DPRD Kabupaten Berau

    Tak Kalah dari Coklat, DPRD Soroti Potensi Kopi Lokal Berau

    seputarfakta.com - Baiq Eliana -

    DPRD Kabupaten Berau

    04 April 2026 02:21 WIB

    Anggota Komisi ll DPRD Berau, Sri Kumalasari. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari menyoroti potensi kopi khas Berau yang dianggap tidak kalah unggul dibandingkan coklat, komoditas lokal yang sudah menembus pasar internasional.

    Menurutnya komoditas kopi memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat, meski pengelolaannya kini masih belum optimal.

    "Komoditas kopi Berau memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Kopi ini tidak kalah potensinya dengan coklat, cuma pengelolaannya yang masih belum optimal," ujar Sri Kumalasari.

    Ia menyebut beberapa wilayah di Berau, seperti Sambakungan, Talisayan, hingga Pilanjau menunjukkan daerah ini memiliki potensi perkebunan yang menjanjikan. Namun ia menekankan perlunya perhatian serius dari pemerintah daerah agar kopi lokal bisa bersaing dengan produk dari luar.

    "Potensinya ada, tinggal bagaimana kita mendorong pengelolaannya agar lebih serius dan terarah. Salah satu langkah penting adalah memperkuat kelembagaan petani melalui pembentukan kelompok tani, sehingga mereka lebih mudah mendapatkan pembinaan maupun bantuan dari pemerintah," katanya.

    Oleh karena itu, ia juga menekankan pentingnya dukungan sarana produksi, mulai dari peralatan pengolahan hingga pemasaran hasil panen.

    "Peningkatan kualitas dan nilai tambah produk akan berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Kalau petaninya dibina dengan baik, kualitas kopi kita pasti bisa bersaing," tambahnya.

    Ia pun mengatakan kini sejumlah kedai kopi di Berau masih mendatangkan biji kopi dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan usaha mereka. Kondisi ini justru menjadi peluang bagi petani lokal untuk meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan pasar dari hasil perkebunan sendiri.

    "Kalau produksi lokal bisa ditingkatkan, tentu akan membantu perekonomian petani sekaligus mengurangi ketergantungan dari luar daerah," ungkapnya.

    Sri Kumalasari berharap pemerintah daerah pun dapat terus mendorong pengembangan kopi Berau melalui program pembinaan yang berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor.

    "Jika dikelola dengan baik, kopi Berau diyakini berpotensi menjadi komoditas unggulan di masa depan," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    DPRD Kabupaten Berau

    Tak Kalah dari Coklat, DPRD Soroti Potensi Kopi Lokal Berau

    seputarfakta.com - Baiq Eliana -

    DPRD Kabupaten Berau

    04 April 2026 02:21 WIB

    Anggota Komisi ll DPRD Berau, Sri Kumalasari. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari menyoroti potensi kopi khas Berau yang dianggap tidak kalah unggul dibandingkan coklat, komoditas lokal yang sudah menembus pasar internasional.

    Menurutnya komoditas kopi memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat, meski pengelolaannya kini masih belum optimal.

    "Komoditas kopi Berau memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Kopi ini tidak kalah potensinya dengan coklat, cuma pengelolaannya yang masih belum optimal," ujar Sri Kumalasari.

    Ia menyebut beberapa wilayah di Berau, seperti Sambakungan, Talisayan, hingga Pilanjau menunjukkan daerah ini memiliki potensi perkebunan yang menjanjikan. Namun ia menekankan perlunya perhatian serius dari pemerintah daerah agar kopi lokal bisa bersaing dengan produk dari luar.

    "Potensinya ada, tinggal bagaimana kita mendorong pengelolaannya agar lebih serius dan terarah. Salah satu langkah penting adalah memperkuat kelembagaan petani melalui pembentukan kelompok tani, sehingga mereka lebih mudah mendapatkan pembinaan maupun bantuan dari pemerintah," katanya.

    Oleh karena itu, ia juga menekankan pentingnya dukungan sarana produksi, mulai dari peralatan pengolahan hingga pemasaran hasil panen.

    "Peningkatan kualitas dan nilai tambah produk akan berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Kalau petaninya dibina dengan baik, kualitas kopi kita pasti bisa bersaing," tambahnya.

    Ia pun mengatakan kini sejumlah kedai kopi di Berau masih mendatangkan biji kopi dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan usaha mereka. Kondisi ini justru menjadi peluang bagi petani lokal untuk meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan pasar dari hasil perkebunan sendiri.

    "Kalau produksi lokal bisa ditingkatkan, tentu akan membantu perekonomian petani sekaligus mengurangi ketergantungan dari luar daerah," ungkapnya.

    Sri Kumalasari berharap pemerintah daerah pun dapat terus mendorong pengembangan kopi Berau melalui program pembinaan yang berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor.

    "Jika dikelola dengan baik, kopi Berau diyakini berpotensi menjadi komoditas unggulan di masa depan," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)