Cari disini...

DPRD Kota Samarinda
Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Laila Fatihah. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Laila Fatihah, menegaskan bahwa pemindahan lokasi parkir Taman Samarendah ke Museum Samarinda tidak menjadi masalah.
Menurutnya, langkah ini diambil untuk mengurangi kecemburuan di kalangan masyarakat.
"Pemindahan parkir ini memang perlu dilakukan agar tidak ada kecemburuan dari masyarakat. Selain itu, tempat parkir harus disediakan dengan baik untuk mencegah munculnya jukir liar," kata Laila, Selasa (23/7/2024).
Ia menyoroti banyaknya titik-titik parkir yang rawan munculnya jukir liar, terutama di sekitar toko-toko retail.
Kondisi ini, menurut Laila, sulit dikendalikan karena para jukir liar seringkali adalah preman yang membuat pihak toko pun enggan mengambil tindakan.
"Dari tokonya sendiripun tidak berani untuk melakukan sesuatu, karena kebanyakan adalah preman. Ini harusnya juga bisa jadi perhatian Dinas Perhubungan (Dishub)," tegas Laila.
Ia juga menekankan pentingnya perhatian dari Dishub terhadap masalah ini, mengingat toko-toko retail sebenarnya sudah membayar retribusi parkir.
Namun, para pengunjung masih harus membayar parkir tambahan kepada jukir liar, yang berarti mereka membayar dua kali lipat.
"Ini harus jadi perhatian juga, jangan hanya di mal besar saja yang terus ditegaskan, padahal yang kecil-kecil ini lebih meresahkan," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

DPRD Kota Samarinda

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Laila Fatihah. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Laila Fatihah, menegaskan bahwa pemindahan lokasi parkir Taman Samarendah ke Museum Samarinda tidak menjadi masalah.
Menurutnya, langkah ini diambil untuk mengurangi kecemburuan di kalangan masyarakat.
"Pemindahan parkir ini memang perlu dilakukan agar tidak ada kecemburuan dari masyarakat. Selain itu, tempat parkir harus disediakan dengan baik untuk mencegah munculnya jukir liar," kata Laila, Selasa (23/7/2024).
Ia menyoroti banyaknya titik-titik parkir yang rawan munculnya jukir liar, terutama di sekitar toko-toko retail.
Kondisi ini, menurut Laila, sulit dikendalikan karena para jukir liar seringkali adalah preman yang membuat pihak toko pun enggan mengambil tindakan.
"Dari tokonya sendiripun tidak berani untuk melakukan sesuatu, karena kebanyakan adalah preman. Ini harusnya juga bisa jadi perhatian Dinas Perhubungan (Dishub)," tegas Laila.
Ia juga menekankan pentingnya perhatian dari Dishub terhadap masalah ini, mengingat toko-toko retail sebenarnya sudah membayar retribusi parkir.
Namun, para pengunjung masih harus membayar parkir tambahan kepada jukir liar, yang berarti mereka membayar dua kali lipat.
"Ini harus jadi perhatian juga, jangan hanya di mal besar saja yang terus ditegaskan, padahal yang kecil-kecil ini lebih meresahkan," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)