih ada yang bisa mendapatkannya? Jika memang tidak diperbolehkan oleh Pertamina, seharusnya barang tersebut tidak sepatutnya beredar," ujar Joha, Selasa (19/3/2024).

    Menurutnya, perlu dicermati lebih lanjut apakah Pertamini yang menjual pertalite tersebut memang beroperasi dengan izin resmi dari Pertamina atau tidak. 

    “Kalau memang itu betul pertamininya dari Pertamina mereka tidak bisa juga melarang orang untuk membeli minyak dijual ke pertamini,” tuturnya.

    Ia mengakui bahwa dengan hadirnya pertamini memberikan manfaat pada masyarakat seperti aktivitas ekonomi di tengah masyrakat dapat berjalan.

    “Masyarakat yang menggunakan motor itu tidak lagi antri di SPBU. Yang jadi masalah itu kan karena sudah terjadi kebakaran beberapa kali karena pertamini,” ungkapnya.

    Menurutnya jika Pertamini tersebut resmi bekerjasama dengan Pertamina, maka dapat dianggap bahwa ada kesepakatan antara keduanya. Melihat dari nama dan bentuknya, sangat mirip dengan Pertamina. Terlebih dari logo yang terpampang di Pertamini adalah milik Pertamina.

    “Tapi kalau Pertamini tersebut menggunakan merek palsu Pertamina, maka Pertamina seharusnya mengambil tindakan hukum terhadap masyarakat yang menggunakan logo tersebut," bebernya.

    Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Partai Nasadem ini memandang bahwa Pertamina mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap persoalan ini. Terlebih sempat terjadi beberapa kali kebakaran yang menimpa warga akibat dari Pertamini.

    "Yang paling bertanggungjawab soal ini adalah Pertamina, dan pemerintah juga harus sadar, setiap ada permasalahan di masyarakat maka pemerintah harus hadir di sana," tambahnya.

    Joha juga turut menyampaikan pengalamannya pribadi terkait sulitnya mendapatkan pertalite dalam beberapa bulan terakhir.
     
    "Di tempat lain seperti Makassar, pertalite mudah ditemukan tanpa harus antri dan tersedia di hampir setiap SPBU. Ini menunjukkan ironi bahwa kita sebagai produsen minyak justru mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar sendiri," pungkasnya.

    (Adv/Sf/Rs)