Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur

    Selama 3 Tahun Terakhir, BPBD Catat  Ada 631 Kejadian Karhutla di Kaltim

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    18 Oktober 2023 pukul 19:58 WITA

    Rapat Koordinasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam tiga tahun terakhir, terhitung sejak 2021 hingga 2023  mencapai 631 kejadian.

    Karhutla di tahun 2023 per Oktober ini kejadian sebanyak 550, ini menjadi angka terbesar dalam tiga tahun ini. Jika dibandingkan pada tahun 2021 Karhutla menyentuh angka 52, sedangkan tahun 2022 hanya 30 kejadian Karhutla.

    Dilihat dalam sebaran kejadian kasus di 10 kabupaten/kota pada tahun 2023, Kabupaten Paser teratas dengan 150 kejadian, disusul Penajam Paser Utara 81, Kutai Kartanegara 79, Berau 64, Kutai Barat 54, Samarinda 49, Balikpapan 31, Kutai Timur 23, Bontang 15 dan Mahakam Ulu 4.

    Kepala BPBD Kaltim, Agus Tianur mengakui, dengan banyaknya kejadian tersebut, pihaknya mampu mengantisipasi dengan baik.  Menurutnya, ini berkat ditetapkan Surat Keputusan Gubernur Kaltim yang diterbitkan pada 21 Agustus 2023 dengan Nomor: 100.3.3.1/K.620/2023, tentang Penetapan status keadaan siaga bencana kekeringan, karhutla.

    "Kami tak lepas kerjasama antara TNI-Polri, PMI, Disdamkar, serta stakeholder lainnya. Dengan ini kami bersama-sama menangani Karhutla ini," ungkap Agus Tianur saat Rapat Koordinasi di Halaman Kantor BPBD Kaltim, Samarinda, Rabu (18/10/2023).

    Hasil evaluasi, kata dia, relatif mampu dikendalikan. Adapun faktor penyebab sulitnya pengendalian titik api pada kasus karhutla ini karena cuaca ekstrem di Kaltim.

    "Selain itu, akses pada titik api juga menjadi kendala kami, sehingga kita evaluasi apa saja kekurangan kita untuk dilakukan perbaikan," tambahnya.

    Agus juga mengapresiasi kinerja dari kolaborator penanganan Karhutla ini. "Mereka  dengan sigap membantu proses pengendalian api dan hampir di setiap kasus mereka selalu hadir. Tidak hanya pas kejadian, juga saat proses mitigasi," pungkasnya.

    Pengendalian ini akan terus dilakukan, walaupun cuaca saat ini sudah memasuki musim penghujan, sehingga cukup membantu dalam proses penanganan.

    (Adv/MF/diskominfokaltim)

    Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur

    Selama 3 Tahun Terakhir, BPBD Catat  Ada 631 Kejadian Karhutla di Kaltim

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    18 Oktober 2023 pukul 19:58 WITA

    Rapat Koordinasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam tiga tahun terakhir, terhitung sejak 2021 hingga 2023  mencapai 631 kejadian.

    Karhutla di tahun 2023 per Oktober ini kejadian sebanyak 550, ini menjadi angka terbesar dalam tiga tahun ini. Jika dibandingkan pada tahun 2021 Karhutla menyentuh angka 52, sedangkan tahun 2022 hanya 30 kejadian Karhutla.

    Dilihat dalam sebaran kejadian kasus di 10 kabupaten/kota pada tahun 2023, Kabupaten Paser teratas dengan 150 kejadian, disusul Penajam Paser Utara 81, Kutai Kartanegara 79, Berau 64, Kutai Barat 54, Samarinda 49, Balikpapan 31, Kutai Timur 23, Bontang 15 dan Mahakam Ulu 4.

    Kepala BPBD Kaltim, Agus Tianur mengakui, dengan banyaknya kejadian tersebut, pihaknya mampu mengantisipasi dengan baik.  Menurutnya, ini berkat ditetapkan Surat Keputusan Gubernur Kaltim yang diterbitkan pada 21 Agustus 2023 dengan Nomor: 100.3.3.1/K.620/2023, tentang Penetapan status keadaan siaga bencana kekeringan, karhutla.

    "Kami tak lepas kerjasama antara TNI-Polri, PMI, Disdamkar, serta stakeholder lainnya. Dengan ini kami bersama-sama menangani Karhutla ini," ungkap Agus Tianur saat Rapat Koordinasi di Halaman Kantor BPBD Kaltim, Samarinda, Rabu (18/10/2023).

    Hasil evaluasi, kata dia, relatif mampu dikendalikan. Adapun faktor penyebab sulitnya pengendalian titik api pada kasus karhutla ini karena cuaca ekstrem di Kaltim.

    "Selain itu, akses pada titik api juga menjadi kendala kami, sehingga kita evaluasi apa saja kekurangan kita untuk dilakukan perbaikan," tambahnya.

    Agus juga mengapresiasi kinerja dari kolaborator penanganan Karhutla ini. "Mereka  dengan sigap membantu proses pengendalian api dan hampir di setiap kasus mereka selalu hadir. Tidak hanya pas kejadian, juga saat proses mitigasi," pungkasnya.

    Pengendalian ini akan terus dilakukan, walaupun cuaca saat ini sudah memasuki musim penghujan, sehingga cukup membantu dalam proses penanganan.

    (Adv/MF/diskominfokaltim)