DPRD Kota Bontang

    DPRD Kota Bontang

    DPRD Nilai Pengelolaan Sampah Modern Layak jadi Referensi bagi Bontang

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Rusdianto
    21 Juli 2026 pukul 22:31 WITA

    Anggota Komisi C DPRD Bontang, Bonnie Sukardi. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)

    Bontang - Pengelolaan sampah berbasis teknologi yang diterapkan sejumlah daerah dinilai dapat menjadi referensi bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang dalam menghadapi persoalan persampahan. DPRD Bontang menilai pendekatan tersebut tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah yang lebih produktif.

    Anggota Komisi C DPRD Bontang, Bonnie Sukardi, menyampaikan pandangan itu usai mengikuti forum Asosiasi Dewan Kota Seluruh Indonesia yang membahas pengelolaan sampah perkotaan. Dari sejumlah daerah yang dipaparkan, Kabupaten Kebumen menjadi salah satu contoh yang dinilai berhasil mengembangkan sistem pengelolaan sampah secara modern.

    Menurut Bonnie, pengelolaan sampah kini tidak lagi berorientasi pada pembuangan akhir melalui metode sanitary landfill. Di sejumlah daerah, limbah telah diolah menjadi bahan bakar alternatif maupun bahan baku yang dapat dimanfaatkan kembali oleh sektor industri.

    “Ada daerah yang berhasil mengembangkan sistem sehingga sampah tidak berhenti di tempat pembuangan akhir. Setelah diolah, limbah itu justru memiliki nilai guna dan bisa dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan industri,” ujar Bonnie.

    Ia menilai konsep tersebut patut dipelajari karena mampu memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA), pengolahan sampah juga dapat menciptakan nilai tambah dari material yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

    Bonnie berpandangan, kondisi serupa dapat dikaji penerapannya di Kota Bontang dengan menyesuaikan karakteristik dan kebutuhan daerah.

    “Kalau volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan melalui proses pengolahan, umur layanan TPA tentu menjadi lebih panjang. Karena itu, menurut saya sudah saatnya mulai disiapkan solusi jangka panjang,” katanya.

    Politikus PKB itu juga mendorong Dinas Lingkungan Hidup melakukan kajian terhadap berbagai model pengelolaan sampah yang telah terbukti efektif di daerah lain. Menurutnya, pengelolaan sampah yang inovatif tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat maupun daerah.

    “Harapannya, sampah tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan lingkungan, melainkan sebagai potensi yang dapat dikelola secara lebih produktif apabila didukung perencanaan yang matang,” tutupnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    DPRD Kota Bontang

    DPRD Kota Bontang

    DPRD Nilai Pengelolaan Sampah Modern Layak jadi Referensi bagi Bontang

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Rusdianto
    21 Juli 2026 pukul 22:31 WITA

    Anggota Komisi C DPRD Bontang, Bonnie Sukardi. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)

    Bontang - Pengelolaan sampah berbasis teknologi yang diterapkan sejumlah daerah dinilai dapat menjadi referensi bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang dalam menghadapi persoalan persampahan. DPRD Bontang menilai pendekatan tersebut tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah yang lebih produktif.

    Anggota Komisi C DPRD Bontang, Bonnie Sukardi, menyampaikan pandangan itu usai mengikuti forum Asosiasi Dewan Kota Seluruh Indonesia yang membahas pengelolaan sampah perkotaan. Dari sejumlah daerah yang dipaparkan, Kabupaten Kebumen menjadi salah satu contoh yang dinilai berhasil mengembangkan sistem pengelolaan sampah secara modern.

    Menurut Bonnie, pengelolaan sampah kini tidak lagi berorientasi pada pembuangan akhir melalui metode sanitary landfill. Di sejumlah daerah, limbah telah diolah menjadi bahan bakar alternatif maupun bahan baku yang dapat dimanfaatkan kembali oleh sektor industri.

    “Ada daerah yang berhasil mengembangkan sistem sehingga sampah tidak berhenti di tempat pembuangan akhir. Setelah diolah, limbah itu justru memiliki nilai guna dan bisa dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan industri,” ujar Bonnie.

    Ia menilai konsep tersebut patut dipelajari karena mampu memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA), pengolahan sampah juga dapat menciptakan nilai tambah dari material yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

    Bonnie berpandangan, kondisi serupa dapat dikaji penerapannya di Kota Bontang dengan menyesuaikan karakteristik dan kebutuhan daerah.

    “Kalau volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan melalui proses pengolahan, umur layanan TPA tentu menjadi lebih panjang. Karena itu, menurut saya sudah saatnya mulai disiapkan solusi jangka panjang,” katanya.

    Politikus PKB itu juga mendorong Dinas Lingkungan Hidup melakukan kajian terhadap berbagai model pengelolaan sampah yang telah terbukti efektif di daerah lain. Menurutnya, pengelolaan sampah yang inovatif tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat maupun daerah.

    “Harapannya, sampah tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan lingkungan, melainkan sebagai potensi yang dapat dikelola secara lebih produktif apabila didukung perencanaan yang matang,” tutupnya. (Adv)

    (Sf/Rs)