Cari disini...
DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara
Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Angka stunting di Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan tren penurunan dari 14 persen pada September 2026, kini turun menjadi 12,6 persen.
Penurunan tersebut mendapat respons positif dari Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani. Menurutnya, capaian itu menunjukkan adanya perkembangan dalam upaya pemerintah daerah menekan angka stunting di Kukar.
Ia menilai penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan pemantauan dan intervensi secara berkelanjutan.
“Ini tentu sesuatu yang harus kita apresiasi. Artinya ada penurunan dan ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan pemerintah berjalan,” ujar Yani, Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, angka tersebut tetap perlu dipantau secara berkala agar pemerintah dapat mengetahui perkembangan di setiap wilayah.
Daerah yang masih memiliki angka stunting tinggi juga perlu menjadi perhatian dan mendapatkan intervensi yang lebih terarah.
“Selalu dicek setiap bulan supaya pergerakannya kelihatan. Mana misalnya yang masih merah, masih tinggi, itu yang kita intervensi,” terangnya.
Yani berharap tren penurunan tersebut dapat terus dipertahankan hingga akhir tahun.
Dengan pemantauan secara rutin, pemerintah dapat melihat hasil keseluruhan program penanganan stunting dan menentukan langkah lanjutan yang diperlukan.
“Sekarang 12,6 persen, jadi lebih turun lagi dibanding bulan sebelumnya. Kita harapkan ini terus turun sampai akhir tahun,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...
DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara

Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Angka stunting di Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan tren penurunan dari 14 persen pada September 2026, kini turun menjadi 12,6 persen.
Penurunan tersebut mendapat respons positif dari Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani. Menurutnya, capaian itu menunjukkan adanya perkembangan dalam upaya pemerintah daerah menekan angka stunting di Kukar.
Ia menilai penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan pemantauan dan intervensi secara berkelanjutan.
“Ini tentu sesuatu yang harus kita apresiasi. Artinya ada penurunan dan ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan pemerintah berjalan,” ujar Yani, Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, angka tersebut tetap perlu dipantau secara berkala agar pemerintah dapat mengetahui perkembangan di setiap wilayah.
Daerah yang masih memiliki angka stunting tinggi juga perlu menjadi perhatian dan mendapatkan intervensi yang lebih terarah.
“Selalu dicek setiap bulan supaya pergerakannya kelihatan. Mana misalnya yang masih merah, masih tinggi, itu yang kita intervensi,” terangnya.
Yani berharap tren penurunan tersebut dapat terus dipertahankan hingga akhir tahun.
Dengan pemantauan secara rutin, pemerintah dapat melihat hasil keseluruhan program penanganan stunting dan menentukan langkah lanjutan yang diperlukan.
“Sekarang 12,6 persen, jadi lebih turun lagi dibanding bulan sebelumnya. Kita harapkan ini terus turun sampai akhir tahun,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)