DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Abdul Rohim  Ingatkan Pemkot Samarinda Soal Dampak Revitalisasi Pasar Pagi

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    07 Februari 2024 pukul 14:58 WITA

    Bagian dalam sisi belakang Pasar Pagi. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Rencana revitalisasi Pasar Pagi masih jadi perbincangan hangat, terutama polemik pembebasan lahan milik warga. Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Abdul Rohim mengingatkan Pemerintah Kota (Pemkot) terkait dengan dampak dari adanya revitalisasi ini.

    Rohim mengatakan, pihakknya sejak awal rencana ini dibuat telah mengingatkan Pemkot bersama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam beberapa pertemuan yang sudah dilakukan. Ia mengatakan bahwasannya, tujuan dari program atau kegiatan yang dibuat dalam konteks manajemennya adalah output. Tapi menurutnya ada hal lain yang lebih penting untuk dicapai.

    “Kita ga boleh berhenti pada output. Kita harus sampai pada outcome.  Bahwa program itu dibuat apa dampaknya dan benefit apa yang mau dirasakan. Dan yang dirasakan itu bukan untuk pemerintah, tapi untuk masyarakat,” jelas Rohim, Selasa (6/2/2024).

    Dampak itu utamanya harus dirasakan oleh masyarakat. Bagaimanapun biaya yang digunakan dalam program atau kegiatan itu asalnya dari masyarakat. Sehingga menurutnya yang pertama kali harus merasakan dampak dari program itu adalah masyarakat. 

    “Makanya sejak awal kami mengingatkan kepada pemkot hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah dampak sosial ekonominya.Pastikan bahwa proyek apapun namanya, bahwa dampak sosial ekonominya harus positif,” tuturnya. 

    Mulanya ia telah percaya dan yakin pada pemkot bahwa segala sesuatunya teelah dipersiapkan dengan sangat matang. Namun melihat proses yang terjadi, Rohim mengaku kecewa dan ada kekhawatiran yang dirasakannya. 
    “Pada akhirnya kami di Komisi II menyimpulkan, sepertinya pemkot belum terlalu siap untuk proses revitalisasi beserta dengan seluruh faktor-faktor yang terkait dengan revitalisasi tersebut,” tuturnya.

    Ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Rohim mengira pemkot telah menyiapkan tempat untuk para pedagang beserta dengan mekanisme perputaran aktivitas ekonominya. 
    “Artinya pemkot tidak hanya siap memobilisasi pedagang dari pasar pagi ke tempat yang baru tapi juga sudah menyiapkan meknisme design untuk memobilisasi para pelanggan. Karena tidak mungkin ada aktivitas ekonomi kalau hanya ada pedagang,” pungkasnya. (Adv/Sf/Rs)

    DPRD Kota Samarinda

    DPRD Kota Samarinda

    Abdul Rohim  Ingatkan Pemkot Samarinda Soal Dampak Revitalisasi Pasar Pagi

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    07 Februari 2024 pukul 14:58 WITA

    Bagian dalam sisi belakang Pasar Pagi. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Rencana revitalisasi Pasar Pagi masih jadi perbincangan hangat, terutama polemik pembebasan lahan milik warga. Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Abdul Rohim mengingatkan Pemerintah Kota (Pemkot) terkait dengan dampak dari adanya revitalisasi ini.

    Rohim mengatakan, pihakknya sejak awal rencana ini dibuat telah mengingatkan Pemkot bersama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam beberapa pertemuan yang sudah dilakukan. Ia mengatakan bahwasannya, tujuan dari program atau kegiatan yang dibuat dalam konteks manajemennya adalah output. Tapi menurutnya ada hal lain yang lebih penting untuk dicapai.

    “Kita ga boleh berhenti pada output. Kita harus sampai pada outcome.  Bahwa program itu dibuat apa dampaknya dan benefit apa yang mau dirasakan. Dan yang dirasakan itu bukan untuk pemerintah, tapi untuk masyarakat,” jelas Rohim, Selasa (6/2/2024).

    Dampak itu utamanya harus dirasakan oleh masyarakat. Bagaimanapun biaya yang digunakan dalam program atau kegiatan itu asalnya dari masyarakat. Sehingga menurutnya yang pertama kali harus merasakan dampak dari program itu adalah masyarakat. 

    “Makanya sejak awal kami mengingatkan kepada pemkot hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah dampak sosial ekonominya.Pastikan bahwa proyek apapun namanya, bahwa dampak sosial ekonominya harus positif,” tuturnya. 

    Mulanya ia telah percaya dan yakin pada pemkot bahwa segala sesuatunya teelah dipersiapkan dengan sangat matang. Namun melihat proses yang terjadi, Rohim mengaku kecewa dan ada kekhawatiran yang dirasakannya. 
    “Pada akhirnya kami di Komisi II menyimpulkan, sepertinya pemkot belum terlalu siap untuk proses revitalisasi beserta dengan seluruh faktor-faktor yang terkait dengan revitalisasi tersebut,” tuturnya.

    Ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Rohim mengira pemkot telah menyiapkan tempat untuk para pedagang beserta dengan mekanisme perputaran aktivitas ekonominya. 
    “Artinya pemkot tidak hanya siap memobilisasi pedagang dari pasar pagi ke tempat yang baru tapi juga sudah menyiapkan meknisme design untuk memobilisasi para pelanggan. Karena tidak mungkin ada aktivitas ekonomi kalau hanya ada pedagang,” pungkasnya. (Adv/Sf/Rs)