DPRD Kabupaten Berau

    Kopi Berau Punya Kualitas Bersaing, DPRD Minta Pemda Lebih Aktif

    Seputarfakta.com - Baiq Eliana -

    DPRD Kabupaten Berau

    12 Mei 2026 08:47 WIB

    Ilustrasi kopi. (Foto: freepik)

    Tanjung Redeb - Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi menyoroti terkait meningkatnya tren konsumsi kopi serta menjamurnya kedai kopi di Berau. Menurutnya, hal ini seharusnya menjadi peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis perkebunan rakyat.

    "Potensi kopi lokal di Kabupaten Berau cukup besar tapi belum berkembang secara maksimal meski memiliki peluang pasar yang besar," ujar Sumadi.

    Oleh karena itu, dirinya pun meminta pemerintah daerah agar lebih aktif dalam mendukung petani dan pelaku usaha kopi agar mampu bersaing dan berkembang secara berkelanjutan.

    "Kalau pasarnya sudah ada dan kualitasnya sudah diakui, berarti masalahnya ada di dukungan dan pengelolaan," tuturnya.

    Ia pun menyebut hingga saat ini, sebagian besar kedai kopi di Berau masih mengandalkan pasokan biji kopi dari luar daerah. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pengembangan kopi lokal belum mendapat perhatian maksimal.

    "Persoalan utama bukan terletak pada kualitas kopi lokal, melainkan lemahnya pembinaan dan pengelolaan sektor hulu hingga hilir. Padahal, kopi asal Berau disebut telah menunjukkan kualitas yang mampu bersaing setelah meraih penghargaan dalam ajang lomba kopi beberapa waktu lalu," katanya. 

    Sementara itu, dirinya juga menyampaikan terkait regulasi mengenai hibah dan bantuan pemerintah yang mewajibkan petani tergabung dalam kelompok tani memang harus dipatuhi. Akan tetapi, pemerintah daerah dinilai tidak bisa hanya menunggu masyarakat membentuk kelompok tani secara mandiri.

    "Tanpa intervensi, petani akan kesulitan memenuhi persyaratan administrasi dan akhirnya tetap berjalan sendiri tanpa dukungan alat produksi maupun akses pemasaran," ujarnya.

    Selain itu, ia menyampaikan masih banyak petani kopi yang belum mampu memenuhi syarat administrasi sehingga kesulitan mengakses bantuan alat produksi, pelatihan, hingga pemasaran. Akibatnya, pengembangan usaha kopi rakyat berjalan sendiri-sendiri dan sulit berkembang secara berkelanjutan.

    "Saya minta pemerintah daerah agar lebih aktif turun ke lapangan untuk memfasilitasi pembentukan kelompok tani kopi sekaligus memperkuat pendampingan usaha," katanya.

    Sumadi pun mengusulkan adanya kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan perusahaan swasta dalam penyediaan lahan, sarana produksi, hingga fasilitas pascapanen.

    "Saya berharap kopi lokal tidak hanya menjadi komoditas pelengkap, tetapi mampu berkembang menjadi produk unggulan daerah yang memiliki daya saing tinggi dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    DPRD Kabupaten Berau

    Kopi Berau Punya Kualitas Bersaing, DPRD Minta Pemda Lebih Aktif

    Seputarfakta.com - Baiq Eliana -

    DPRD Kabupaten Berau

    12 Mei 2026 08:47 WIB

    Ilustrasi kopi. (Foto: freepik)

    Tanjung Redeb - Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi menyoroti terkait meningkatnya tren konsumsi kopi serta menjamurnya kedai kopi di Berau. Menurutnya, hal ini seharusnya menjadi peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis perkebunan rakyat.

    "Potensi kopi lokal di Kabupaten Berau cukup besar tapi belum berkembang secara maksimal meski memiliki peluang pasar yang besar," ujar Sumadi.

    Oleh karena itu, dirinya pun meminta pemerintah daerah agar lebih aktif dalam mendukung petani dan pelaku usaha kopi agar mampu bersaing dan berkembang secara berkelanjutan.

    "Kalau pasarnya sudah ada dan kualitasnya sudah diakui, berarti masalahnya ada di dukungan dan pengelolaan," tuturnya.

    Ia pun menyebut hingga saat ini, sebagian besar kedai kopi di Berau masih mengandalkan pasokan biji kopi dari luar daerah. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pengembangan kopi lokal belum mendapat perhatian maksimal.

    "Persoalan utama bukan terletak pada kualitas kopi lokal, melainkan lemahnya pembinaan dan pengelolaan sektor hulu hingga hilir. Padahal, kopi asal Berau disebut telah menunjukkan kualitas yang mampu bersaing setelah meraih penghargaan dalam ajang lomba kopi beberapa waktu lalu," katanya. 

    Sementara itu, dirinya juga menyampaikan terkait regulasi mengenai hibah dan bantuan pemerintah yang mewajibkan petani tergabung dalam kelompok tani memang harus dipatuhi. Akan tetapi, pemerintah daerah dinilai tidak bisa hanya menunggu masyarakat membentuk kelompok tani secara mandiri.

    "Tanpa intervensi, petani akan kesulitan memenuhi persyaratan administrasi dan akhirnya tetap berjalan sendiri tanpa dukungan alat produksi maupun akses pemasaran," ujarnya.

    Selain itu, ia menyampaikan masih banyak petani kopi yang belum mampu memenuhi syarat administrasi sehingga kesulitan mengakses bantuan alat produksi, pelatihan, hingga pemasaran. Akibatnya, pengembangan usaha kopi rakyat berjalan sendiri-sendiri dan sulit berkembang secara berkelanjutan.

    "Saya minta pemerintah daerah agar lebih aktif turun ke lapangan untuk memfasilitasi pembentukan kelompok tani kopi sekaligus memperkuat pendampingan usaha," katanya.

    Sumadi pun mengusulkan adanya kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan perusahaan swasta dalam penyediaan lahan, sarana produksi, hingga fasilitas pascapanen.

    "Saya berharap kopi lokal tidak hanya menjadi komoditas pelengkap, tetapi mampu berkembang menjadi produk unggulan daerah yang memiliki daya saing tinggi dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)