Cari disini...
DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara
Anggota Komisi I DPRD Kukar, Akbar Haka (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Anggota Komisi I DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Akbar Haka mendorong Arbizz Space yang berada kawasan Bundaran Tuah Himba Tenggarong tidak hanya menjadi tempat kuliner, tapi berkembang sebagai pusat aktivitas masyarakat atau community hub.
Arbizz Space merupakan singkatan dari Aulia Rendi Bisnis. Menurutnya, keberadaan ruang publik seperti Arbizz Space perlu dihidupkan dengan berbagai aktivitas yang melibatkan komunitas dan generasi muda.
Ide itu dinilai penting dilakukan untuk menjaga tingkat kunjungan agar tidak hanya ramai ketika pertama kali dibuka.
“Memang rumus dasar dari pujasera seperti yang ada di Arbizz Space, di mana-mana ketika kita melihat dan belajar dari kota-kota lain, dia memang harus jadi pusat ruang publik, jadi community hub,” ujar Akbar, Kamis (1/10/2026).
Ia mengatakan komunitas dapat memanfaatkan kawasan tersebut untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan, diskusi hingga aktivitas kreatif.
Dengan melibatkan komunitas, aktivitas di Arbizz Space tidak sepenuhnya bergantung pada kegiatan atau acara besar yang digelar pengelola.
“Komunitas-komunitas itu harus berkegiatan. Ada tidak ada event, mereka berkumpul dan membuat sebuah pertemuan, mungkin jadi ruang diskusi atau komunitas visual yang bisa bergambar bersama di situ,” ungkapnya.
Akbar menilai aktivitas kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membangun keterikatan masyarakat terhadap kawasan tersebut.
Upaya tersebut sekaligus menjadi salah satu cara menjaga keberlanjutan Arbizz Space setelah antusiasme masyarakat terhadap tempat baru mulai berkurang.
“Jadi membuat hal-hal kecil, tapi terus membuat engagement atau acara di situ,” jelasnya.
Ia mengingatkan tantangan bagi pengelola bukan hanya mendatangkan pengunjung pada masa awal pembukaan, tapi mempertahankan kunjungan dalam jangka panjang.
Menurutnya, promosi melalui media sosial juga perlu diperkuat. Sebab, tempat-tempat baru biasanya membutuhkan strategi konten yang konsisten untuk mempertahankan perhatian masyarakat.
“Jangan sampai ketika kunjungan masyarakat sudah habis, rasa penasarannya akhirnya berhenti dan akhirnya tempatnya menjadi mati. Itu yang menjadi PR bagi pengelola,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...
DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara

Anggota Komisi I DPRD Kukar, Akbar Haka (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Anggota Komisi I DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Akbar Haka mendorong Arbizz Space yang berada kawasan Bundaran Tuah Himba Tenggarong tidak hanya menjadi tempat kuliner, tapi berkembang sebagai pusat aktivitas masyarakat atau community hub.
Arbizz Space merupakan singkatan dari Aulia Rendi Bisnis. Menurutnya, keberadaan ruang publik seperti Arbizz Space perlu dihidupkan dengan berbagai aktivitas yang melibatkan komunitas dan generasi muda.
Ide itu dinilai penting dilakukan untuk menjaga tingkat kunjungan agar tidak hanya ramai ketika pertama kali dibuka.
“Memang rumus dasar dari pujasera seperti yang ada di Arbizz Space, di mana-mana ketika kita melihat dan belajar dari kota-kota lain, dia memang harus jadi pusat ruang publik, jadi community hub,” ujar Akbar, Kamis (1/10/2026).
Ia mengatakan komunitas dapat memanfaatkan kawasan tersebut untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan, diskusi hingga aktivitas kreatif.
Dengan melibatkan komunitas, aktivitas di Arbizz Space tidak sepenuhnya bergantung pada kegiatan atau acara besar yang digelar pengelola.
“Komunitas-komunitas itu harus berkegiatan. Ada tidak ada event, mereka berkumpul dan membuat sebuah pertemuan, mungkin jadi ruang diskusi atau komunitas visual yang bisa bergambar bersama di situ,” ungkapnya.
Akbar menilai aktivitas kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membangun keterikatan masyarakat terhadap kawasan tersebut.
Upaya tersebut sekaligus menjadi salah satu cara menjaga keberlanjutan Arbizz Space setelah antusiasme masyarakat terhadap tempat baru mulai berkurang.
“Jadi membuat hal-hal kecil, tapi terus membuat engagement atau acara di situ,” jelasnya.
Ia mengingatkan tantangan bagi pengelola bukan hanya mendatangkan pengunjung pada masa awal pembukaan, tapi mempertahankan kunjungan dalam jangka panjang.
Menurutnya, promosi melalui media sosial juga perlu diperkuat. Sebab, tempat-tempat baru biasanya membutuhkan strategi konten yang konsisten untuk mempertahankan perhatian masyarakat.
“Jangan sampai ketika kunjungan masyarakat sudah habis, rasa penasarannya akhirnya berhenti dan akhirnya tempatnya menjadi mati. Itu yang menjadi PR bagi pengelola,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)