Cari disini...

DPRD Kabupaten Berau
Anggota Komisi III DPRD Berau, Vitalisa Paulus Lette. (Foto: Istimewa)
Tanjung Redeb - DPRD Kabupaten Berau menyoroti kinerja Perusahaan Daerah (Perusda) yang dinilai belum menunjukkan kontribusi signifikan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Anggota Komisi III DPRD Berau, Vitalisa Paulus Lette, menilai sudah saatnya Perusda berani mengambil langkah besar dan berorientasi pada bisnis yang produktif serta menguntungkan bagi daerah.
"Harapan kami jangan orientasinya profit, tapi bisnisnya ecek-ecek. Masa untungnya cuma Rp4 juta? Itu bukan bisnis daerah, itu usaha warung kecil. Kita bicara PAD, bukan uang jajan," tegas Vitalis.
Menurutnya, kondisi fiskal daerah saat ini menuntut kemandirian keuangan yang lebih kuat, sebab dana transfer dari pemerintah pusat terus mengalami pemotongan. Untuk itu, peran BUMD seperti Perusda menjadi sangat penting dalam memperkuat kemandirian fiskal daerah.
"Kita tidak bisa terus bergantung pada dana transfer. Pemda butuh akselerasi PAD, dan salah satu jalannya adalah lewat Perusda yang betul-betul punya orientasi profit," terangnya.
Namun, dirinya pun menekankan bahwa untuk meraih keuntungan besar, Perusda harus memiliki dua kunci utama yakni modal yang cukup dan manajemen yang profesional.
"Tanpa keduanya, usaha yang dijalankan tidak akan berkembang optimal," tambahnya.
Ia mencontohkan, apabila Perusda berencana mengembangkan bisnis perkebunan sawit, maka perencanaan harus dilakukan secara detail dan terukur sejak awal.
"Kalau mau 1.000 hektare, hitung dulu. Pembersihan, bibit, dan operasional mungkin Rp60 juta per hektare. Berarti butuh Rp60 miliar. Tapi potensi panen bisa Rp40-50 miliar per tahun. Itu baru bicara bisnis," ujarnya.
Menurutnya, Perusda tidak harus langsung membuka lahan besar. Cukup memulai dari pilot project 200 hektare terlebih dahulu, kemudian dievaluasi.
"Jika hasilnya baik, baru dilakukan ekspansi bertahap," tuturnya.
Selain permodalan, aspek tata kelola dan kemampuan manajerial juga menjadi perhatian serius. Ia menilai lemahnya kemampuan dalam mengelola bisnis menjadi penyebab utama minimnya kontribusi Perusda terhadap PAD.
"Kalau uang masuk tapi tidak dikelola dengan baik, ya habis juga. Harus ada yang paham bisnis, tahu cara memimpin, mengatur arus keuangan, dan membaca peluang," tegasnya.
Oleh karena itu, dirinya pun mendorong agar Perusda berani menggandeng tenaga ahli atau konsultan bisnis profesional, meski bersifat sementara, untuk membantu menyusun strategi usaha yang realistis dan berorientasi profit.
Ia menegaskan bahwa DPRD Berau, siap mendukung penyertaan modal besar kepada Perusda, asalkan disertai rencana bisnis yang matang dan transparan.
"Kalau mau minta Rp100 miliar, tapi datanya jelas, ya kita dukung. Tapi kalau cuma minta tanpa arah, ya jangan harap," ujarnya.
Dirinya menekankan bahwa kepemimpinan dalam BUMD harus berani bertanggung jawab atas kinerja yang dihasilkan.
"Pemimpin bisnis harus tahu kapan bertahan dan kapan berubah arah," sindirnya.
Dengan tata kelola yang profesional dan strategi bisnis yang tepat, Vitalis optimistis Perusda dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah serta berkontribusi besar terhadap PAD.
"Jangan puas dengan laba kecil. Kita bicara daerah, bukan kios pribadi. Kalau semua pihak serius, PAD Berau bisa melonjak tajam," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

