Cari disini...

Seputarfakta.com - Baiq Eliana -
DPRD Kabupaten Berau
Anggota Komisi III DPRD Berau, Oktavia. (Foto:Baiq Eliana/Seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Minimnya fasilitas kegiatan yang dapat diakses oleh generasi muda dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat remaja di Kabupaten Berau rentan terjerumus dalam pergaulan negatif.
Selama ini, persoalan tersebut kerap dikaitkan dengan lemahnya pengawasan keluarga. Namun Anggota Komisi III DPRD Berau, Oktavia menilai permasalahan tersebut perlu dilihat secara lebih luas.
Menurutnya perkembangan sosial remaja yang semakin terbuka seiring kemajuan teknologi dan pengaruh pergaulan global membutuhkan dukungan lingkungan yang sehat serta ruang aktivitas yang positif.
"Sebelum menyalahkan anak atau orang tua, kita harus melihat situasi di sekitar. Berapa banyak ruang publik, pusat kreativitas, atau fasilitas olahraga yang benar-benar bisa diakses remaja secara gratis," ujarnya.
Ia pun mengatakan bahwa keterbatasan pilihan aktivitas produktif membuat sebagian remaja kesulitan menyalurkan energi, minat, dan kreativitas mereka.
"Ketika remaja tidak memiliki wadah untuk menyalurkan energi, minat dan kreativitas, maka mereka cenderung mencari alternatif lain yang belum tentu positif," jelasnya.
Menurutnya kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko keterlibatan remaja dalam berbagai bentuk pergaulan negatif. Oleh karena itu, ia juga menilai langkah pencegahan tidak cukup hanya melalui imbauan moral atau pengawasan ketat dari keluarga.
"Pencegahan seharusnya tidak hanya berbentuk imbauan moral atau pengawasan ketat, tetapi juga melalui penyediaan ekosistem kegiatan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda," katanya.
Dirinya menyebut, program pembinaan berbasis minat seperti pelatihan seni, olahraga, komunitas kreatif hingga kewirausahaan remaja dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang. Selain membangun karakter, kegiatan tersebut juga berpotensi membuka peluang prestasi dan kemandirian ekonomi sejak usia muda.
"Kita tidak bisa hanya menuntut pengawasan tanpa memberi mereka pilihan aktivitas yang sehat," tegasnya.
Untuk itu, Oktavia mendorong pemerintah daerah agar lebih serius menghadirkan ruang publik ramah remaja di setiap kecamatan, tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.
"Harus ada sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah. Sebab menjaga generasi muda tidak cukup hanya dengan larangan," tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...

Seputarfakta.com - Baiq Eliana -
DPRD Kabupaten Berau

Anggota Komisi III DPRD Berau, Oktavia. (Foto:Baiq Eliana/Seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Minimnya fasilitas kegiatan yang dapat diakses oleh generasi muda dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat remaja di Kabupaten Berau rentan terjerumus dalam pergaulan negatif.
Selama ini, persoalan tersebut kerap dikaitkan dengan lemahnya pengawasan keluarga. Namun Anggota Komisi III DPRD Berau, Oktavia menilai permasalahan tersebut perlu dilihat secara lebih luas.
Menurutnya perkembangan sosial remaja yang semakin terbuka seiring kemajuan teknologi dan pengaruh pergaulan global membutuhkan dukungan lingkungan yang sehat serta ruang aktivitas yang positif.
"Sebelum menyalahkan anak atau orang tua, kita harus melihat situasi di sekitar. Berapa banyak ruang publik, pusat kreativitas, atau fasilitas olahraga yang benar-benar bisa diakses remaja secara gratis," ujarnya.
Ia pun mengatakan bahwa keterbatasan pilihan aktivitas produktif membuat sebagian remaja kesulitan menyalurkan energi, minat, dan kreativitas mereka.
"Ketika remaja tidak memiliki wadah untuk menyalurkan energi, minat dan kreativitas, maka mereka cenderung mencari alternatif lain yang belum tentu positif," jelasnya.
Menurutnya kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko keterlibatan remaja dalam berbagai bentuk pergaulan negatif. Oleh karena itu, ia juga menilai langkah pencegahan tidak cukup hanya melalui imbauan moral atau pengawasan ketat dari keluarga.
"Pencegahan seharusnya tidak hanya berbentuk imbauan moral atau pengawasan ketat, tetapi juga melalui penyediaan ekosistem kegiatan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda," katanya.
Dirinya menyebut, program pembinaan berbasis minat seperti pelatihan seni, olahraga, komunitas kreatif hingga kewirausahaan remaja dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang. Selain membangun karakter, kegiatan tersebut juga berpotensi membuka peluang prestasi dan kemandirian ekonomi sejak usia muda.
"Kita tidak bisa hanya menuntut pengawasan tanpa memberi mereka pilihan aktivitas yang sehat," tegasnya.
Untuk itu, Oktavia mendorong pemerintah daerah agar lebih serius menghadirkan ruang publik ramah remaja di setiap kecamatan, tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.
"Harus ada sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah. Sebab menjaga generasi muda tidak cukup hanya dengan larangan," tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)