DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Berau Apresiasi Inovasi Batik Berbahan Sejenis Urea, Tekankan Uji Keamanan dan Rekomendasi BPOM

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    27 Februari 2026 pukul 14:04 WITA

    Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P Mangunsong. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Terobosan baru datang dari pengrajin Kampung Panaan, Kabupaten Berau. Inovasi batik yang menggunakan bahan sejenis urea sebagai pewarna mendapat apresiasi sekaligus perhatian dari DPRD Berau.

    Kreativitas tersebut dinilai sebagai terobosan baru, namun tetap harus mengedepankan aspek keamanan.

    Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P Mangunsong mengatakan inovasi yang lahir dari masyarakat patut didukung karena menunjukkan berkembangnya sektor ekonomi kreatif di daerah.

    "Idenya bagus dan kreatif. Artinya ada inovasi dari masyarakat. Ini tentu kita apresiasi," ujar Rudi.

    Ia mengingatkan penggunaan bahan kimia dalam produk yang digunakan masyarakat tidak boleh dilakukan tanpa dasar penelitian yang jelas. Terlebih, kain batik akan bersentuhan langsung dengan kulit.

    "Tetap perlu dilakukan uji kelayakan atau uji laboratorium terlebih dahulu. Penggunaan bahan kimia dalam produk yang digunakan masyarakat harus memiliki dasar penelitian yang jelas," tegasnya.

    Ia pun menekankan pentingnya rekomendasi dari lembaga berwenang seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan bahan yang digunakan benar-benar aman.

    "Selain itu dinas teknis di lingkungan pemerintah daerah harus turut melakukan pendampingan serta analisis terhadap proses produksi batik tersebut," tambahnya.

    Menurutnya kajian dari instansi terkait sangat diperlukan guna memastikan inovasi tersebut agar tidak menimbulkan dampak kesehatan di kemudian hari.

    "Kami mendorong adanya kajian dari instansi terkait agar tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan," katanya.

    Apabila hasil penelitian menyatakan teknik pewarnaan tersebut aman, maka batik Kampung Panaan berpotensi menjadi produk unggulan baru di Berau dan memperkuat daya tarik sektor ekonomi kreatif, bahkan bagi wisatawan.

    "Kalau memang sudah ada penelitian dan dinyatakan aman, tentu ini bisa menjadi nilai lebih bagi batik lokal kita," tuturnya.

    Rudi berharap seluruh inovasi yang lahir dari masyarakat tetap berjalan seiring dengan standar keamanan dan kualitas produk, sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas tanpa mengesampingkan keselamatan konsumen.

    "Kita ingin produk kita dikenal tidak hanya di daerah sendiri, tapi kalau bisa bersaing di pasar Internasional. Jadi kita harus menekankan kualitas dan keamanan dari produk itu sendiri, tanpa mengorbankan kesehatan konsumen," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Kabupaten Berau

    DPRD Berau Apresiasi Inovasi Batik Berbahan Sejenis Urea, Tekankan Uji Keamanan dan Rekomendasi BPOM

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    27 Februari 2026 pukul 14:04 WITA

    Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P Mangunsong. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Terobosan baru datang dari pengrajin Kampung Panaan, Kabupaten Berau. Inovasi batik yang menggunakan bahan sejenis urea sebagai pewarna mendapat apresiasi sekaligus perhatian dari DPRD Berau.

    Kreativitas tersebut dinilai sebagai terobosan baru, namun tetap harus mengedepankan aspek keamanan.

    Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P Mangunsong mengatakan inovasi yang lahir dari masyarakat patut didukung karena menunjukkan berkembangnya sektor ekonomi kreatif di daerah.

    "Idenya bagus dan kreatif. Artinya ada inovasi dari masyarakat. Ini tentu kita apresiasi," ujar Rudi.

    Ia mengingatkan penggunaan bahan kimia dalam produk yang digunakan masyarakat tidak boleh dilakukan tanpa dasar penelitian yang jelas. Terlebih, kain batik akan bersentuhan langsung dengan kulit.

    "Tetap perlu dilakukan uji kelayakan atau uji laboratorium terlebih dahulu. Penggunaan bahan kimia dalam produk yang digunakan masyarakat harus memiliki dasar penelitian yang jelas," tegasnya.

    Ia pun menekankan pentingnya rekomendasi dari lembaga berwenang seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan bahan yang digunakan benar-benar aman.

    "Selain itu dinas teknis di lingkungan pemerintah daerah harus turut melakukan pendampingan serta analisis terhadap proses produksi batik tersebut," tambahnya.

    Menurutnya kajian dari instansi terkait sangat diperlukan guna memastikan inovasi tersebut agar tidak menimbulkan dampak kesehatan di kemudian hari.

    "Kami mendorong adanya kajian dari instansi terkait agar tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan," katanya.

    Apabila hasil penelitian menyatakan teknik pewarnaan tersebut aman, maka batik Kampung Panaan berpotensi menjadi produk unggulan baru di Berau dan memperkuat daya tarik sektor ekonomi kreatif, bahkan bagi wisatawan.

    "Kalau memang sudah ada penelitian dan dinyatakan aman, tentu ini bisa menjadi nilai lebih bagi batik lokal kita," tuturnya.

    Rudi berharap seluruh inovasi yang lahir dari masyarakat tetap berjalan seiring dengan standar keamanan dan kualitas produk, sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas tanpa mengesampingkan keselamatan konsumen.

    "Kita ingin produk kita dikenal tidak hanya di daerah sendiri, tapi kalau bisa bersaing di pasar Internasional. Jadi kita harus menekankan kualitas dan keamanan dari produk itu sendiri, tanpa mengorbankan kesehatan konsumen," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)