DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Kabupaten Berau

    Penguatan Budaya Lewat Batik Dinilai Mampu Dongkrak Ekonomi Kreatif Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    14 Mei 2026 pukul 20:45 WITA

    Produk Pengerajin Batik Lokal Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Penguatan budaya lokal melalui penggunaan batik khas Berau dinilai mampu menjadi langkah strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif, sekaligus mempromosikan sektor pariwisata daerah.

    Penerapan penggunaan batik motif khas Berau di lingkungan pemerintahan disebut tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga membuka peluang usaha bagi para pelaku UMKM dan industri kreatif lokal.

    Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari mengatakan penerapan Peraturan Bupati Nomor 43 Tahun 2021 tentang penggunaan batik khas Berau harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

    "Penggunaan batik lokal ini bisa jadi media promosi budaya yang efektif jika diterapkan secara luas di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat. Harus ada sosialisasi kepada OPD-OPD, lalu instansi vertikal akan mengikuti," ujar Sri.

    Ia menjelaskan, langkah tersebut dapat menjadi strategi memperkenalkan kekayaan budaya Berau kepada wisatawan sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah perkembangan sektor pariwisata.

    "Penggunaan batik khas Berau tidak boleh hanya digunakan pada kegiatan seremonial atau acara tertentu saja, tetapi diterapkan secara konsisten dalam aktivitas kerja pemerintahan," tuturnya.

    Ia menilai konsistensi penggunaan batik lokal akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan Industri Kecil dan Menengah (IKM), terutama pengrajin batik dan pelaku usaha jahit di Berau.

    "Dengan meningkatnya permintaan, roda ekonomi masyarakat akan ikut bergerak. Sudah saatnya kita mencari peluang pendapatan agar tidak bergantung pada sektor pertambangan saja," katanya.

    Ia juga mendorong adanya aturan teknis berupa jadwal khusus penggunaan batik khas Berau di lingkungan kerja pemerintahan guna memperkuat implementasi kebijakan tersebut.

    "Mungkin dibuatkan jadwal, seperti setiap hari Kamis dan Jumat wajib menggunakan baju batik khas Berau," tambahnya.

    Sri Kumalasari yakin, apabila kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor UMKM, tetapi juga terhadap promosi pariwisata daerah melalui pengenalan identitas budaya lokal.

    "Motif khas Berau ini bisa jadi identitas yang  memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luar. Ini juga menjadi salah satu langkah mempromosikan pariwisata Berau," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Kabupaten Berau

    Penguatan Budaya Lewat Batik Dinilai Mampu Dongkrak Ekonomi Kreatif Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    14 Mei 2026 pukul 20:45 WITA

    Produk Pengerajin Batik Lokal Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Penguatan budaya lokal melalui penggunaan batik khas Berau dinilai mampu menjadi langkah strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif, sekaligus mempromosikan sektor pariwisata daerah.

    Penerapan penggunaan batik motif khas Berau di lingkungan pemerintahan disebut tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga membuka peluang usaha bagi para pelaku UMKM dan industri kreatif lokal.

    Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari mengatakan penerapan Peraturan Bupati Nomor 43 Tahun 2021 tentang penggunaan batik khas Berau harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

    "Penggunaan batik lokal ini bisa jadi media promosi budaya yang efektif jika diterapkan secara luas di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat. Harus ada sosialisasi kepada OPD-OPD, lalu instansi vertikal akan mengikuti," ujar Sri.

    Ia menjelaskan, langkah tersebut dapat menjadi strategi memperkenalkan kekayaan budaya Berau kepada wisatawan sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah perkembangan sektor pariwisata.

    "Penggunaan batik khas Berau tidak boleh hanya digunakan pada kegiatan seremonial atau acara tertentu saja, tetapi diterapkan secara konsisten dalam aktivitas kerja pemerintahan," tuturnya.

    Ia menilai konsistensi penggunaan batik lokal akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan Industri Kecil dan Menengah (IKM), terutama pengrajin batik dan pelaku usaha jahit di Berau.

    "Dengan meningkatnya permintaan, roda ekonomi masyarakat akan ikut bergerak. Sudah saatnya kita mencari peluang pendapatan agar tidak bergantung pada sektor pertambangan saja," katanya.

    Ia juga mendorong adanya aturan teknis berupa jadwal khusus penggunaan batik khas Berau di lingkungan kerja pemerintahan guna memperkuat implementasi kebijakan tersebut.

    "Mungkin dibuatkan jadwal, seperti setiap hari Kamis dan Jumat wajib menggunakan baju batik khas Berau," tambahnya.

    Sri Kumalasari yakin, apabila kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor UMKM, tetapi juga terhadap promosi pariwisata daerah melalui pengenalan identitas budaya lokal.

    "Motif khas Berau ini bisa jadi identitas yang  memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luar. Ini juga menjadi salah satu langkah mempromosikan pariwisata Berau," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Lo)