DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Berau Soroti Krisis Layanan Kesehatan di Kampung Perbatasan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    20 Februari 2026 pukul 17:49 WITA

    Anggota Komisi I DPRD Berau, Feri Kombong. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Minimnya sarana kesehatan dan tenaga medis di kampung-kampung perbatasan Kabupaten Berau kembali menjadi sorotan. Kondisi ini dikhawatirkan menghambat upaya peningkatan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah terpencil.

    Anggota Komisi I DPRD Berau, Feri Kombong, menekankan bahwa pemerintah daerah harus segera menambah fasilitas dan tenaga medis, termasuk ambulans dan bidan di wilayah perbatasan. Yang mana ia pun menilai untuk kebutuhan pelayanan tersebut cukup mendesak terutama di kampung maluang yang terletak di jalan poros Kabupaten Berau-Bulungan.

    "Kami meminta diberikan satu ambulans khusus untuk Puskesmas Pembantu (Pustu) perbatasan. Karena ini sangat jauh di sana, sehingga ketika terjadi emergensi tidak ada kendaraan untuk merujuk," ujar Feri.

    Selain itu, ia pun menyoroti kekurangan tenaga medis. Dimana, ia menyebut, di beberapa Pustu hanya ada satu perawat, sementara satu bidan harus melayani beberapa Pustu sekaligus. Hal ini jelas menyulitkan pelayanan kesehatan yang optimal.

    "Tenaga medis juga masih sangat kurang. Di sana ada perawatnya satu, cuma bidan yang tidak cukup. Satu bidan bahkan bisa melayani beberapa Pustu yang ada di Kecamatan Gunung Tabur," jelasnya.

    Oleh karena itu, dirinya menekankan kondisi ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah untuk memastikan akses layanan kesehatan yang memadai, terutama di wilayah terpencil.

    Ia pun mengaku dalam rapat sebelumnya, DPRD juga sempat mengusulkan penempatan pasangan suami istri sebagai tenaga medis di wilayah terpencil agar mereka lebih betah bertugas.

    "Kalau bisa cari yang suami istri. Istrinya bidan, suaminya perawat, biar betah di sana," tambahnya.

    Feri berharap pemerintah daerah segera menindaklanjuti persoalan ini, agar akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya di kampung terpencil, dapat berjalan lancar dan merata.

    "Saya berharap kondisi tersebut dapat secepatnya diselesaikan oleh pemerintah daerah agar pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat berjalan dengan optimal, terutama di wilayah yang jauh dari perkotaan," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Berau Soroti Krisis Layanan Kesehatan di Kampung Perbatasan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    20 Februari 2026 pukul 17:49 WITA

    Anggota Komisi I DPRD Berau, Feri Kombong. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Minimnya sarana kesehatan dan tenaga medis di kampung-kampung perbatasan Kabupaten Berau kembali menjadi sorotan. Kondisi ini dikhawatirkan menghambat upaya peningkatan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah terpencil.

    Anggota Komisi I DPRD Berau, Feri Kombong, menekankan bahwa pemerintah daerah harus segera menambah fasilitas dan tenaga medis, termasuk ambulans dan bidan di wilayah perbatasan. Yang mana ia pun menilai untuk kebutuhan pelayanan tersebut cukup mendesak terutama di kampung maluang yang terletak di jalan poros Kabupaten Berau-Bulungan.

    "Kami meminta diberikan satu ambulans khusus untuk Puskesmas Pembantu (Pustu) perbatasan. Karena ini sangat jauh di sana, sehingga ketika terjadi emergensi tidak ada kendaraan untuk merujuk," ujar Feri.

    Selain itu, ia pun menyoroti kekurangan tenaga medis. Dimana, ia menyebut, di beberapa Pustu hanya ada satu perawat, sementara satu bidan harus melayani beberapa Pustu sekaligus. Hal ini jelas menyulitkan pelayanan kesehatan yang optimal.

    "Tenaga medis juga masih sangat kurang. Di sana ada perawatnya satu, cuma bidan yang tidak cukup. Satu bidan bahkan bisa melayani beberapa Pustu yang ada di Kecamatan Gunung Tabur," jelasnya.

    Oleh karena itu, dirinya menekankan kondisi ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah untuk memastikan akses layanan kesehatan yang memadai, terutama di wilayah terpencil.

    Ia pun mengaku dalam rapat sebelumnya, DPRD juga sempat mengusulkan penempatan pasangan suami istri sebagai tenaga medis di wilayah terpencil agar mereka lebih betah bertugas.

    "Kalau bisa cari yang suami istri. Istrinya bidan, suaminya perawat, biar betah di sana," tambahnya.

    Feri berharap pemerintah daerah segera menindaklanjuti persoalan ini, agar akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya di kampung terpencil, dapat berjalan lancar dan merata.

    "Saya berharap kondisi tersebut dapat secepatnya diselesaikan oleh pemerintah daerah agar pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat berjalan dengan optimal, terutama di wilayah yang jauh dari perkotaan," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)