Cari disini...

DPRD Kota Samarinda
Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Abdul Rohim, menyoroti masalah distribusi gas yang belakangan menjadi keluhan warga.
Menurutnya, stok gas saat ini sebenarnya aman, terutama setelah adanya tambahan suplai. Namun, yang menjadi perhatian utama adalah pengawasan dari pemerintah kota dan, lebih penting lagi, dari pihak Pertamina.
"Pengawasan distribusi gas sepenuhnya merupakan otoritas Pertamina. Kita bisa belajar dari Bulog, di mana pedagang yang menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) akan disanksi dengan cara distop suplai barangnya. Sayangnya, ketegasan semacam itu belum terlihat dari Pertamina," ujar Rohim, Rabu (12/6/2024).
Ia menambahkan, selain tingginya permintaan, ada juga dugaan adanya spekulan yang bermain di pasar soal gas.
Oleh karena itu, pengawasan dan tindakan tegas sangat diperlukan untuk mencegah hal tersebut.
"Yang bisa menindak ini adalah Pertamina. Jadi, kita meminta Pertamina untuk betul-betul mengawasi. Stok sebenarnya ada, namun jika ada spekulan yang bermain, gas bisa tiba-tiba hilang dari peredaran. Hal ini harus diawasi dan jika ditemukan pelanggaran, segera ditindak," ungkapnya.
Menurutnya Ketegasan dalam pengawasan dan tindakan terhadap pelanggaran tata niaga gas adalah kunci untuk menjamin kestabilan stok elpiji sepanjang waktu. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

DPRD Kota Samarinda

Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Abdul Rohim, menyoroti masalah distribusi gas yang belakangan menjadi keluhan warga.
Menurutnya, stok gas saat ini sebenarnya aman, terutama setelah adanya tambahan suplai. Namun, yang menjadi perhatian utama adalah pengawasan dari pemerintah kota dan, lebih penting lagi, dari pihak Pertamina.
"Pengawasan distribusi gas sepenuhnya merupakan otoritas Pertamina. Kita bisa belajar dari Bulog, di mana pedagang yang menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) akan disanksi dengan cara distop suplai barangnya. Sayangnya, ketegasan semacam itu belum terlihat dari Pertamina," ujar Rohim, Rabu (12/6/2024).
Ia menambahkan, selain tingginya permintaan, ada juga dugaan adanya spekulan yang bermain di pasar soal gas.
Oleh karena itu, pengawasan dan tindakan tegas sangat diperlukan untuk mencegah hal tersebut.
"Yang bisa menindak ini adalah Pertamina. Jadi, kita meminta Pertamina untuk betul-betul mengawasi. Stok sebenarnya ada, namun jika ada spekulan yang bermain, gas bisa tiba-tiba hilang dari peredaran. Hal ini harus diawasi dan jika ditemukan pelanggaran, segera ditindak," ungkapnya.
Menurutnya Ketegasan dalam pengawasan dan tindakan terhadap pelanggaran tata niaga gas adalah kunci untuk menjamin kestabilan stok elpiji sepanjang waktu. (Adv)
(Sf/Rs)