DPRD Kabupaten Berau

Anggota Komisi III DPRD Berau, Vitalisa Paulus Lette. (Foto: Istimewa)
Tanjung Redeb - DPRD Kabupaten Berau menyoroti kinerja Perusahaan Daerah (Perusda) yang dinilai belum menunjukkan kontribusi signifikan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Anggota Komisi III DPRD Berau, Vitalisa Paulus Lette, menilai sudah saatnya Perusda berani mengambil langkah besar dan berorientasi pada bisnis yang produktif serta menguntungkan bagi daerah.
"Harapan kami jangan orientasinya profit, tapi bisnisnya ecek-ecek. Masa untungnya cuma Rp4 juta? Itu bukan bisnis daerah, itu usaha warung kecil. Kita bicara PAD, bukan uang jajan," tegas Vitalis.
Menurutnya, kondisi fiskal daerah saat ini menuntut kemandirian keuangan yang lebih kuat, sebab dana transfer dari pemerintah pusat terus mengalami pemotongan. Untuk itu, peran BUMD seperti Perusda menjadi sangat penting dalam memperkuat kemandirian fiskal daerah.
"Kita tidak bisa terus bergantung pada dana transfer. Pemda butuh akselerasi PAD, dan salah satu jalannya adalah lewat Perusda yang betul-betul punya orientasi profit," terangnya.
Namun, dirinya pun menekankan bahwa untuk meraih keuntungan besar, Perusda harus memiliki dua kunci utama yakni modal yang cukup dan manajemen yang profesional.
"Tanpa keduanya, usaha yang dijalankan tidak akan berkembang optimal," tambahnya.
Ia mencontohkan, apabila Perusda berencana mengembangkan bisnis perkebunan sawit, maka perencanaan harus dilakukan secara detail dan terukur sejak awal.
"Kalau mau 1.000 hektare, hitung dulu. Pembersihan, bibit, dan operasional mungkin Rp60 juta per hektare. Berarti butuh Rp60 miliar. Tapi potensi panen bisa Rp40-50 miliar per tahun. Itu baru bicara bisnis," ujarnya.
Menurutnya, Perusda tidak harus langsung membuka lahan besar. Cukup memulai dari pilot project 200 hektare terlebih dahulu, kemudian dievaluasi.
"Jika hasilnya baik, baru dilakukan ekspansi bertahap," tuturnya.
Selain permodalan, aspek tata kelola dan kemampuan manajerial juga menjadi perhatian serius. Ia menilai lemahnya kemampuan dalam mengelola bisnis menjadi penyebab utama minimnya kontribusi Perusda terhadap PAD.
"Kalau uang masuk tapi tidak dikelola dengan baik, ya habis juga. Harus ada yang paham bisnis, tahu cara memimpin, mengatur arus keuangan, dan membaca peluang," tegasnya.
Oleh karena itu, dirinya pun mendorong agar Perusda berani menggandeng tenaga ahli atau konsultan bisnis profesional, meski bersifat sementara, untuk membantu menyusun strategi usaha yang realistis dan berorientasi profit.
Ia menegaskan bahwa DPRD Berau, siap mendukung penyertaan modal besar kepada Perusda, asalkan disertai rencana bisnis yang matang dan transparan.
"Kalau mau minta Rp100 miliar, tapi datanya jelas, ya kita dukung. Tapi kalau cuma minta tanpa arah, ya jangan harap," ujarnya.
Dirinya menekankan bahwa kepemimpinan dalam BUMD harus berani bertanggung jawab atas kinerja yang dihasilkan.
"Pemimpin bisnis harus tahu kapan bertahan dan kapan berubah arah," sindirnya.
Dengan tata kelola yang profesional dan strategi bisnis yang tepat, Vitalis optimistis Perusda dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah serta berkontribusi besar terhadap PAD.
"Jangan puas dengan laba kecil. Kita bicara daerah, bukan kios pribadi. Kalau semua pihak serius, PAD Berau bisa melonjak tajam," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)