DPRD Kota Bontang

    DPRD Kota Bontang

    DPRD Bontang Dorong Edukasi Kesehatan Reproduksi untuk Cegah Kehamilan Remaja

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    18 Juli 2026 pukul 12:55 WITA

    Rapat Komisi A DPRD bersama Disdikbud Bontang. (Foto: Setwan Bontang)

    Bontang - Meningkatnya dugaan kasus kehamilan di kalangan remaja menjadi peringatan bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat pengawasan terhadap anak, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

    Anggota DPRD Kota Bontang, Arfian Arsyad, menilai kemudahan akses terhadap berbagai konten di internet menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi bersama. Karena itu, menurutnya peran keluarga tidak dapat tergantikan dalam membentuk karakter dan mengawasi aktivitas remaja.

    “Perhatian orang tua sangat penting. Jangan sampai anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat hingga akhirnya terjerumus pada perilaku yang merugikan masa depan mereka,” ujar Arfian.

    Arfian mengatakan masa remaja seharusnya menjadi waktu untuk memperkuat pendidikan dan mengembangkan kemampuan diri, bukan justru terjebak dalam pergaulan yang berisiko.

    Di sisi lain, ia menilai pemerintah juga perlu mengambil langkah melalui penguatan edukasi kesehatan reproduksi di sekolah. Menurutnya, pemahaman yang benar akan membantu remaja memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang mereka ambil.

    “Edukasi harus terus diberikan agar pembahasan mengenai kesehatan reproduksi tidak lagi dianggap tabu. Justru dengan pengetahuan yang benar, mereka bisa lebih bertanggung jawab terhadap masa depannya,” katanya.

    Arfian menegaskan penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan sekolah atau pemerintah. Sinergi antara keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan dinilai menjadi kunci untuk menekan angka kehamilan usia remaja.

    Ia juga mengingatkan bahwa kehamilan di usia dini dapat memicu berbagai persoalan, mulai dari meningkatnya risiko stunting, kelahiran prematur, hingga terganggunya tumbuh kembang anak. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. (Adv)

    (Sf/Lo)

    DPRD Kota Bontang

    DPRD Kota Bontang

    DPRD Bontang Dorong Edukasi Kesehatan Reproduksi untuk Cegah Kehamilan Remaja

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    18 Juli 2026 pukul 12:55 WITA

    Rapat Komisi A DPRD bersama Disdikbud Bontang. (Foto: Setwan Bontang)

    Bontang - Meningkatnya dugaan kasus kehamilan di kalangan remaja menjadi peringatan bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat pengawasan terhadap anak, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

    Anggota DPRD Kota Bontang, Arfian Arsyad, menilai kemudahan akses terhadap berbagai konten di internet menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi bersama. Karena itu, menurutnya peran keluarga tidak dapat tergantikan dalam membentuk karakter dan mengawasi aktivitas remaja.

    “Perhatian orang tua sangat penting. Jangan sampai anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat hingga akhirnya terjerumus pada perilaku yang merugikan masa depan mereka,” ujar Arfian.

    Arfian mengatakan masa remaja seharusnya menjadi waktu untuk memperkuat pendidikan dan mengembangkan kemampuan diri, bukan justru terjebak dalam pergaulan yang berisiko.

    Di sisi lain, ia menilai pemerintah juga perlu mengambil langkah melalui penguatan edukasi kesehatan reproduksi di sekolah. Menurutnya, pemahaman yang benar akan membantu remaja memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang mereka ambil.

    “Edukasi harus terus diberikan agar pembahasan mengenai kesehatan reproduksi tidak lagi dianggap tabu. Justru dengan pengetahuan yang benar, mereka bisa lebih bertanggung jawab terhadap masa depannya,” katanya.

    Arfian menegaskan penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan sekolah atau pemerintah. Sinergi antara keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan dinilai menjadi kunci untuk menekan angka kehamilan usia remaja.

    Ia juga mengingatkan bahwa kehamilan di usia dini dapat memicu berbagai persoalan, mulai dari meningkatnya risiko stunting, kelahiran prematur, hingga terganggunya tumbuh kembang anak. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. (Adv)

    (Sf/Lo)