DPRD Kota Balikpapan

    DPRD Kota Balikpapan

    Ruang Digital Tidak Sepenuhnya Aman, Najib Minta Diimbangi dengan Literasi Digital yang Memadai

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    16 Oktober 2025 pukul 12:29 WITA

    Anggota Komisi I DPRD Kota Balikpapan, Muhammad Najib. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Dugaan keterlibatan seorang pelajar SMA di Balikpapan dalam aktivitas radikalisme dan kemampuannya merakit bom secara otodidak memicu kekhawatiran luas, salah satunya dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan.

    Anggota Komisi I DPRD Kota Balikpapan, Muhammad Najib menyebut insiden ini sebagai bukti nyata bahwa ruang digital saat ini tidak sepenuhnya aman bagi generasi muda, jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai.

    Menurut Najib, kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi di internet memang membawa manfaat besar dalam dunia pendidikan. Namun jika tanpa kontrol dan bimbingan, hal tersebut bisa menjadi bumerang yang membahayakan masa depan pelajar.

    “Internet bisa menjadi ruang belajar, tetapi juga bisa jadi pintu masuk ideologi berbahaya. Jika mental anak-anak belum siap, mereka mudah dipengaruhi konten radikal yang bebas beredar,” ucap Najib sapaan akrabnya saat dihubungi awak media, Kamis (16/10/2025).

    Ia mendesak Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Balikpapan dan dinas terkait di Provinsi Kaltim yang memiliki wewenang untuk lebih responsif dalam memantau aktivitas dunia digital, khususnya di kalangan pelajar. 

    “Kami juga menekankan pentingnya patroli siber dan kerja sama lintas sektor, seperti kepolisian dan tim siber Polresta Balikpapan, guna memblokir kanal-kanal yang berpotensi menyebarkan radikalisme,” jelas Politis PDI Perjuangan.

    Sebelumnya, Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengungkapkan kasus tersebut dalam acara peringatan Hari Aksara Indonesia. Ia menyoroti media sosial sebagai sarana utama penyebaran ideologi ekstrem.

    “Bahkan mengimbau peran aktif orang tua dalam mengawasi anak-anak mereka, baik di ranah digital maupun lingkungan sosial,” mengingatkannya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan, Irfan Taufik, membenarkan adanya seorang pelajar yang terindikasi terpapar radikalisme.

    Ia memastikan siswa tersebut kini dalam penanganan pihak terkait dan sekolah yang bersangkutan dirahasiakan untuk menjaga privasi.

    “Kasus ini menjadi momentum penting bagi semua pihak sekolah, orang tua, pemerintah, dan aparat untuk memperkuat edukasi digital dan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    DPRD Kota Balikpapan

    DPRD Kota Balikpapan

    Ruang Digital Tidak Sepenuhnya Aman, Najib Minta Diimbangi dengan Literasi Digital yang Memadai

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    16 Oktober 2025 pukul 12:29 WITA

    Anggota Komisi I DPRD Kota Balikpapan, Muhammad Najib. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Dugaan keterlibatan seorang pelajar SMA di Balikpapan dalam aktivitas radikalisme dan kemampuannya merakit bom secara otodidak memicu kekhawatiran luas, salah satunya dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan.

    Anggota Komisi I DPRD Kota Balikpapan, Muhammad Najib menyebut insiden ini sebagai bukti nyata bahwa ruang digital saat ini tidak sepenuhnya aman bagi generasi muda, jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai.

    Menurut Najib, kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi di internet memang membawa manfaat besar dalam dunia pendidikan. Namun jika tanpa kontrol dan bimbingan, hal tersebut bisa menjadi bumerang yang membahayakan masa depan pelajar.

    “Internet bisa menjadi ruang belajar, tetapi juga bisa jadi pintu masuk ideologi berbahaya. Jika mental anak-anak belum siap, mereka mudah dipengaruhi konten radikal yang bebas beredar,” ucap Najib sapaan akrabnya saat dihubungi awak media, Kamis (16/10/2025).

    Ia mendesak Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Balikpapan dan dinas terkait di Provinsi Kaltim yang memiliki wewenang untuk lebih responsif dalam memantau aktivitas dunia digital, khususnya di kalangan pelajar. 

    “Kami juga menekankan pentingnya patroli siber dan kerja sama lintas sektor, seperti kepolisian dan tim siber Polresta Balikpapan, guna memblokir kanal-kanal yang berpotensi menyebarkan radikalisme,” jelas Politis PDI Perjuangan.

    Sebelumnya, Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengungkapkan kasus tersebut dalam acara peringatan Hari Aksara Indonesia. Ia menyoroti media sosial sebagai sarana utama penyebaran ideologi ekstrem.

    “Bahkan mengimbau peran aktif orang tua dalam mengawasi anak-anak mereka, baik di ranah digital maupun lingkungan sosial,” mengingatkannya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan, Irfan Taufik, membenarkan adanya seorang pelajar yang terindikasi terpapar radikalisme.

    Ia memastikan siswa tersebut kini dalam penanganan pihak terkait dan sekolah yang bersangkutan dirahasiakan untuk menjaga privasi.

    “Kasus ini menjadi momentum penting bagi semua pihak sekolah, orang tua, pemerintah, dan aparat untuk memperkuat edukasi digital dan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya. (Adv)

    (Sf/Rs)